Cahaya Aneh…

Bukan fenomena alam seperti yang terjadi belakangan ini, cahaya pirus / spiral mengerikan terlihat di langit Norwegia. Cahaya misterius itu disebut-sebut adalah dari UFO atau tes rudal.

Institut metrologi Norwegia telah menerima ratusan telepon dari masyarakat yang kebingungan, tapi sejauh ini belum bisa mengidentifikasi asal-usulnya.

Beberapa ahli berspekulasi bahwa fenomena itu mungkin disebabkan oleh peluncuran roket Rusia. Namun, Kedutaan Rusia menegaskan klaim seperti itu sama sekali tidak berdasar.

Petugas meteorologi, astronom, dan angkatan bersenjata belum bisa menawarkan penjelasan menyngkut masalah tersebut.

cuplikan videonya yg coba diambil.

Cahaya itu ditangkap oleh fotografer amatir Jan Petter Jorgensen saat ia dalam perjalanan menuju tempat bekerja di sebuah pabrik salmon.

“Cahaya muncul selama 2-3 menit. Aku tidak percaya dengan mata saya, dan cukup menggigil dan terguncang oleh itu”, kata Jorgensen.

Morten Kristiansen, yang melihat fenomena cahaya dari Sortland di utara Norwegia, menambahkan, “Sebuah cincin besar muncul, dan kemudian menyebar keluar, mengirimkan berkas hijau turun ke bumi,” katanya.

saat ini masih dalam penyelidikan. smoga infonya bermanfaat.

source :

http://gizmodo.com/5422574/giant-mys…kies-of-norway

Israel Gunakan Facebook Sebagai Alat Mata-Mata Dunia

Inilah perkembangan laporan tentang Facebook. Situs jejaring sosial itu, jelas-jelas disinyalir sebagai alat Israel untuk memata-matai orang-orang Islam dan mendapatkan informasi yang berharga mengenainya. Seperti kita ketahui, di Facebook, para penggunanya bisa memperbaharui status mereka atau posting foto keluarga.

Menurut Indonésie Magazine yang berbasis di Prancis, intelijen Israel fokus pada pengguna Facebook, terutama kepada Arab dan Muslim. Israel menggunakan informasi yang diperoleh melalui halaman Facebook mereka itu untuk menganalisis aktivitas mereka dan memahami bagaimana mereka berpikir. Duta besar Israel di Paris menuduh majalah ini dengan “mengungkapkan rahasia bagi musuh.”

Facebook merupakan aktivitas rahasia Israel yang ditemukan pada Mei 2001. Gerard Niroux, Profesor Psikologi di Universitas Provence Prancis yang juga menulis buku The Dangers of The Internet, berkata. “Facebook adalah sebuah jaringan intelijen Israel yang terdiri dari psikolog yang memikat para pemuda dari dunia Arab, terutama dari negara-negara yang terletak di dalam jangkauan konflik Israel-Palestina di samping negara-negara di Amerika Latin,”

Niroux mengatakan sejumlah besar orang-orang menggunakan situs jejaring itu untuk bertemu orang lain dan itu sebenarnya tidak aman. “Sangat mudah untuk memata-matai orang menggunakan perempuan,” katanya kepada majalah itu.

Ini bukan pertama kalinya Israel dituduh menggunakan Facebook untuk memata-matai orang. Pada bulan April 2008 surat kabar Yordania Al-Haqiqah al-Dawliya menerbitkan sebuah artikel berjudul “The Hidden Enemy” membuat klaim yang sama.

Koran itu menyatakan bahwa sangat berbahaya bagi khususnya kaum muda, yang seringkali mengungkapkan data pribadi tentang diri mereka di Facebook karena itu merupakan semua hal yang bisa diketahui oleh orang lain dengan mudah. Nah, Facebook tentunya tidak menemukan kesulitan itu, karena seperti kita ketahui, umat Islam dan generasi mudanya, secara berbondong-bondong pro-aktif berkelayapan di situs ini, bahkan sekadar untuk meng-up-date status yang lagi makan mie ayam atau mungkin ke kamar mandi.

Sumber: http://eramuslim.com/berita/dunia/israel-gunakan-facebook-sebagai-alat-mata-mata-pemuda-muslim.htm

Sebuah Bintang Cinta

Diantara jutaan kerlip bintang yang menghiasi getar hati setiap insan, sepasang bola mataku berusaha menatap satu bintang yang begitu gemerlap. Dengan segala pesonanya, kemewahannya, kelembutannya dan cahayanya, bintang itu berusaha kuhadirkan di hati. Kubayangkan bintang itu memeluk tubuhku dan membawaku pada sebuah bukit pengharapan. Pengharapan akan sebuah cinta yang murni.

Di langit yang kelam, hitam dan gulita, lautan bintang hadir di hidupku. Memberikan juntai warna-warni napas yang beraroma beda. Aroma kefanaan, fatamorgana, kepiluan, ketidakberdayaan, kesedihan, rasa kecewa, putus asa dan aroma pengharapan yang terselimuti dusta. Betapa banyak bintang yang berlabuh dihatiku. Memberi goresan dan bumbu-bumbu kehidupan. Keresahan, bahagia, kemelut dilema juga derai air mata seakan membalut keping-keping jiwaku. Dan, diantara banyak bintang yang mewarnai bumbu hatiku, ada sebuah bintang yang paling menyenangkan. Sehingga, kuberi nama bintang itu… CINTA. 

***
Ya, kehidupan memang hanya sekejap. Bagaikan setetes air di antara samudera yang begitu luas. Ditengah pendeknya hidup, berdirilah aku. Dengan berbagai senyum, tawa dan aktivitas. Waktu…detik demi detik telah hilang dari hidupku. Hingga muncul masa balita, kanak-kanak dan kini aku berdiri sebagai seorang remaja yang mencari sebuah kesejukkan.

Masih ingat dibenakku tentang pencarian sebuah bintang cinta. Aku, dengan segala keterbatasan dan kelemahan seakan merayap penuh kegetiran hanya untuk meraih sebuah bintang cinta. Banyak pengorbanan yang harus diikhlaskan. Mulai dari hedonisme kehidupan, lirikkan panah syetan hingga senyum hawa nafsu. Hal itu harus selalu dikerjakan hanya untuk mengharapkan sebuah cinta. Cinta yang meneduhkan dan menenggelamkan pada kedamaian. Bagiku, hal itulah yang paling menggairahkan dalam hidup ini. Meraih cinta dari sang pemilik jagat raya.

Meski jatuh dan terbangun, aku berusaha untuk tetap bertahan. Kedamaian yang begitu nikmat semacam ini terasa sungguh menggoda. Air mata kelemahan yang dulu muncul sebagai caci dan hina, kini berusaha kuhadirkan sebagai kasih dan rinduNya. Betapa indahnya bintang cintaNya. Namun, sayangnya banyak orang yang tak mampu melihat bintang yang paling terang ini. mata mereka tertutup oleh tumpukkan debu-debu dosa. Namun, karena izin sang Rabb-lah cahaya bintang mewah itu mampu hadir di hati pilihanNya.
Bagiku, perjuangan inilah yang paling menyenangkan. Meskipun lelah, penuh problematika dan sulit untuk ditempuh, namun…ini yang paling mengasyikkan. Meskipun banyak kerikil dan batu-batu besar yang menghadang, namun aku akan senantiasa berusaha untuk menyingkirkannya. Banyak sahabat-sahabat seperjuangan yang akan membantuku. Kami akan saling menyemangati, saling menghapus air mata ketika dilema menghampiri dan saling memotivasi untuk meraih bintang cinta itu.
Aku yang seperti inilah yang paling menyenangkan dalam hidup yang sekejap ini. Saling berbagi dalam kebaikkan, saling bahu-membahu dan saling menguatkan. Sungguh begitu indah. Perjalanan yang “bahaya” pun akan dilalui dengan derai senyum yang sangat menawan. Perjalanan yang berliku, terjal dan panjang ini akan kami lewati dengan senandung-senandung bahagia. Dan, aku sungguh menyukainya.
Mungkin, usiaku tak akan sampai pada akhir tujuan perjalananku. Namun, itu bukanlah suatu masalah, bukankah Alloh tidak melihat hasilnya tapi melihat dari prosesnya? Berusaha kutabahkan diri sebagai bekal perjalanan bersama sahabat-sahabatku yang begitu baik, ramah dan peduli kepada sesama.
Bagiku, awal pertemuan dengan pencarian bintang cinta adalah hal yang begitu indah dan tak mampu kulupakan. Awal-awal kehidupanku yang penuh keambiguitasan seakan tercopot dari punggungku. Entah apa alasannya mengapa aku bisa mengenal jalan yang penuh nikmatNya ini. Aku tak faham. Namun, aku yakin ada kuasa Alloh yang mengatur semua jalinan skenario hidupku. Hingga, akhirnya aku bermuara pada sebuah perjuangan.

***
Masih segar diotakku tentang sebuah kenangan yang tak mungkin berdebu. Masa-masa SMA adalah awal metamorfosa “topeng” diwajahku. Kuucapkan selamat tinggal pada kenangan-kenangan kusam dahulu yang melekat di hati. Berusaha kutempatkan kenangan-kenangan itu sebagai sumber hikmah dan semangat. Akupun mulai melaju. Bersama kekondusifan lingkunganku, aku mulai menjabat sebuah tangan perjuangan. Kasarnya tangan perjuangan tak sebanding dengan kehangatan dan kenyamanan yang ditimbulkannya.
Aku, disini masih selalu berusaha untuk selalu menatap satu bintang yang begitu gemerlap. Sebuah bintang cinta yang indah, damai dan hangat. Sebuah bintang yang sangat berbeda dengan bintang-bintang yang lain.
Aku ingat sebuah lirik lagu nasyid Hawari yang begitu menginspirasi.
“Kuharap padamu Tuhan…
engkaulah cintaku…


Tuhanku…
kuharap selalu cintaku hanya untukmu…
Tuhanku…
balas cintaku…
Semoga Engkau terima…”
Betapa indahnya hidup jika cinta ini senantiasa berlabuh pada cintaNya. Berdasar pada itulah, aku berusaha untuk ikut dalam barisan perjalanan. Meskipun sekali lagi, jalan yang kulalui adalah ranjau, berbatu dan banyak lubang, namun bukankah jalan menuju cintaNya tak semulus jalan menuju benciNya?
Akupun ingat kembali tentang kenangan indah masa SMA-ku yang menawan. Tentang awal semangat yang meluap-luap dan bara motivasi untuk bisa mengabdi bagi agama, umat dan bangsa. Dan, atas jalan hidayahNya-lah semangat magis itu hadir dihatiku. Mewarnai kalbuku dan merasuki impianku. Sungguh menyenangkan dan mengasyikkan. Di jalan ini aku berkawan dan di jalan ini pula aku berazzam.
Oh, inilah hal yang paling memukau dalam hidupku. Harta berlimpah, kecantikkan dunia, bahkan lautan kehedonismean seakan pudar oleh terangnya bintang itu. Indah sekali. Meskipun sulit untuk menjangkau bintang itu karena hanya orang yang dipilihNya lah yang mampu meraih bintang cinta, aku tak akan putus asa, tapi aku akan tetap berusaha. Jikalau aku letih, ada teman-teman yang akan menyemangatiku. Ketika ragu, akan ada motivasi yang senantiasa mendorongku agar berjalan terus di sini. Di jalan perjuangan ini.

***
Aku, diantara luapan rindu padaNya akan senantiasa menatap kerlip bintang terterang. Banyak cara yang dapat dipakai untuk meraih bintang itu. Mulai dari menebar benih kebaikkan disekitarku hingga tersenyum ikhlas. Ya, aku yakin banyak cara untuk meraih bintang yang paling indah dan memesona dibanding bintang-bintang lainnya itu.
Kebersamaan dengan sahabat-sahabat yang akhlaknya baikpun adalah salah satu hal yang paling kugemari. Setiap kali aku bersama mereka, akan ada ilmu yang mengalir dan meresap keotakku. Lalu, akan banyak kata-kata motivasi yang kudengar. Diantara orang-orang baik seperti itulah aku mampu merasakkan keteduhan dunia. Bagaikan tengah duduk dibawah pohon ek, aku merasakkan kesejukkan yang luar biasa.
Mampu berkontribusi dalam menebar benih kebaikanpun merupakan salah satu hal dari bagian mencari sebuah bintang cintaNya yang aku senangi. Meskipun banyak keterbatasan, namun aku akan tetap berusaha. Memberikan yang terbaik bagi umat adalah cita-citaku yang senantiasa menjadi cambuk motivasi diri. Dan, dengan itulah aku akan mampu melihat indahnya bintang cintaNya yang sungguh luar biasa menawan.

***
Setiap hari, diantara jutaan kerlip bintang yang menyinari hatiku. Ada sebuah kerlip bintang yang lebih terang dibanding bintang lainnya. Itulah bintang cinta sang Illahi yang menjadi puncak segala cinta ini. RidhaNya yang selalu kuharapkan merupakan inti sebuah bintang cinta. Sayangnya, jutaan orang seakan hanyut dari cintanya. Mudah-mudahan aku senantiasa dalam lentera sinar bintang cintaNya.
Sahabat-sahabat yang menemani perjalan ini adalah lentera, cermin dan kunci hatiku. Mereka menasehatiku ketika salah, menyemangatiku ketika letih dalam perjalanan dan menolongku ketika aku terjatuh dalam lubang atau terjebak ranjau.
Seperti sebuah lirik lagu drama Korea yang menginspirasi, inilah “cinta” tertinggi pada sang Illahi yang sungguh menentramkan.
Saehayan byeolbichi nunmureul gamsaya
(cahaya bintang mengelilingi air mataku)
Ddaddeuthan barame nunmuri naeryeoyo
(air mataku bercucuran melawan hembusan angin)
…..
Ddaddeuthan misoga nal anajoneyo
(kehangatan senyumMu membalut hatiku)
Ige sarangingayo
(apakah ini cinta?)
Du nuneul gama bwado geudaeman boineun geolyo
(aku bisa melihatMu sekalipun mataku tertutup)
Nochi aneul guh ehyo balo geudeh ni ggayo
(tapi aku tak akan melepaskannya, karena itu Engkau)

Mencintai Allah

“Katakan (wahai Muhammad) apabila bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluarga besarmu, harta yang kamu cari, perdagangan yang kamu khawatir kebangkrutannya dan rumah tinggal yang disenanginya, lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.” (QS. At-Taubah:24)

Pendahuluan

Alhamdulillah kita telah dijadikan sebagai hamba-hamba muslim yang berserah diri kepada-Nya dengan menyatakan Laailaha illallah wa anna Muhammad Rasulullah. Hanya saja kenyataannya masih banyak dari kita yang belum konsekuen dengan pernyataannya. Kita menyatakan mencintai Allah, kenyataannya lebih mencintai hawa nafsu kita, sehingga tidak sedikit ajaran Allah yang kita langgar. Bahkan lebih dari itu menuhankan kebendaan dengan cara mencintainya melebihi cinta kita kepada Allah. Oleh karena itu Allah mensinyalir hal tersebut dalam Al-Quran surat Al-Baqarah:165, “Sungguh orang beriman lebih mencintai Allah daripada yang lainnya.”

Definisi cinta menurut terminologi bahasa adalah kecenderungan atau keberpihakan. Sementara menurut terminologi syara’ adalah keberpihakan kepada yang dicintai sehingga mengikuti apa yang dia kehendaki dan meninggalkan apa yang tidak dia sukai, baik secara terang-terangan atau tersembunyi.

Hal-hal yang dapat memalingkan cinta kita kepada Allah, seperti yang disitir Allah dalam Al-Quran surat Al-Imran, “Dihiasi bagi manusia cinta kepada hawa nafsunya daripada wanita, anak-anak, kumpulan emas dan perak, kuda berwarna (kendaraan), peternakan, pertanian, itulah isi dari kehidupan dunia, dan Allah memiliki tempat kembali yang labih baik”
Di atas disebutkan enam bagian yang apabila dicintai oleh manusia melebihi cintanya kepada Allah atau mengikuti kehendak mereka sampai mengangkangi kehendak Allah, maka berarti telah menuhankan hal-hal tersebut, ini sangat berbahaya. Lebih tegas lagi Allah memperingatkan dalam surat At-Taubah:24,

“Katakan (wahai Muhammad) apabila bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, keluarga besarmu, harta yang kamu cari, perdagangan yang kamu khawatir kebangkrutannya dan rumah tinggal yang disenanginya, lebih kamu cintai daripada Allah, Rasul-Nya dan berjuang di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.”

Bagaimana Kita Mencintai Allah????

Dalam upaya mencintai Allah, kita harus mengenalnya dengan baik sesuai dengan informasi Al-Quran dan Rasulullah saw, baik kaitannya dengan rububiyah-Nya atau uluhiyah-Nya atau asma’ dan sifat-sifat-Nya, baru kemudian mengenal hukum-hukum-Nya, baik perintah maupun larangan. Seorang dikatakan mencintai Allah apabila memenuhi empat syarat:

1. Berbuat sesuai dengan kehendak Allah, dengan menjalankan perintah-perintah-Nya.

2. Meninggalkan seluruh larangan-Nya baik secara dhohir maupun batin.

3. Mencintai orang-orang yang dicintai Allah, yaitu kaum beriman.

4. Membenci mereka yang dibenci Allah, yaitu kaum kafir, fasik dan munafik.

Apa saja yang menghantarkan kita mencintai Allah???

Menurut Ibnul Qayyim, seorang ulama’ abad ke-7, ada sepuluh hal yang menyebabkan orang mencintai Allah SWT:

1. Membaca Al-Quran dan memahaminya dengan baik.

2. Mendekatkan diri kepada Allah melalui media sholat sunnah sesudah sholat wajib.

3. Selalu menyebut dan berdzikir dalam segala kondisi dengan hati, lisan, dan perbuatan.

4. Mengutamakan kehendak Allah disaat berbenturan dengan keinginan hawa nafsu.

5. Menanamkan di dalam hati asma’ dan siaft-sifat Allah SWT, dan memahami maknanya.

6. Memperhatikan karunia dan kebaikan Allah kepada kita, baik nikmat dhohir maupun nikmat batin.

7. Menunduk hati dan diri ke kehariban Allah.

8. Menyendiri bermunajat dan membaca kitab suci-Nya, diwaktu malam saat orang sedang lelap tidur.

9. Bergaul dan berkumpul bersama orang-orang sholeh, serta mengambil hikmah dan ilmu mereka.

10. Menjauhkan segala sebab-sebab yang dapat menjauhkan kita daripada Allah.

Penyeimbang Cinta Kepada Allah

Untuk mencintai Allah diperlukan penyeimbang. Digambarkan oleh para ulama bahwa cinta itu bagaikan badan burung, sehingga ia tidak bisa terbang kecuali dengan dua sayap. Dua sayap itulah penyeimbang cinta kita kepada Allah, yaitu rasa harap di satu sisi dan rasa cemas di sisi lain. Rasa harap akan menimbulkan khusnudzan (berbaik sangka) kepada Allah. Bila kita mengerjakan kebaikan, kita berharap amalan kita itu diterima sebagai amal shaleh yang berpahala. Sementara rasa cemas akan mendorong kita melakukan kebaikan, karena rasa cemas itu kita khawatir jangan-jangan amalan baik kita tidak diterima Allah karena ada faktor X-nya. Maka apabila ada rasa cemas pada diri seseorang ketika dia mengerjakan hal-hal wajib, tercermin di dalam benaknya jangan-jangan amalan itu tidak diterima atau kurang sempurna, maka dia terdorong untuk mengerjakan sunnah-sunah dst. Rasa cemas itu juga yang dapat mencegah seseorang untuk tidak melakukan maksiat dan dosa. Dengan demikian burung yang berbadan cinta, bersayap rasa harap sebelah kanan dan rasa cemas di sebelah kiri, maka burung itu akan terbang melayang ke langit bersujud dihadapan sang maha perkasa dan bijaksana. Wallahu a’lam.

Oleh :
Al-Islam – Pusat Informasi dan Komunikasi Islam Indonesia

Delapan Tanda Keikhlasan

Ada delapan tanda-tanda keikhlasan yang bisa kita gunakan untuk mengecek apakah rasa ikhlas telah mengisi relung-relung hati kita. Kedelapan tanda itu adalah:

1. Keikhlasan hadir bila Anda takut akan popularitas.

2. Ikhlas ada saat Anda mengakui bahwa diri Anda punya banyak kekurangan.

Orang yang ikhlas selalu merasa dirinya memiliki banyak kekurangan. Ia merasa belum maksimal dalam menjalankan segala kewajiban yang dibebankan Allah swt. Karena itu ia tidak pernah merasa ujub dengan setiap kebaikan yang dikerjakannya. Sebaliknya, ia cemasi apa-apa yang dilakukannya tidak diterima Allah swt. karena itu ia kerap menangis.

3. Keikhlasan hadir ketika Anda lebih cenderung untuk menyembunyikan amal kebajikan.

Orang yang tulus adalah orang yang tidak ingin amal perbuatannya diketahui orang lain. Ibarat pohon, mereka lebih senang menjadi akar yang tertutup tanah tapi menghidupi keseluruhan pohon. Ibarat rumah, mereka pondasi yang berkalang tanah namun menopang keseluruhan bangunan.

4.Ikhlas ada saat Anda tak masalah ditempatkan sebagai pemimpin atau prajurit.

Itulah yang terjadi pada diri Khalid bin Walid saat Khalifah Umar bin Khathab memberhentikannya dari jabatan panglima perang. Khalid tidak kecewa  apalagi sakit hati. Sebab, ia berjuang bukan untuk Umar, bukan pula untuk komandan barunya Abu Ubaidah. Khalid berjuang untuk mendapat ridha Allah swt.

5. Keikhlasan ada ketika Anda mengutamakan keridhaan Allah daripada keridhaan manusia.

6. Ikhlas ada saat Anda cinta dan marah karena Allah.

Adalah ikhlas saat Anda menyatakan cinta dan benci, memberi atau menolak, ridha dan marah kepada seseorang atau sesuatu karena kecintaan Anda kepada Allah dan keinginan membela agamaNya, bukan untuk kepentingan pribadi Anda.

7. Keikhalasan hadir saat Anda sabar terhadap panjangnya jalan.

Keikhlasan Anda akan diuji oleh waktu. Sepanjang hidup Anda adalah ujian. Ketegaran Anda untuk menegakkan kalimatNya di muka bumi meski tahu jalannya sangat jauh, sementara hasilnya belum pasti dan kesulitan sudah di depan mata, amat sangat diuji.

8. Ikhlas ada saat Anda merasa gembira jika kawan Anda memiliki kelebihan.

Yang paling sulit adalah menerima orang lain memiliki kelebihan yang tidak kita miliki.

Sumber : Dakwatuna. com

KUE CINTA SPECIAL

bahan:

1 pria takut Tuhan,
1 wanita takut Tuhan,
100% Komitmen,
2 pasang restu orang tua,
1 botol kasih sayang murni.

bumbu:
20 galon doa,
1 balok besar humor,
25 gr rekreasi,
2 sendok teh telpon-telponan,
Semuanya diaduk hingga merata dan mengembang.


tips:
• Pilih pria dan wanita yang benar-benar matang dan seimbang.
• Jangan yang satu terlalu tua dan yang lainnya terlalu muda karena dapat mempengaruhi kelezatan (sebaiknya dibeli di toserba bernama TEMPAT IBADAH,walaupun agak jual mahal tapi mutunya terjamin.)
• Jangan beli di pasar yang bernama DISKOTIK atau PARTY karena walaupun modelnya bagus dan harum baunya tapi kadang menipu konsumen atau kadang menggunakan zat pewarna yang bisa merusak kesehatan.
• Gunakan Kasih sayang cap”IMAN, HARAP & KASIH” yang telah mendapatkan penghargaan ISO dari Departemen Kesehatan dan Kerohanian.
cara memasak
• Pria dan Wanita dicuci bersih, buang semua masa lalunya sehingga tersisa niat yang murni.
• Siapkan loyang yang telah diolesi dengan komitmen dan restu orang tua secara merata.
• Masukkan niat yang murni ke dalam loyang dan panggang dengan api cinta, merata sekitar 30 menit di depan penghulu dan Tuhan
• Biarkan di dalam loyang tadi dan sirami dengan semua bumbu di atas.
• Kue siap dinikmati.


! catatan:
Kue ini dapat dinikmati oleh pembuatnya seumur hidup dan paling enak dinikmati dalam keadaan kasih yang hangat. Tapi kalau sudah agak dingin, tambahkan lagi humor segar secukupnya, rekreasi sesuai selera, serta beberapa galon doa kemudian dihangatkan lagi di oven bermerek “Tempat Ibadah” diatas api cinta. Setelah mulai hangat, jangan lupa telepon- teleponan bila berjauhan.

Ketika Kata Menjadi Mata

Menjadi penulis adalah sebuah mimpi sekaligus cita-cita. Bukan karena ingin menjadi terkenal. Namun, ingin menorehkan simfoni kebaikan di antara liukan kata yang tergores. Menjadi penulis adalah keniscayaan setiap manusia yang gemar berbagi makna kehidupan. Bahkan, menjadi penulis telah terpatri dari bangku TK hingga kini. Penulis adalah seorang senjata yang mampu membom dunia. Tak hanya daerah kecil seperti Hiroshima dan Nagasaki. Namun, Penulis mampu membom seluruh jagat raya. Bahkan, bisa menghantarkan para indahnya syurga yang abadi.

Jikalau begitu, tak ada yang tak ingin menjadi penulis. Termasuk aku.

Aku adalah makhluk yang ingin terus menulis. Berharap kataku menjadi mata. Dan tulisanku menjadi berkah. Dakwah adalah keniscayaan setiap umat muslim. Dan, dakwah bisa terkokohkan lewat tulisan. Tulisan seorang penulis.

Seorang ulama-ulama Islam terdahulu bahkan mampu menulis berjilid-jilid buku dalam satu hari. Tengoklah Imam Syafi’I hingga Imam Hassan Al-Banna. Mereka menulis untuk cinta. Cinta akan kebenaran dan pengharapan akan ridha Allah SWT. Berawal dari situ, aku berdiri. Menanamkan azzam, menguatkan ikhtiar dan mencari peluang. Ya, untuk menjadi penulis. Ketika kata menjadi mata.

Menebar kebaikan dan hikmah bisa dengan berbagai cara. Termasuk dengan menulis. Ada sebuah ayat Al-Qur’an yang menjelaskan tentang esensi dakwah terhadap umat muslim.

“Hai orang-orang yang beriman, sukakah kamu aku tunjukkan suatu perniagaan yang dapat menyelamatkanmu dari azab yang pedih? (yaitu) kamu beriman kepada Allah dan RasulNya dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwamu. Itulah yang lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui. (TQS. As-Shaff: 10-11).” Begitu pentingnya berdakwah. Dan. Lewat tulisan, merupaan bagian dari aksi nyata seorang muslim meraih perniagaan yang dapat menyelamatkan.

Pena seorang penulis laksana moncong sebuah pistol. Jika salah “menembak”, sebutir peluru atau lebih akan bersarang di tempat yang tak semestinya. Dan, dengan “moncong pistol” itulah, saya berusaha berbagi peluru untuk menumpas kejahatan. Meskipun masih dengan tenaga tembakan yang terlalu pelan, namun aku yakin suatu saat nanti akan tercipta “tembakan” yang dahsyat. Untuk itulah, aku berusaha mencari dan mencari arti sebuah peluang. Dan, bermuaralah sampan kehidupanku pada sebuah organisasi kepenulisan di kawasan Jatinangor-Bandung.

Berharap mampu menjadi bagian perubah peradaban ke arah yang lebih baik, aku bergabung dengan FLP Jatinangor. Aku yakin, ikhtiar ini Insya Allah tidak akan mengecewakan. Dan, menjadi sebuah kebanggaan pribadi ketika setahap targetku bisa tercapai. Ya, bergabung dengan organisasi kepenulisan yang berasaskan nafas-nafas Islami.

Setiap umat Muslim adalah da’i. dan setiap da’i wajiblah untuk berdakwah dan menebar ilmu. Dan, tentunya mungkin dengan pena akan jauh lebih efektif di banding dengan ceramah atau tabligh akbar. Dengan pena, seorang penulis dapat langsung mengenai hati sang pembaca “heart to heart”. Dan, sungguh itulah seni berdakwah.

Dakwah pun tak mengenal waktu dan tempat. Di mana kaki berpijak, disitulah kita sebagai umat Muslim harus berdakwah. Meskipun kita ada di Kutub Utara atau di Kutub Selatan, dakwah adalah keniscayaan. Tidak ada waktu yang terlewat kecuali harus diisi dengan dakwah ke jalan Allah SWT.

Dan, seorang penulis adalah da’i. Kata-kata yang ia keluarkan umpama cahaya yang menerangi kegelapan. Kata-kata itu begitu ber-ruh, mampu menggerakkan hati dan menggugah jiwa. Kata-kata yang sanggup memompa semangat.

Di ujung pena seorang penulis, kebenaran dapat ditegakkan dan kejahilan mampu dimusnahkan. Di ujung pena seorang penulis pula… kebangkitan mampu dikobarkan.

Teringat sebuah nasihat mengenai semangat dakwah dan kebaikan yang harus di jaga oleh setiap umat Muslim:

1.Bangunlah segera untuk melaksanakan sholat apabila mendengar adzan walau bagaimanapun keadaanmu.

2.baca, telaah, dan dengarlah Al-Qur-an, berdzikirlah kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan janganlah engkau senang menghambur-hamburkan waktumu dalam masalah yang tidak ada faedhnya

3. Bersungguh-sungguhlah untuk bisa dan berbicara dalam bahasa Arab dengan fasih.

4.Jangan memperbanyak perdebatan dalam berbagai bidang percakapan karena hal itu tidak akan mendatangkan kebaikan.

5 Jangan banyak tertawa, sebab hati yang selalu berkomunikasi dengan Allah (berdzikir) adalah tenang dan tenteram.

6.Jangan suka bergurau, karena umat yang berjihad tidak berbuat kecuali dengan bersungguh- sungguh terus menerus.

7. Jangan mengeraskan suara di atas suara yang diperlukan pendengar, karena hal itu akan mengganggu dan menyakiti.

8. Jauhilah ghibah (menggunjing) atau menyakiti hati orang lain dalam bentuk apa pun dan janganlah berbicara kecuali yang baik.

9. Berkenalanlah dengan saudaramu yang engkau temui walaupun dia tidak meminta, sebab prinsip dakwah kita adalah cinta dan taawun (kerjasama).

10. Pekerjaan rumah (PR) kita sebenarnya lebih bertumpuk daripada waktu yang tersedia, maka tolonglah saudaramu untuk memanfaatkan waktunya dan apabila kalian mempunyai keperluan maka sederhanakan dan cepatlah diselesaikan. (Wasiat Imam Hasan Al-Banna)

Penulis adalah da’i. Dan, menjadi da’i adalah keniscayaan. Begitu indahnya dakwah dengan menulis.

Ketika Kata Menjadi Mata.

Puisi sang pencinta…(Ketika akhwat jatuh cinta)

(Wah..wah…cinta memang tak pernah pandang bulu. Baik orang miskin, orang kaya, baik itu akhwat hingga ikhwan atau orang begajulan hingga orang baik-baik…eh, yang namanya cinta…pasti aja datang. Ya, seperti kisah cinta seorang akhwat yang diam-diam menyimpan rasa cintanya itu hanya dalam hati. Karena takut pada Rabb-Nya lah, ia hanya mampu memendam. So…sweet ya. Nah, dibawah ini adalah sebuah puisi cinta dari nya. Iseng-iseng aku publish di blog-ku. Mudah-mudahan menginspirasi ya. Mudah-mudahan…ntar cinta kita terlabuh karena Allah SWT…)

Aku jatuh cinta padamu.

Sebuah cinta yang hangat diantara dinginnya batinku.

Aku berharap… bisa melupakanmu barang satu detik saja…

Namun, wajahnmu selalu saja merasuk dan bersemayam di pikiranku.

Duhai al-akh… aku tiba-tiba selalu merindukanmu..

Hingga… Kau hadir dalam selimut mimpiku.

Aku…akui… aku sungguh berbeda.

Sebuah rasa yang beda.

Yang baru kujumpai.

Dan rasa itu berlabuh padamu.

Entah mengapa… harus padamu.

Aku jatuh cinta padamu…

Sebuah cinta yang merdu ditengah sumbangnya hatiku.

Diantara hempasan angin, aku berharap akan dirimu… pertemuan denganmu…juga kasihmu.

Duhai al-akh… aku akui… aku… begitu menyayangimu…

Sebuah rasa sayang yang besar hingga tak mampu kuukir dalam untaian kata.

Ada sebuah perasaan yang kini bernyanyi riang di jiwaku.

Bersenandung… tertawa dan tersenyum dengan indah.

Dan… tahukah duhai al-akh… Kaulah yang mengisi hatiku.

Menguasai jiwaku dan merenggut sukmaku.

Aku jatuh cinta padamu… Sebuah cinta yang berbeda…

Ditengah sepinya air mataku.

Kau hadir bagaikan bunga indah yang mewangi dalam mimpi.

Membantuku… dan mewarnai sanubariku.

Duhai al-akh… Aku entah mengapa… merindukanmu.

Sangat merindukanmu… Jika kau halal bagiku, ingin sekali kumuliakan dirimu dalam cintaku.

Jika kau berhak untukku, ingin kubawa kau terbang bersama hempasan angin kasihku.

Namun… Duhai al-akh… Aku tak bisa berbuat banyak untuk cinta ini…

Aku malu..

Aku takut… Pada Rabbku… Pada Rabbmu… 

Mungkin, hanya takdirlah yang akan mempersatukan kita.

Dan, entah kapan… Takdir akan mempertautkan kita dalam ikatan yang halal.

Atau… Takdir tak akan pernah menyatukan kita? Aku tak pernah mengetahuinya…

Bahkan, aku pun tak pernah mengetahui isi hatimu.

Aku ingin… Kaulah yang menjadi cintaku. Dan, sejujurnya… Engkaulah cinta pertamaku.

Duhai al-akh… Aku jatuh cinta padamu.

Sebuah cinta yang menyejukkan diantara gersangnya gurun pikirku.

Buah kebaikanmu hadir dan bertemaram dalam liukan hariku.

Aku…benar-benar mencintaimu.

Sebuah cinta… yang entah mengapa begitu istimewa… Aku selalu berharap… Kau adalah takdirku.

Aku… Kini… Tak bisa berbuat banyak…

Namun, hanya satu hal yang harus kau ketahui…duhai al-akh… Bahwa…

“Aku mencintaimu.”

(Ahad, 7 Februari 2010…pukul 2:22 AM… “Ketika bayangnya jatuh dalam hayalku”

M-A-S-A-K-O

“Mak…. Aku malu. Kenapa namaku ‘Masako’? Kayak bumbu masak aja? Masa orang desa namanya Masako? Kenapa Mak?” Tanyaku sore itu dengan sedikit merengek.

Emakku menatapku dengan wajah dingin. Tatapan beku dan tak ada secuilpun kalimat mengalir untuk menjawab pertanyaanku.

“Emak… Aku cuman pengen tahu, kenapa namaku Masako?” Aku bertanya lagi dan emakku tetap seperti biasanya, hanya diam. Dia sibuk dengan adonan untuk membuat bakso. Aku masih ingin terus bertanya, tapi emak masih saja menguleni adonan yang akan dibentuk menjadi bulatan bulatan bakso. Baginya lebih penting bakso itu dari pada pertanyaanku. Memang, dengan membuka warung bakso di depan rumah inilah, emakku bisa membiayai hidupku.

Tapi aku masih saja penasaran, kenapa namaku Masako? Kenapa bukan Sinta, Indah, Dewi ataukah Surtiah? Tiba tiba saja ibu berhenti membuat bakso dan berkata, “Ya sudah, kalau begitu besok kamu emak panggil Santi. Puas?”

Sejak saat itu aku tak pernah lagi menanyakan kepada emak, kenapa namaku Masako. Tapi, semakin beranjak besar aku semakin penasaran. Emakku semakin membisu. Saat dia menatap wajahku, dia seperti mengingat kejadian di masa lampau yang begitu menusuk hatinya. Sama sekali aku tak pernah mendengar asal muasalku dari mulut emakku. Justru aku dengar dari mulut mulut nyinyir yang entah mereka mendapatkan berita itu dari mana? Dari berita itu yang kudengar, bapakku seorang Jepang yang meniduri emakku. Aku lahir tanpa dikehendaki kedua orang tuaku. Aku ini anak haram!.Ada yang mengatakan, ibuku dulu seorang JUGUN IANFU. Ketika masih muda dia ditangkap Jepang, dan harus melayani nafsu tentara jepang setiap hari. Dan salah satu dari mereka membuahi rahim ibuku, maka jadilah aku. Tapi itu tak mungkin. Emakku lahir sekitar tahun 60-an.Aku lahir 80-an, dan Jepang hengkang dari Indonesia tahun 1945. Apakah mungkin emakku seorang Jugun Ianfu?

Dari mulut nyinyir itu, aku dengar sebuah kisah. Dulu hidup emakku sangat melarat. Emak pergi ke kota untuk melacur. Tapi ada satu orang yang bercerita padaku tentang emakku dan kali ini beritanya berbeda dari berita berita yang sudah ku dengar. Mak Sunar menceritakan betapa simpatiknya emakku. Suatu ketika ada seorang paruh baya datang ke kampung dan menawarkan pekerjaan yang menggiurkan gajinya. Dalam pikiran emakku, pekerjaan ini akan mengangkat keluarganya dari kemiskinan. Maka berangkatlah emakku yang tak mengetahui kalau pekerjaan yang dijanjikan itu adalah pekerjaan nista.

“Saat itu, emakmu berjuang untuk menghidupi keluarganya, nduk….”

“Tapi kenapa emak mau?”

“Emakmu harus mau. Kalau tidak, makan apa keluarganya?”

Mak Sunar terus menceritakan tentang emakku. Dukun beranak yang menyelematkan emakku saat melahirkanku ini sudah tua. Tapi meskipun tua, beliau terlihat sehat dengan giginya yang masih utuh dan berwarna kemerahan karena mengunyah sirih dan tembakau.

Emakku, masih cerita dari Mak Sunar, pernah tinggal di kota. Disanalah dia mengenal bapakku. Bapakku memerlukan emakku hanya sebagai tempat membuang lendirnya saja. Hampir setiap saat. Sampai sampai emakku hanya dipakai oleh bapakku saja. Tak ada lelaki lain. Emakku hamil. Dan bapakku kembali pulang ke Jepang, sementara emakku pulang dengan keadaan perut membesar. Emak melahirkan di kampung dan tak pernah kembali lagi ke kota.

####

Suatu hari, datanglah empat lelaki bertkulit putih dan bermata sipit, ke gubug kami. Emak menemui mereka sementara tetangga pada ramai memenuhi halaman rumah kami. Para tetangga sibuk dengan gunjingan baru. Emakku menerima tamu dan menjual tubuhnya untuk keempat tamu istimewa ini.

Emak tenang sekali menghadapi mereka. Aku sama sekali tak paham bahasanya. Emak berbisik padaku, kalau para tamu ini semua dari Jepang. Aku terus mengamati mereka satu persatu dan membandingkannya dengan diriku. Jangan jangan, salah satu dari mereka adalah bapakku. Emak sesekali menjawab pertanyaan mereka. Aku terus sibuk mereka reka apa yang mereka bicarakan. Tiba tiba saja air mata emak meleleh.

“Bapakmu meninggal Sako…” suara lirih emakku memenuhi gendang telingaku.

Aku tertegun, bingung. Baru pertama kali emak mengatakan satu hal tentang bapakku. Tapi sayang beliau sudah meninggal. Emak lalu bercerita, bapakku sakit keras. Selama beliau sakit, ingin sekali berliau bertemu anaknya yaitu aku. Bapakku bernama Ichiro Ushida. Usianya dua kali lipat emakku. Ketika di kota, emakku jadi pembantu rumah tangga di rumah Ichiro. Kemudian statusnya meningkat menjadi istri kedua. Sayangnya, Ichiro tak mau punya anak. Dia meminta emakku untuk menggugurkannya. Tapi emak menolak dan memilih pulang. Ichiro berpesan, bila anaknya lahir agar diberi nama Masako. Emak setuju dan pulang ke kampung dengan perut besar. Sementara Ichiro dengan istri pertamanya, tak mempunyai anak. Di akhir hayatnya, Ichiro menepati janjinya mencari aku dan emak. Menjelang ajalnya, dia menulis wasiat, memberikan seluruh hartanya untukku.

Dalam sekejap hidupku berubah. Kami sangat kaya. Rumah kami yang hanya berdinding bambu, kini megah dengan dinding batu. Perabotan berubah, semua dari kayu jati. Ibu membeli dua buah ruko dan membuka cabang warung bakso disana. Tak terdengar lagi mulut nyinyir seperti dulu. Sikap tetanggaku berubah drastis. Teman temanku yang dulu memanggilku si anak haram, kini berubah total menjadi baik padaku. Kekayaan telah menyulap segalanya. Kehormatan dan martabat bisa datang jika kita berlimpah materi. Itu yang membuatku semakin teriris. Pandangan hidup masyarakat kita ternyata masih lekat sekali dengan yang namanya MATERI.

Senyum untuk Khansa

Malam itu, Faris tidak bisa tidur. Ia menunggu telpon dari Papanya dari Jakarta. Sambil menunggu, Faris membaca buku sekolahnya dengan cemilan di hadapannya. Tiba-tiba… Kring…Kring…kring… suara telpon rumah mendadak membuat Faris kaget, ia dengan cepat mengangkat gagang telpon yang tak jauh dari tempatnya membaca.

“Assalamu’alaikum,” sapa Faris.

“Wa’alaikum salam,” balas Papa Faris. Bibir Faris sudah terasa gatal, ingin secepatnya ia berkata pada Papanya untuk dibelikan mobil-mobilan baru hingga buku ensiklopedia hewan dan tumbuhan kesenangannya. Namun, sebelum Faris mengutarakan keinginannya, Arifin Papanya itu segera berkata dengan nada yang cukup serius. “Faris, Papa hari ini mau bawa pulang Khansa dari rumah sakit,” ucap Papanya. Faris tiba-tiba terhenyak, “Khansa itu siapa Pa?”

***

Sekitar jam sepuluh malam, suara mobil Pak Arifin sudah terdengar di telinga Faris. Dengan cepat dan tanpa berpikir panjang, Faris segera memburu suara deru mobil yang ditunggunya. Malam ini, Papanya baru pulang dari Jakarta, sudah dua minggu lamanya Papanya tidak pulang karena urusan kantor.

“Papa…..”

Faris memeluk Papanya dengan erat. Pak Arifin lalu mengelus rambut putra tunggalnya itu dengan lembut. “ Ris kangen banget sama Papa… soalnya dirumah hanya ada Bi Uti sama Oma,” ucap Faris. Papanya lalu tersenyum. Ia membuka pintu belakang mobil dan berkata pada Faris: “Sekarang Faris punya teman bermain, namanya Khansa, putrinya adik almarhumah Mama.” Diturunkannya tubuh kecil agak kurus dari kursi belakang mobil. Sebuah kursi roda pun dikeluarkan oleh Papa, tak jauh dari mobil, Bi Uti dan Oma mulai membantu, mereka menurunkan koper hingga oleh-oleh. “Apa kabar Khansa?” sapa Faris dengan senyum yang mengembang. Namun, Khansa hanya bisa diam. Bahkan, ia tidak melirik sedikitpun pada Faris, Khansa hanya mampu tertunduk dengan lemas. Pak Arifin dengan cepat membawa Khansa kedalam rumah karena suhu malam sudah mendingin.

***

Sekitar jam setengah tujuh pagi, Faris sudah bersiap untuk pergi ke sekolah. Sebelum Faris pergi, ia tidak lupa sarapan. Pagi ini, ia sarapan dengan nasi goreng sosis buatan Bi Uti yang lezat sekali. Sayangnya, hanya Khansa yang tidak ikut sarapan. Khansa yang masih duduk di kelas empat SD itu hanya mengurung diri di kamar. “Khansa tadi sudah sarapan dengan bubur. Karena masih lemas, jadi Khansa tidak ikut makan dengan kita,” kata Pak Arifin berusaha menghibur ketika Faris bertanya perihal Khansa yang tidak ikut sarapan bersama.

Diperjalanan menuju SDN Bahagia Sentosa, Faris banyak bertanya tentang Khansa. Dengan lembut dan tenang, Papanya menjawab pertanyaan putranya satu-persatu. “Pa, Khansa itu kenapa diam saja? Faris nyapa kok gak dibalas sapa lagi?” tanya Faris. “ Jangan sedih ya sayang, Khansa sedang sakit. Mungkin, karena masih lemah Khansa belum bisa membalas sapaan Faris. Selain itu, mungkin Khansa juga masih berduka dengan meninggalnya kedua orang tuanya karena kecelakaan,” jawab Pak Arifin. “Memang Khansa sakit apa Pa?” tanya Faris lagi. Papanya tersenyum pada Faris dan mengusap rambut putranya yang masih duduk dikelas lima itu dengan penuh kasih sayang. “Khansa sedang kurang darah. Darah merahnya sedikit, tidak banyak seperti Faris,” balas Pak Arifin berusaha menjelaskan dengan mudah. Faris lalu manggut-manggut. Sambil melihat pemandangan luar lewat kaca mobil, ia menyiapkan beberapa rencana untuk menyenangkan hati Khansa yang tengah sakit. “Setidaknya, Khansa bisa tersenyum,” kata Faris di dalam hatinya.

***

Sepulang dari sekolah, Faris segera memburu gudang dirumahnya. Dicarinya sebuah benda yang sudah lama tidak dimainkannya. GRASAK….GRUSUK…. begitulah suara Faris yang tengah mencari barang di dalam gudang. Akhirnya, Faris menemukan barang yang dicarinya. Sebuah layang-layang berbentuk kupu-kupu kini sudah ada di tangan kanannya. Warna layang-layang itu berwarna merah muda yang cantik. Selain itu, ada juntai ekor berwarna coklat keemasan yang mempercantik layang-layang kertas itu. “Khansa pasti senang dengan layang-layang ini,” ucap Faris girang. Setelah shalat dzuhur dan makan siang, Faris segera berlari kehalaman belakang rumahnya. Ia berusaha menerbangkan layang-layang kertasnya ke udara. Tak jauh dari halaman belakang, Khansa tengah duduk di kursi rodanya. “Khansa… lihat ini!” seru Faris bersemangat. Tetapi, Khansa hanya diam membisu. Ia tidak menoleh sedikitpun pada layang-layang yang telah terbang ke udara. Dilihatnya Khansa oleh Faris hanya memandang deretan bunga mawar yang mulai bermekaran. Faris terdiam sejenak. “Mungkin Khansa lebih suka bunga daripada layang-layang,” ucap Faris dalam hati.

Keesokan paginya, sebelum Faris pergi kesekolah, dipetiknya beberapa tangkai bunga mawar yang cantik nan harum baunya. Disimpannya empat tangkai mawar itu kedalam sebuah gelas panjang berwarna bening. Faris mengetuk pintu kamar Khansa, sambil mengendap-endap Faris menyimpan gelas berisi bunga mawar itu diatas meja yang tak jauh dari ranjang. Sebelum Faris pergi, ia melihat Khansa yang tengah memandang pemandangan langit lewat jendela kamar. “Khansa… Faris bawakan bunga mawar kesukaan Khansa,” kata Faris. Namun, lagi-lagi Khansa hanya diam. Faris agak sedih. Dengan perlahan ia menutup pintu kamar Khansa dan berlari menuju mobil menuju sekolah.

***

Sudah hampir satu minggu Khansa ada dirumah Faris. Tetapi, Khansa tidak berkata sedikitpun pada Faris bahkan mendiamkan Faris. Faris sungguh heran. Barang-barang yang telah diberikannya pada Khansa pun tidak membuat Khansa tersenyum. “Apa yang terjadi pada Khansa? Apa gara-gara sakitnya itu…Khansa jadi tidak bisa tersenyum lagi?” tanya Faris pada dirinya sendiri. Tapi, Faris tidak pernah menyerah. Untuk membuat Khansa sedikit bahagia, ia pun membuat banyak sekali origami kertas berbentuk burung-burungan dari kertas lipat yang berwarna-warni. Faris dibantu oleh Bi Uti dan Oma dalam membuat burung-burungan dan dibantu mengikatkan seluruh burung-burungan kertas itu dalam satu benang yang cukup panjang. “Terimakasih ya Bi Uti…Oma,” kata Faris setelah origami burung-burungan kertas itu selesai dibuat. Dengan rasa yang tak sabar, Faris berlari kecil menuju kamar Khansa sambil menjinjing hasil karyanya. Bi Uti dan Oma lalu tersenyum melihat tingkah Faris. Bi Uti dan Oma merasa bangga atas kebaik hatian Faris yang tulus pada sepupunya itu.

“Assalamu’alaikum Khansa…” ucap Faris sambil membuka pintu kamar. Khansa hanya menoleh sebentar, lalu ia kembali menatap pemandangan langit lewat jendela kamar. “Khansa, Faris…Bi Uti juga Oma buatkan burung-burungan ini buat Khansa,” ucap Faris lagi. Ia mengangkat tinggi-tinggi burung-burungan kertas itu dan menunjukkannya pada Khansa. Tapi, lagi-lagi Khansa hanya diam. Ia malah asyik menekuri pemandangan langit yang biru. Faris tidak menyerah membuat Khansa tersenyum. Ia lalu naik keatas meja dan berusaha mengikatkan ujung benang origami burung-burungan kertas itu ke ujung gorden. Namun sayang, karena tubuh Faris yang tidak tinggi, ia terjatuh dan memecahkan gelas air minum Khansa serta menjatuhkan obat-obatan Khansa. Tanpa sengaja, Faris membaca sebuah kata yang tertera dilabel obat-obat milik Khansa. “Leu-ke-mia,” ucap Faris sambil mengeja. “Apa itu?” tanya Faris dalam hati. Sebelum bangkit dari lantai, Bi Uti dan Oma sudah ada di hadapan Faris. Oma lalu membawa Faris keluar kamar Khansa, sementara Bi Uti langsung membersihkan pecahan kaca dan air. Ada lebam biru di kaki Faris.

***

“Bu guru…Leukemia itu apa?” tanya Faris pada gurunya. “Leukemia itu suatu penyakit dimana sel darah merah jumlahnya kurang dari normal dan sel darah putih jumlahnya lebih banyak dari normal. Leukemia itu bisa dikatakan kanker darah,” balas gurunya. “Kanker darah? Khansa itu…ternyata terkena kanker darah!” Faris terhenyak bercampur kaget. Ia sedih ketika mengetahui penyakit yang diderita sepupu perempuannya itu. Ketika hendak pulang sekolah, Faris melihat pedagang balon gas menjual berbagai macam balon. Faris sangat tertarik dengan balon berbentuk hati berwarna merah. Tanpa pikir panjang, ia membeli tiga buah balon berbentuk hati berwarna merah itu menuju rumah. Ada rencana untuk Khansa.

Ketika sampai dirumah, untunglah Khansa sedang tidak ada. Bi Uti berkata bahwa Khansa sedang cek kesehatan di rumah sakit bersama Papa. Setelah shalat dzuhur, Faris segera membawa ketiga balonnya beserta kertas lipat, gunting dan spidol menuju kamar Khansa. Faris membuat gambar senyum diketiga balon gasnya itu. Lalu, ia pun membuat gambar senyum di kertas lipatnya. Ia menempelkan banyak kertas lipat bergambar senyum di dinding-dinding kamar Khansa. Sekitar pukul setengah tiga sore, terdengar suara deru mobil Pak Arifin dari halaman depan rumah. Faris segera berlari menuju halaman depan. Pak Arifin membantu menurunkan Khansa dari jok belakang mobil dan mendudukannya di kursi roda. Dengan bersemangat, Faris segera mendorong kursi roda Khansa. “Khansa…aku punya kejutan lho,” ucap Faris. Khansa masih diam.

Setelah sampai di depan pintu kamar, Khansa diminta Faris untuk menutup mata. “Tutup matanya ya,” kata Faris. Lalu, Khansa pun menurut. Ia menutup kedua matanya yang agak mencekung karena sakit. Kreekk…Faris mulai membuka pintu kamar. Ia membawa Khansa ke dalam kamar. “Buka matanya..”pinta Faris. Lalu, mata Khansa pun terbuka. Betapa terkejutnya Khansa saat melihat banyak gambar senyum di dinding-dinding kamarnya. “Bagaimana?” tanya Faris bersemangat. “Oia…ada satu kejutan lagi..” lanjut Faris. Ia segera mendorong kursi roda Khansa ke dekat jendela. Dibukanya jendela dan angin lembut pun masuk ke dalam kamar. Faris kemudian membawa tiga balon berbentuk hati yang terdapat gambar senyum lebar di permukaan balonnya. Lalu, Faris menyimpan tiga balon itu di jemari tangan Khansa. “Senyum-senyum ini adalah kepunyaan Khansa,” kata Faris. “Senyum-senyum ini harus tersenyum di udara,” lanjut Faris menerangkan. Khansa tampak memegang erat balon itu. Lalu Faris berkata lagi: “Mari kita terbangkan balon-balonnya…agar semua bisa tahu kalau Khansa ikut tersenyum untuk dunia.” Tiba-tiba, ketiga balon itu terbang ke udara. Khansa terlihat begitu terkesima. Matanya terlihat cerah. Dan, akhirnya Khansa tersenyum. Ia tersenyum dengan sangat manis. Cantik sekali. Papa, Bi Uti dan Oma pun ikut tersenyum. Semua tersenyum bersamaan dengan ketiga balon yang terbang ke udara.

TAMAT

(Ditulis dan dikenang oleh: Tetsuko Eika-2010)

PANDUAN AMALIAH RAMADHAN

I. MASYRU’IYAT & MATLAMAT
“Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian puasa, sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertaqwa” (QS. Al-Baqarah:183 ).

“Bulan Ramadhan, bulan yang didalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dengan yang bathil), karena itu barangsiapa di antaramu menyaksikan (masuknya bulan ini) maka hendaklah ia puasa… ” (Al-Baqarah:185).

“Islam didirikan di atas lima perkara: Bersaksi bahwa tidak ada Ilah selain Allah, dan sesungguhnya Muhammad itu adalah utusan Allah, mendirikan shalat, mengeluarkan zakat, puasa pada bulan Ramadhan, dan menunaikan haji ke Ka’bah” ( HR. Bukhari-Muslim).

“Diriwayatkan dari Thalhah bin ‘ Ubaidillah ra., bahwa sesungguhnya ada seorang bertanya kepada Nabi Saw, ia berkata, Wahai Rasulullah, beritakan kepadaku puasa yang diwajibkan oleh Allah atas diriku. Beliau bersabda: puasa Ramadhan. Lalu orang itu bertanya lagi: Adakah puasa lain yang diwajibkan atas diriku? Beliau bersabda: tidak ada, kecuali bila engkau puasa Sunnah”.

II. KEUTAMAAN RAMADHAN & BERAMAL DI DALAMNYA
“Ketika datang bulan Ramadhan, sungguh telah datang kepadamu bulan yang penuh berkat, diwajibkan atas kamu untuk puasa, dalam bulan ini pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, setan- Setan dibelenggu. Dalam bulan ini ada suatu malam yang nilanya sama dengan seribu bulan, maka barangsiapa diharamkan kebaikannya (tidak beramal baik di dalamnya), sungguh telah diharamkan (tidak mendapat kebaikan di bulan lain seperti di bulan ini)” ( HR. Ahmad, Nasai dan Baihaqy. Hadits Shahih Ligwahairihi).

“Diriwayatkan dari Urfujah, ia berkata, aku berada di tempat ‘Uqbah bin Furqad, maka masuklah ke tempat kami seorang dari Sahabat Nabi Saw ketika Utbah melihatnya ia merasa takut padanya, maka ia diam. Ia berkata: maka ia menerangkan tentang puasa Ramadhan, ia berkata, ‘Saya mendengar Rasulullah Saw bersabda tentang bulan Ramadhan: Pada bulan Ramadhan ditutup seluruh pintu neraka, dibuka seluruh pintu surga, dan dalam bulan ini setan dibelenggu’. Selanjutnya ia berkata : ‘Dan dalam bulan ini ada malaikat yang selalu menyeru: Wahai orang yang selalu beramal kebaikan, bergembiralah Anda, dan wahai orang-orang yang berbuat kejelekan, berhentilah (dari perbuatan jahat). Seruan ini terus didengungkan sampai akhir bulan Ramadhan” (HR. Ahmad dan Nasai).

“Shalat lima waktu, shalat Jum’at sampai shalat Jum’at berikutnya, puasa Ramadhan sampai puasa Ramadhan berikutnya, adalah menutup dosa-dosa (kecil) yang diperbuat di antara keduanya, bila dosa-dosa besar dijauhi” (HR. Muslim).

“Puasa dan Qur’an itu memintakan syafa’at seseorang hamba pada hari kiamat nanti. Puasa berkata: Wahai Rabbku, aku telah mencegah dia memakan makanan dan menyalurkan syahwatnya pada siang hari, maka berilah aku hak untuk memintakan syafa’at baginya. Dan berkata pula Al-Qur’an: Wahai Rabbku, aku telah mencegah dia tidur di malam hari (karena membacaku ), maka berilah aku hak untuk memintakan syafaat baginya. Maka keduanya diberi hak untuk memintakan syafaat” (HR. Ahmad, Hadits Hasan).

“Sesungguhnya bagi surga itu ada sebuah pintu yang disebut ‘Rayyaan’. Pada hari kiamat dikatakan: Di mana orang yang puasa (untuk masuk Jannah melalui pintu itu)? Jika yang terakhir di antara mereka sudah memasuki pintu itu, maka ditutuplah pintu itu.” (HR. Bukhary-Muslim).
“Barangsiapa puasa Ramadhan karena beriman dan ikhlas, maka diampuni dosanya yang telah lalu dan yang sekarang” (HR. Bukhary-Muslim).

III. RUKUN PUASA
1. “Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar, lalu sempurnakanlah puasa itu sampai malam” (Al-Baqarah:187).
2. “Yang dimaksud (‘hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam’) adalah gelapnya malam dan terangnya siang (fajar)” (H.R. Bukhary Muslim).
3. “Dan tidaklah mereka disuruh kecuali untuk beribadah kepada Allah dengan mengikhlashkan ketaatan untuk-Nya” (Al-Bayyinah:5).
4. “Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat, dan setiap orang mendapat balasan sesuai dengan apa yang diniatkan” (HR Bukhary dan Muslim).
5. “Barangsiapa yang tidak beniat (puasa Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya” (HR. Abu Dawud, Hadits Shahih).

Keterangan ayat dan hadit di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa rukun puasa Ramadhan adalah sebagai berikut :
a. Berniat sejak malam hari (dalil 3, 4, dan 5).
b. Menahan makan, minum, jima’ dengan isteri pada siang hari sejak terbit fajar sampai terbenam matahari (dalil 1 dan 2).

IV. YANG DIWAJIBKAN PUASA RAMADHAN.
1. “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian untuk puasa, sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu sekalian bertakwa” (Al-Baqarah:183).


2. “Diriwayatkan dari Ali ra., ia berkata, sesungguhnya Nabi Saw telah bersabda, telah diangkat pena (kewajiban syar’i/ taklif) dari tiga golongan: dari orang gila sehingga dia sembuh, dari orang tidur sehingga bangun, dan dari anak-anak sampai ia bermimpi/dewasa” (HR. Ahmad, Abu Dawud, dan Tirmidzi).
Keterangan di atas mengajarkan kepada kita, yang diwajibkan puasa Ramadhan adalah: setiap orang beriman baik lelaki maupun wanita yang sudah baligh/dewasa dan sehat akal /sadar.

V. YANG DILARANG PUASA
“Diriwayatkan dari ‘Aisyah ra. ia berkata, saat kami haidh pada masa Rasulullah Saw, kami dilarang puasa dan diperintahkan mengqadhanya, dan kami tidak diperintah mengqadha shalat ” (HR Bukhary-Muslim).

Wanita yang sedang haidh dilarang puasa sampai habis masa haidhnya, lalu melanjutkan puasanya. Di luar Ramadhan ia wajib mengqadha puasa yag ditinggalkannya selama dalam haidh.

VI. YANG DIBERI KELONGGARAN UNTUK TIDAK PUASA RAMADHAN
1. “(Masa yang diwajibkan kamu puasa itu ialah) bulan Ramadhan yang padanya diturunkan Al-Qur’an, menjadi pertunjuk bagi sekalian manusia, dan menjadi keterangan-keterangan yang menjelaskan pertunjuk, dan (menjelaskan) antara yang haq dengan yang bathil. Karenanya, siapa saja dari antara kamu yang menyaksikan anak bulan Ramadhan (atau mengetahuinya), maka hendaklah ia puasa di bulan itu; dan siapa saja yang sakit atau dalam musafir maka (bolehlah ia berbuka, kemudian wajiblah ia puasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. (Dengan ketetapan yang demikian itu) Allah menghendaki kamu beroleh kemudahan, dan Ia tidak menghendaki kamu menanggung kesukaran. Dan juga supaya kamu cukupkan bilangan puasa (sebulan Ramadhan), dan supaya kamu membesarkan Allah karena mendapat pertunjukNya, dan supaya kamu bersyukur.” (Al-Baqarah:185.)

2. “Diriwayatkan dari Mu’adz , ia berkata : Sesungguhnya Allah swt telah mewajibkan atas nabi untuk puasa, maka Dia turunkan ayat (Al-Baqarah:183-184), maka pada saat itu barangsiapa mau puasa dan barangsiapa mau memberi makan seorang miskin, keduanya diterima. Kemudian Allah menurunkan ayat lain (Al-Baqarah:185), maka ditetapkanlah kewajiban puasa bagi setiap orang yang mukim dan sehat dan diberi rukhsah (keringanan) untuk orang yang sakit dan bermusafir dan ditetapkan cukup memberi makan orang misikin bagi orang yang sudah sangat tua dan tidak mampu puasa” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Al-Baihaqi, dengan sanad shahih).

3. “Diriwayatkan dari Hamzah Al-Islamy, Wahai Rasulullah, aku dapati bahwa diriku kuat untuk puasa dalam safar, berdosakah saya? Maka beliau bersabda, hal itu adalah merupakan kemurahan dari Allah Ta’ala, maka barangsiapa yang menggunakannya, maka itu suatu kebaikan dan barangsiapa yang lebih suka untuk terus puasa maka tidak ada dosa baginya” (HR. Muslim)

4. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra., ia berkata, kami bepergian bersama Rasulullah saw. ke Makkah, sedang kami dalam keadaan puasa Selanjutnya ia berkata: Kami berhenti di suatu tempat. Maka Rasulullah saw. bersabda: Sesungguhnya kamu sekalian sudah berada di tempat yang dekat dengan musuh kalian, dan berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu. Ini merupakan rukhsah, maka di antara kami ada yang masih puasa dan ada juga yang berbuka. Kemudian kami berhenti di tempat lain. Maka beliau juga bersabda: Sesungguhnya besok kamu akan bertemu musuh, berbuka lebih memberi kekuatan kepada kamu sekalian, maka berbukalah. Maka ini merupakan kemestian, kami pun semuanya berbuka. Selanjutnya bila kami bepergian beserta Rasulullah saw. kami puasa” (HR Ahmad, Muslim, dan Abu Dawud).

5. “Diriwayatkan dari Sa’id Al-Khudry ra. ia berkata: Pada suatu hari kami pergi berperang beserta Rasulullah saw. pada bulan Ramadhan. Di antara kami ada yang puasa dan di antara kami ada yang berbuka. Yang puasa tidak mencela yang berbuka dan yang berbuka tidak mencela yang puasa. Mereka berpendapat bahwa siapa yang mendapati dirinya ada kekuatan lalu puasa, hal itu adalah baik dan barangsiapa yang mendapati dirinya lemah lalu berbuka, maka hal ini juga baik” (HR. Ahmad dan Muslim)

6. “Dari Jabir bin Abdullah : Bahwa sesungguhnya Rasulullah saw. pergi menuju ke Makkah pada waktu fathu Makkah, beliau puasa sampai ke Kurraa’il Ghamiim dan semua manusia yang menyertai beliau juga puasa. Lalu dilaporkan kepada beliau bahwa manusia yang menyertai beliau merasa berat, tetapi mereka tetap puasa karena mereka melihat apa yang tuan amalkan (puasa). Maka beliau meminta segelas air lalu diminumnya. Sedang manusia melihat beliau, lalu sebagian berbuka dan sebagian lainnya tetap puasa. Kemudian sampai ke telinga beliau bahwa masih ada yang nekad untuk puasa. Maka beliaupun bersabda: mereka itu adalah durhaka” (HR. Tirmidzy).

7. “Ucapan Ibnu Abbas: wanita yang hamil dan wanita yang menyusui apabila khawatir atas kesehatan anak-anak mereka, maka boleh tidak puasa dan cukup membayar fidyah memberi makan orang miskin ” (HR. Abu Dawud).

8. “Diriwayatkan dari Nafi’ dari Ibnu Umar: Bahwa sesungguhnya istrinya bertanya kepadanya ( tentang puasa Ramadhan ), sedang ia dalam keadaan hamil. Maka ia menjawab: Berbukalah dan berilah makan sehari seorang miskin dan tidak usah mengqadha puasa” (Riwayat Baihaqi).

9. “Diriwayatkan dari Sa’id bin Abi ‘Urwah dari Ibnu Abbas beliau berkata: Apabila seorang wanita hamil khawatir akan kesehatan dirinya dan wanita yang menyusui khawatir akan kesehatan anaknya jika puasa Ramadhan. Beliau berkata: Keduanya boleh berbuka (tidak puasa) dan harus memberi makan sehari seorang miskin dan tidak perlu mengqadha puasa” (HR.Ath-Thabari dengan sanad shahih di atas syarat Muslim, kitab Al-Irwa, jilid IV hlm. 19).

Orang mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak puasa Ramadhan, tetapi wajib mengqadha pada bulan lain, ialah:
1. Orang sakit yang masih ada harapan sembuh.
2. Orang yang bepergian (musafir). Musafir yang merasa kuat boleh meneruskan puasa dalam safarnya, tetapi yang merasa lemah dan berat lebih baik berbuka, dan makruh memaksakan diri untuk puasa.
3. Orang mu’min yang diberi kelonggaran diperbolehkan untuk tidak mengerjakan puasa dan tidak wajib mengqadha, tetapi wajib fidyah (memberi makan sehari seorang miskin). Mereka adalah orang yang tidak lagi mampu mengerjakan puasa karena:
4. Umurnya sangat tua dan lemah.
5. Wanita yang menyusui dan khawatir akan kesehatan anaknya.


6. Karena mengandung dan khawatir akan kesehatan dirinya.
7. Sakit menahun yang tidak ada harapan sembuh.
8. Orang yang sehari-hari kerjanya berat yang tidak mungkin mampu dikerjakan sambil puasa, dan tidak mendapat pekerjaan lain yang ringan (dalil 2,7,8 dan 9).

VII. HAL-HAL YANG MEMBATALKAN PUASA
1. “Dan makan dan minumlah hingga jelas bagimu benang putih dari benang hitam (fajar), lalu sempurnakanlah puasa itu sampai malam” (Al-Baqarah:187).
2. “Barangsiapa yang terlupa, sedang dia dalam keadaan puasa, kemudian ia makan atau minum, maka hendaklah ia sempurnakan puasanya. Hal itu karena sesungguhnya Allah hendak memberinya karunia makan dan minum ” (Hadits Shahih, riwayat Al-Jama’ah kecuali An-Nasai).
3. “Barangsiapa yang muntah dengan tidak sengaja, padahal ia sedang puasa, maka tidak wajib qadha (puasanya tetap sah), sedang barangsiapa yang berusaha sehinggga muntah dengan sengaja, maka hendaklah ia mengqadha (puasanya batal) (HR. Abu Daud dan At-Tirmidziy).
4. “Diriwayatkan dari Aisyah ra ia berkata: saat kami berhaidh (datang bulan) pada masa Rasulullah saw. kami dilarang puasa dan diperintah untuk mengqadhanya dan kami tidak diperintah untuk mengqadha shalat” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
5. “Diriwayatkan dari Hafshah, ia berkata : Telah bersabda Nabi saw. Barangsiapa yang tidak berniat untuk puasa (Ramadhan) sejak malam, maka tidak ada puasa baginya” (HR. Abu Daud).

6. “Sesungguhnya semua amal itu harus dengan niat” (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
7. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata : Sesungguhnya seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw: Ya Rasulullah saya terlanjur menyetubuhi istri saya (pada siang hari) padahal saya dalam keadaan puasa (Ramadhan ), maka Rasulullah Saw bersabda: Punyakah kamu seorang budak untuk dimerdekakan? Ia menjawab: Tidak. Rasulullah Saw bersabda: Mampukah kamu puasa dua bulan berturut-turut? Lelaki itu menjawab: Tidak. Beliau bersabda lagi: Punyakah kamu persediaan makanan untuk memberi makan enam puluh orang miskin? Lelaki itu menjawab: Tidak. Lalu beliau diam, maka ketika kami dalam keadaan semacam itu, Rasulullah datang dengan membawa satu keranjang kurma, lalu bertanya: di mana orang yang bertanya tadi? Ambilah kurma ini dan shadaqahkan dia. Maka orang tersebut bertanya: Apakah kepada orang yang lebih miskin dari padaku ya Rasulullah? Demi Allah tidak ada di antara sudut-sudutnya (Madinah ) keluarga yang lebih miskin daripada keluargaku. Maka Nabi saw. lalu tertawa sampai terlihat gigi serinya kemudian bersabda: Ambillah untuk memberi makan keluargamu (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

Hal-hal yang dapat membatalkan puasa (Ramadhan) ialah:
1. Sengaja makan dan minum pada siang hari. Bila terlupa makan dan minum pada siang hari, maka tidak membatalkan puasa (dalil 2).
2. Sengaja membikin muntah, bila muntah dengan tidak disengajakan, maka tidak membatalkan puasa (dalil 3).
3. Pada siang hari terdetik niat untuk berbuka (dalil 5 dan 6).
4. Dengan sengaja menyetubuhi istri pada siang hari Ramadhan, ini di samping puasanya batal ia terkena sanksi berupa memerdekakan seorang hamba, bila tidak mampu maka puasa dua bulan berturut-turut, dan bila tidak mampu, maka memberi makan enam puluh orang miskin (dalil 7).
5. Datang bulan pada siang hari Ramadhan (sebelum waktu masuk Maghrib) (dalil 4).

VIII. HAL-HAL YANG BOLEH DIKERJAKAN WAKTU PUASA
1. Diriwayatkan dari Aisyah ra Bahwa sesungguhnya Nabi saw. dalam keadaan junub sampai waktu Shubuh sedang beliau sedang dalam keadaan puasa, kemudian mandi (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
2. Diriwayatkan dari Abi Bakar bin Abdurrahman, dari sebagian sahabat-sahabat Nabi saw. ia berkata kepadanya: Dan sungguh telah saya lihat Rasulullah saw. menyiram air di atas kepala beliau padahal beliau dalam keadaan puasa karena haus dan karena udara panas (HR. Ahmad, Malik dan Abu Daud).
3. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. Bahwa sesungguhnya Nabi saw berbekam sedang beliau dalam keadaan puasa (HR. Al-Bukhary).

4. Diriwayatkan dari Aisyah ra Adalah Rasulullah saw mencium (istrinya) sedang beliau dalam keadaan puasa dan menggauli dan bercumbu rayu dengan istrinya (tidak sampai bersetubuh) sedang beliau dalam keadaan puasa, akan tetapi beliau adalah orang yang paling kuat menahan birahinya (HR. Al-Jama’ah kecuali Nasa’i).

5. Diriwayatkan dari Abdullah bin Furuuj: Bahwa sesungguhnya ada seorang wanita bertanya kepada Ummu Salamah ra. Wanita itu berkata: Sesungguhnya suami saya mencium saya sedang dia dan saya dalam keadaan puasa, bagaimana pendapatmu? Maka ia menjawab: Adalah Rasulullah r pernah mencium saya sedang beliau dan saya dalam keadaan puasa (HR. Aththahawi dan Ahmad dengan sanad yang baik dengan mengikut syarat Muslim).
6. Diriwayatkan dari Luqaidh bin Shabrah : Sesungguhnya Nabi saw bersabda: Apabila kamu ber-istinsyaaq (menghisap air ke hidung) keraskan kecuali kamu dalam keadaan puasa. (HR. Ashhabus Sunan).
7. Perkataan ibnu Abbas : Tidak mengapa orang yang puasa mencicipi cuka dan sesuatu yang akan dibelinya (Ahmad dan Al-Bukhary).

Hal-hal di bawah ini bila diamalkan tidak membatalkan puasa:
1. Menyiram air ke atas kepala pada siang hari karena haus ataupun udara panas, demikian pula menyelam kedalam air pada siang hari.
2. Menta’khirkan mandi junub setelah adzan Shubuh (dalil 1).
3. Berbekam pada siang hari (dalil 3).
4. Mencium, menggauli, mencumbu istri tetapi tidak sampai bersetubuh di siang hari (dalil 4 dan 5).
5. Beristinsyak (menghirup air kedalam hidung) terutama bila akan berwudhu, asal tidak dikuatkan menghirupnya (dalil 6).
6. Disuntik pada siang hari.
7. Mencicipi makanan asal tidak ditelan (dalil 7).

IX. ADAB-ADAB PUASA RAMADHAN.
1. Diriwayatkan dari Umar bin Khaththab ra. telah bersabda Rasulullah saw: Apabila malam sudah tiba dari arah sini dan siang telah pergi dari arah sini, sedang matahari sudah terbenam, maka orang yang puasa boleh berbuka (HR. Al-Bukhary dan Muslim).
2. Diriwayatkan dari Sahal bin Sa’ad: Sesungguhnya Nabi saw telah bersabda: Manusia (umat Islam ) masih dalam keadaan baik selama mentakjilkan (menyegerakan) berbuka (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

3. Diriwayatakan dari Anas ra., ia berkata : Rasulullah saw berbuka dengan makan beberapa ruthaab (kurma basah ) sebelum shalat, kalau tidak ada maka dengan kurma kering, kalau tidak ada maka dengan meneguk air beberapa teguk (HR. Abu Daud dan Al-Hakiem).
4. Diriwayatkan dari Salman bin Amir, bahwa sesungguhnya Nabi saw. telah bersabda: Apabila salah seorang di antara kamu puasa hendaklah berbuka dengan kurma, bila tidak ada kurma hendaklah dengan air, sesungguhnya air itu bersih (HR. Ahmad dan At-Tirmidzi).

5. Diriwayatkan dari Ibnu Umar, Adalah Nabi Saw selesai berbuka Beliau berdo’a (artinya) telah pergi rasa haus dan menjadi basah semua urat-urat dan pahala tetap ada Insya Allah (HR. Ad-Daaruquthni dan Abu Daud hadits hasan).
6. Diriwayatkan dari Anas, ia berkata: Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila makan malam telah disediakan, maka mulailah makan sebelum shalat Maghrib, janganlah mendahulukan shalat daripada makan malam itu (yang sudah terhidang) (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

7. Diriwayatkan dari Anas bin Malik ra: Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: Makan sahurlah kalian karena sesungguhnya makan sahur itu berkah (HR. Al-Bukhary).
8. Diriwayatkan dari Al-Miqdam bin Ma’di Yaqrib, dari Nabi saw. bersabda: Hendaklah kamu semua makan sahur, karena sahur adalah makanan yang penuh berkah (HR. An-Nasa’i).
9. Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit ia berkata: Kami bersahur bersama Rasulullah saw. lalu kami bangkit untuk menunaikan shalat (Shubuh ). Saya berkata: Berapa saat jarak antara keduanya (antara waktu sahur dan waktu Shubuh)? Ia berkata: Selama orang membaca limapuluh ayat (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

10. Diriwayatkan dari Amru bin Maimun, ia berkata: Adalah para sahabat Muhammad Saw adalah orang yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan makan sahur (HR. Al-Baihaqi).
11. Telah bersabda Rasulullah saw: Apabila salah seorang diantara kamu mendengar adzan dan piring masih di tangannya janganlah diletakkan hendaklah ia menyelesaikan hajatnya (makan/minum sahur) daripadanya. (HR. Ahmad dan Abu Daud dan Al-Hakiem).

12. Diriwayatkan dari Abu Usamah ra. ia berkata: Shalat telah di’iqamahkan, sedang segelas minuman masih di tangan Umar ra., ia bertanya: Apakah ini boleh saya minum wahai Rasulullah? Beliau menjawab: Ya, lalu ia meminumnya (HR Ibnu Jarir).
13. Diriwayatkan dari Ibnu Abbas ra. ia berkata:Adalah Rasulullah saw. orang yang paling dermawan dan beliau lebih dermawan lagi pada bulan Ramadhan ketika Jibril menemuinya, dan Jibril menemuinya pada setiap malam pada bulan Ramadhan untuk mentadaruskan beliau Al-qur’an dan benar-benar Rasulullah saw lebih dermawan tentang kebajikan (cepat berbuat kebaikan) daripada angin yang dikirim (HR Al-Bukhary).

14. Diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata :Adalah Rasulullah saw. menggalakkan qiyamullail (shalat malam ) di bulan Ramadhan tanpa memerintahkan secara wajib, maka beliau bersabda: Barangsiapa yang shalat malam pada bulan Ramadhan karena beriman dan mengharapkan pahala dari Allah, maka diampuni baginya dosanya yang telah lalu (HR. Jama’ah).
15. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Nabi saw. apabila memasuki sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) beliau benar-benar menghidupkan malam (untuk beribadah) dan membangunkan istrinya (agar beribadah) dengan mengencangkan ikatan sarungnya (tidak mengumpuli istrinya). (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

16. Diriwayatkan dari Aisyah, ia berkata: Adalah Nabi saw. bersungguh-sungguh shalat malam pada sepuluh hari terakhir (bulan Ramadhan) tidak seperti kesungguhannya dalam bulan selainnya (HR. Muslim).
17. Diriwayatkan dari Abu salamah din Abdur Rahman, sesungguhnya ia telah bertanya kepada Aisyah ra: Bagaimana shalat malamnya Rasulullah saw di bulan Ramadhan? Maka ia menjawab: Rasulullah saw tidak pernah shalat malam lebih dari sebelas raka’at baik bulan Ramadhan maupun bulan lainnya, caranya: beliau shalat empat raka’at, jangan tanya baik dan panjangnya, lalu shalat lagi empat raka’at, jangan ditanya baik dan panjangnya, lalu shalat tiga raka’at (HR. Al-Bukhary, Muslim, dan lainnya).

18. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah Saw jika bangun shalat malam, beliau membuka dengan shalat dua raka’at yang ringan, lalu shalat delapan raka’at, lalu shalat witir. (HR. Muslim).
19. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ia berkata: Ada seorang laki-laki berdiri lalu ia berkata: Wahai Rasulullah bagaimana cara shalat malam? Maka Rasulullah menjawab: Shalat malam itu dua raka’at-dua raka’at. Apabila kamu khawatir masuk shalat Shubuh, maka berwitirlah satu raka’at (HR. Jama’ah).

20. Dari Aisyah ra. ia berkata: Sesungguhnya Nabi saw shalat di masjid, lalu para sahabat shalat sesuai dengan shalat beliau (bermakmum di belakang), lalu beliau shalat pada malam kedua dan para sahabat bermakmum di belakangnya bertambah banyak, kemudian pada malam yang ketiga atau yang keempat mereka berkumpul, maka Rasulullah saw tidak keluar mengimami mereka. Setelah pagi hari beliau bersabda: Saya telah tahu apa yang kalian perbuat, tidak ada yang menghalangi aku untuk keluar kepada kalian (untuk mengimami shalat) melainkan aku khawatir shalat malam ini difardhukan atas kalian. Ini terjadi pada bulan Ramadhan. (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

21. Dari Ubay bin Ka’ab ia berkata: Adalah Rasulullah saw. shalat witir dengan membaca: Sabihisma Rabbikal A’la dan Qul ya ayyuhal kafirun dan Qulhu wallahu ahad. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, dan Ibnu Majah).
22. Diriwayatkan dari Hasan bin Ali ia berkata: Rasulullah Saw telah mengajarkan kepadaku beberapa kata yang aku baca dalam Qunut Witir (artinya) “Ya Allah berilah aku petunjuk beserta orang-orang yang telah engkau beri petunjuk, berilah aku kesehatan yang sempurna beserta orang yang telah engkau beri kesehatan yang sempurna, pimpinlah aku beserta orang yang telah Engkau pimpin, Berkatilah untukku apa yang telah Engkau berikan, peliharalah aku dari apa yang telah Engkau tentukan. Maka sesungguhnya Engkaulah yang memutuskan dan tiada yang dapat memutuskan atas Engkau, bahwa tidak akan hina siapa saja yang telah Engkau pimpin dan tidak akan mulia siapa saja yang Engkau musuhi. Maha agung Engkau wahai Rabb kami dan Maha Tinggi Engkau. (HR. Ahmad, Abu Daud, An-Nasa’i, At-Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

23. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Nabi saw. bersabda: Barangsiapa yang shalat malam menepati Lailatul Qadar, maka diampuni dosanya yang telah lalu (HR. Jama’ah).
24. Diriwayatkan dari Aisyah ra. Sesungguhnya Rasulullah saw. telah bersabda: berusahalah untuk mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir. (HR. Muslim).
25. Diriwayatkan dari Ibnu Umar ra. ia berkata: Dinampakkan dalam mimpi seorang laki-laki bahwa Lailatul Qadar pada malam ke-27, maka Rasulullah saw. bersabda: Saya pun bermimpi seperti mimpimu (ditampakkan pada sepuluh malam terakhir, maka carilah ia (Lailatul Qadar) pada malam-malam ganjil (HR. Muslim).

26. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata : Saya berkata kepada Rasulullah saw. Ya Rasulullah, bagaimana pendapat Tuan bila saya mengetahui Lailatul Qadar,apa yang saya harus baca pada malam itu? Beliau bersabda : Bacalah (artinya) “Yaa Allah sesungguhnya Engkau maha pemberi ampun, Engkau suka kepada keampunan maka ampunilah daku” (HR. At-Tirmidzi dan Ahmad ).
27. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata, Adalah Rasulullah Saw mengamalkan i’tikaf pada sepuluh hari terakhir pada bulan Ramadhan sampai beliau diwafatkan oleh Allah Azza wa Jalla (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

28. Diriwayatkan dari Aisyah ra, ia berkata, Adalah Rasulullah Saw jika hendak beri’tikaf, beliau shalat shubuh kemudian memasuki tempat i’tikafnya… (HR. Jama’ah kecuali At-Tirmidzi).
29. Diriwayatkan dari Aisyah ra. ia berkata: Adalah Rasulullah Saw jika beri’tikaf, beliau mendekatkan kepalanya kepadaku, maka aku menyisirnya, dan adalah beliau tidak masuk ke rumah kecuali karena untuk memenuhi hajat manusia (buang air, mandi, dll…) (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

30. “Janganlah kalian mencampuri mereka (istri-istri kalian) sedang kalian dalam keadaan i’tikaf dalam masjid. Itulah batas-batas ketentuan Allah, maka jangan didekati” (Al-Baqarah:187).
31. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra. ia berkata, telah bersabda Rasulullah Saw, setiap amal anak bani Adam adalah untuknya kecuali puasa, ia adalah untukku dan aku yang memberikan pahala dengannya. Dan sesungguhnya puasa itu adalah benteng pertahanan, pada hari ketika kamu puasa janganlah berbuat keji, jangan berteriak-teriak (pertengkaran), apabila seorang memakinya sedang ia puasa maka hendaklah ia katakan: “Sesungguhnya saya sedang puasa”. Demi jiwa Muhammad yang ada di tangan-Nya, sungguh bau busuknya mulut orang yang sedang puasa itu lebih wangi di sisi Allah pada hari kiamat daripada kasturi. Dan bagi orang yang puasa ada dua kegembiraan, jika ia berbuka ia gembira dengan bukanya dan bila ia berjumpa dengan Rabbnya ia gembira karena puasanya (HR. Al-Bukhary dan Muslim).

32. Diriwayatkan dari Abu Hurairah ia berkata, sesungguhnya Nabi Saw telah bersabda, barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan bohong dan amalan kebohongan, maka tidak ada bagi Allah hajat (untuk menerima) dalam hal ia meninggalkan makan dan minumnya (HR. Jama’ah Kecuali Muslim). Maksudnya, Allah tidak merasa perlu memberi pahala puasanya.
33. Bahwa sesungguhnya Nabi saw. bersabda kepada seorang wanita Anshar yang sering di panggil Ummu Sinan: Apa yang menghalangimu untuk melakukan haji bersama kami? Ia menjawab: Keledai yang ada pada kami yang satu dipakai oleh ayahnya si fulan (suaminya ) untuk berhaji bersama anaknya sedang yang lain di pakai untuk memberi minum anak-anak kami. Nabi pun bersabda lagi: Umrah di bulan Ramadhan sama dengan mengerjakan haji atau haji bersamaku (HR. Muslim).

34. “Apabila datang bulan Ramadhan kerjakanlah umrah karena umrah di dalamnya (bulan Ramadhan) setingkat dengan haji (HR. Muslim).

Ayat dan hadits-hadits di atas memberi pelajaran kepada kita bahwa dalam mengamalkan puasa Ramadhan kita perlu melaksanakan adab-adab sebagai berikut:
1. Berbuka apabila sudah masuk waktu Maghrib (dalil 6). Sunnah berbuka adalah disegerakan, yakni sebelum melaksanakan shalat Maghrib dengan makanan yang ringan seperti kurma, air saja, setelah itu baru melaksanakan shalat (dalil 2, 3, dan 4). Tetapi apabila makan malam sudah dihidangkan, maka terus dimakan, jangan shalat dahulu (dalil 6).
2. Makan sahur (dalil 7 dan 8). Adab-adab sahur: dilambatkan sampai akhir malam mendekati Shubuh (dalil 9 dan 10) dan jika pada tengah makan atau minum sahur lalu mendengar adzan Shubuh, maka sahur boleh diteruskan sampai selesai, tidak perlu dihentikan di tengah sahur karena sudah masuk waktu Shubuh. (dalil 11 dan 12). Imsak tidak ada sunnahnya dan tidak pernah diamalkan pada zaman sahabat maupun tabi’in.
3. Lebih bersifat dermawan (banyak memberi, banyak bershadaqah, banyak menolong) dan banyak membaca al-Qur’an (dalil 13).
4. Menegakkan shalat malam/shalat tarawih dengan berjama’ah dan lebih digiatkan pada sepuluh malam terakhir (dalil 14, 15, dan 16). Cara shalat tarawih adalah dengan berjama’ah (dalil 19), tidak lebih dari 11 (sebelas) raka’at, yakni salam tiap dua raka’at dikerjakan empat kali, atau salam tiap empat raka’at dikerjakan dua kali dan ditutup dengan witir tiga raka’at (dalil 17), dibuka dengan dua raka’at yang ringan (dalil 18).
5. Berusaha menepati Lailatul Qadar pada 10 malam terakhir, terutama pada malam-malam ganjil. Bila dirasakan menepati Lailatul Qadar hendaklah lebih giat beribadah dan membaca : “Yaa Allah Engkaulah pengampun, suka kepada keampunan maka ampunilah aku” (dalil 25 dan 26).

6. Mengerjakan i’tikaf pada sepuluh malam terakhir (dalil 27). Cara i’tikaf: setelah Shalat Shubuh lalu masuk ke tempat i’tikaf di masjid (dalil 28), tidak keluar dari tempat i’tikaf kecuali ada keperluan yang mendesak (dalil 29), dan tidak mencampuri istri selama i’tikaf (dalil 30).
7. Mengerjakan umrah (dalil 33 dan 34).
8. Menjauhi perkataan dan perbuatan keji dan menjauhi pertengkaran (dalil 31 dan 32). Wallahu a’lam bish-shawab. (Sumber: Ustadz Abu Rasyid, sabah.org.my).*

Maroji’1. Al-Qur’anul Kariem, 2. Tafsir Aththabariy. 3. Tafsir Ibnu Katsier. 4. Irwaa-Ul Ghaliel, Nashiruddin Al-Albani. 5. Fiqh Sunnah, Sayyid Sabiq. 6. Tamaamul Minnah, Nashiruddin Al-Albani.*

Agar Pesan Sampai Ke Hati

Oleh: Asfuri Bahri, Lc


Seorang pasien penderita penyakit kanker terbaring di atas tempat tidur di sebuah rumah sakit yang entah rumah sakit ke berapa yang pernah disinggahinya. Dan kali ini pun hasil yang didapat tidak jauh berbeda dengan perawatan sebelumnya. Bahkan dokter yang menanganinya sempat menghampirinya. Sambil mengangkat kedua tangannya ia berkata kepada si pasien, bahwa seluruh upaya medis telah ditempuh. Karena kondisi penyakit yang sangat kritis, agaknya harapan untuk sembuh sangat tipis.

Bisa dibayangkan bagaimana reaksi pasien tersebut. Sedih, gelisah, depresi, tidak ada lagi gairah dan upaya. Berbeda halnya jika si dokter yang merawatnya itu mengatakan hal lain, kondisinya memang sangat parah, namun, menurutnya, masih ada harapan untuk sembuh. Tentu si pasien sangat bergembira mendengarnya. Kata-kata dokter itu akan mempengaruhi semangatnya untuk sembuh.

Kata-kata mempunyai kekuatan yang luar biasa. Bahkan terkadang ia lebih ampuh daripada senjata. Dalam hal ini pepatah lama masih relevan, bahwa lidah lebih tajam daripada pedang. Betapa sering sebuah perang berkobar disebabkan oleh kata. Demikian pula sebaliknya, perang dapat dihentikan oleh sebuah diplomasi atau secarik kertas perjanjian damai. Seorang penulis wanita Jerman, Annemarie Schimmel, berbicara tentang kekuatan kata. “Kata yang baik laksana pohon yang baik. Kata diyakini sebagai suatu kekuatan kreatif oleh sebagian besar agama di dunia; katalah yang mengantarkan wahyu; kata diamanahkan kepada umat manusia sebagai titipan yang harus dijaga, jangan sampai ada yang teraniaya, terfitnah, atau terbunuh oleh kata-kata.”

Karena kata-kata seseorang bisa bergairah, bersemangat, terhibur dari duka, seorang pasien akan mempunyai harapan sembuh oleh kata-kata dokter. Yang terkadang kondisi sesungguhnya berlawanan dengan kata-kata itu, sekadar untuk menerbitkan semangat. Juga karena kata-kata, hati yang tadinya cerah berbunga-bunga menjadi redup sedih. Tadinya optimis menjadi pesimis. Bersemangat menjadi patah arang.

Kata-kata sebagai alat yang ampuh untuk berbagai kepentingan orang. Melobi, mempengaruhi, merayu, menghina, melecehkan, membalaskan sakit hati. Dan kata orang, ia adalah senjata bermata dua. Jika kata-kata itu keluar dari orang baik dan suka melakukan perbaikan, maka dampak yang ditimbulkannya akan positif. Namun jika ia diungkapkan oleh orang jahat dan mencintai tersebarnya kejahatan di muka bumi ini, dampak yang ditimbulkannya tentu kejahatan itu sendiri sebagai produk hatinya yang jahat itu.

Seorang dai dengan tugas dakwahnya mengajak orang kepada Allah dalam taat dan ibadah kepada-Nya. Aktivitas dakwahnya sangat didominasi oleh penyampaian kata-kata. Sebab sasaran yang hendak dituju adalah akal manusia itu sendiri. Jika tujuan dakwah adalah melakukan perubahan (taghyir), maka faktor utama yang dapat mempengaruhi proses perubahan adalah akal pikiran. Dengan adanya perubahan pada tataran pemahaman dan pola pikir, maka perubahan persepsi dan tingkah laku bisa terjadi.

Penyampaian kata-kata bahkan menjadi titik tekan tugas para nabi dan rasul. Seperti yang Allah tegaskan kepada Rasulullah saw. Allah berfirman, “Jika mereka berpaling maka Kami tidak mengutus kamu sebagai pengawas bagi mereka. Kewajibanmu tidak lain hanyalah menyampaikan (risalah).” (As-Syura: 48)

Sebagai penerus tugas para nabi dan rasul, seorang dai berdakwah menyampaikan risalah kepada manusia. Hendaknya ia selalu meningkatkan kemampuan dan kreativitasnya dalam memasarkan risalah ini kepada manusia. Berbagai kajian dan petunjuk tentang kata-kata dan ceramah yang berkesan telah banyak ditulis para ulama. Namun muaranya tidak jauh berputar pada beberapa poin berikut ini:

1. Kuatnya Hubungan dengan Allah

Hubungan yang menguatkannya, yang menjadi rujukan, tempat menyandarkan diri, kepada-Nya ia mengadu, berdoa, dan berbagi. Seorang dai mengajak orang lain menuju Allah. Bagaimana mungkin ia dapat mengajak kepada sesuatu jika ia sendiri jauh dengannya dan lemah hubungannya dengan sesuatu itu. Syeikh Muhammad Ghazali menyebutkan sifat ini sebagai pilar utama seorang dai, yang tidak boleh diabaikan. Sebab jika setiap muslim berkewajiban membina hubungan baik dengan Allah, apatah lagi seorang dai.

Sejarah telah menjadi saksi bahwa tidak ada seorang nabi pun atau pelaku perbaikan kecuali ia mempunyai hubungan yang kuat dengan Allah. Jalinan mereka dengan Allah sangat kuat, hidup, dan selalu segar. Tidak pernah putus barang sekejap pun dan tidak pernah layu. Terlihat dalam aktivitas kesehariannya, saat bersama orang lain terlebih saat sendiri. Syeikh Abdurrahman As-Sa’ati, ayah Imam Syahid Hasan Al-Banna mengisahkan kegiatan anaknya ketika berada di rumah,

“Di antara akhlaqnya adalah berpaling dari banyak orang dan hanya menyendiri bersama Rabbnya, tidak ada yang tahu selain keluarga dekatnya saja. Di rumahnya –Allah yang menjadi saksi- tidak pernah lepas dari mushaf, tidak berhenti membaca, tidak pernah lalai dari zikir, ia membaca Al-Qur’an memperdengarkan bacaannya kepada salah seorang hafizh di antara kami. Jika tidak ada seorang hafizh kecuali anak kecil, ia pun muraja’ah hafalannya dengan anak itu. Rumahnya penuh dengan bacaan Al-Qur’an, sujud, larut dalam dzikir, dan mendaki ke ketinggian langit spiritual. Ketika ia tahu cara Nabi membaca Al-Qur’an maka ia praktekkan, termasuk waqaf-waqaf di mana Rasulullah berhenti, ia pun berhenti. Terkadang badannya gemetaran, hatinya penuh ketakutan, gelisah pada ayat-ayat ancaman, terhadap ayat-ayat gembira ia berbinar-binar, jauh dari suasana di mana ia hidup, jauh terbawa makna ayat-ayat itu.”

Dan semua orang yang pernah mendengar pidatonya mengakui, betapa Imam Syahid mempunyai kata-kata yang sangat kuat. “Jika ia berpidato, kata-katanya mengalir seolah-olah turun dari langit.” Kata seseorang yang pernah menghadiri ceramahnya.

2. Selalu Memperbaiki Diri

Setiap muslim wajib memperbaiki diri dari segala kekurangan. Apalagi seorang dai. Boleh jadi ini merupakan hasil dari hubungan yang baik dengan Allah. Sebab siapa yang mengingat Allah ia akan teringat akan semua dosa dan kekurangan dirinya serta menyadari semua aib pribadinya. Berbeda halnya dengan orang yang lalai dari zikir. Ia pun akan lalai kepada Allah bahkan lalai kepada dirinya sendiri. Ia berjalan tanpa arah dan petunjuk. Allah berfirman,

“Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang lupa kepada Allah, lalu Allah menjadikan mereka lupa kepada mereka sendiri. mereka Itulah orang-orang yang fasik.” (Al-Hasyr:19)

Sangat berbahaya jika seorang dai mengajak orang melakukan sesuatu sementara dirinya sendiri jauh darinya. Atau mencegah orang dari melakukan sesuatu ia sendiri belum bisa terlepas darinya. Jika demikian, maka seruan dakwah yang dikumandangkannya tak nyaring lagi. Seseorang berkata, “Kalau saya melihat seorang dai merokok, kepercayaan saya kepadanya berkurang dua puluh lima persen.”

Bahkan, tidak hanya ajakannya yang diabaikan orang, ia bisa mendapatkan murka dari Allah.

“Amat besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.” (As-Shaff:3)

Tentu saja hal ini tidak dipahami secara tidak konstruktif, dengan menyibukkan diri sendiri serta tidak peduli kepada perbaikan sekitarnya. Aslih nafsaka wad’u ghairaka (perbaiki dirimu dan ajaklah orang lain), begitu kata orang.

3. Kecerdasan Akal, Kebersihan Hati, dan Pemahaman yang Dalam tentang Islam

Sifat ini hendaknya menjadi watak seorang dai. Yang dengan demikian ia bisa menempatkan segala sesuatu pada tempatnya. Menimbang persoalan dengan timbangan yang benar dan tidak memihak. Dalam bahasa dakwah hal ini bisa disebut sebagai hikmah. Seperti yang Allah firmankan,

“Allah menganugerahkan Al hikmah (kepahaman yang dalam tentang Al-Qur’an dan As Sunnah) kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan barangsiapa yang dianugerahi hikmah, ia benar-benar Telah dianugerahi karunia yang banyak. dan Hanya orang-orang yang berakallah yang dapat mengambil pelajaran (dari firman Allah).” (Al-Baqarah:269)

Menurut Muhammad Al-Ghazali, kecerdasan yang dimaksud, seseorang tidak perlu menjadi jenius. Namun hanya dengan memiliki kemampuan melihat suatu permasalahan apa adanya. Tidak menambah maupun mengurangi. Dengan cara pandang seperti ini seorang dari dapat mendiagnosa sebuah persoalan dengan baik dan pada gilirannya bisa memberikan terapi yang tepat sesuai dengan permasalahan yang dihadapinya. Kata-kata yang disampaikannya menjadi tepat sasaran.

Dengan kemampuan seperti inilah Rasulullah terlihat menyampaikan nasihat yang berbeda-beda, melihat kondisi dan latar belakang psikologis seseorang yang konsultasi kepada beliau. Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Janganlah kamu marah.” Dan Jariyah bin Qudamah, orang yang bertanya itu pun puas dengan jawaban beliau. Bahkan menurut riwayat Thabrani, pahalanya surga, seperti yang beliau sabdakan, “Janganlah kamu marah, maka akan mendapat surga.” Suatu saat beliau hanya mengatakan, “Katakan, aku beriman kepada Allah. Lalu istiqamahlah.”

Kebersihan hati yang dimaksud tentu bukannya kebersihan hati yang setaraf dengan para malaikat. Cukuplah bagi seorang dai memiliki hati yang penuh cinta kepada manusia, cemburu kepada mereka, lembut dan tidak kasar memperlakukan mereka. Ia senang dengan kebaikan mereka dan bukannya senang melihat kesengsaraan mereka. Di hadapannya maupun tidak sikapnya selalu sama. Senantiasa berharap atas kebaikannya. Sehingga antara hatinya dan hati mereka terhadap tali yang menghubungkan. Ketulusan cintanya melahirkan getar saat tangannya berjabat, mulutnya berucap, dan matanya menatap. Doa yang dipanjatkan tanpa sepengetahuan mereka membuat nama-nama mereka selalu hadir dalam hidupnya. Sehingga ketika bertemu, pertemuan itu pun terasa hangat dirasakan oleh mereka.

Kejelasan pemahaman dimiliki karena penguasaannya terhadap konsep universalitas Islam. Hal ini membuatnya mampu mengidentifikasi setiap persoalan. Ia dapat membedakan mana yang bisa dikategorikan sebagai persoalan aqidah dan mana yang bukan. Dengan hal ini pula seorang dai dapat berinteraksi dengan semua lapisan masyarakat dan dapat melihat kekurangan serta kelebihan mereka. Ia juga memiliki skala prioritas dalam dakwahnya.

Dalam menyikapi berbagai perpecahan madzhab dan aliran di Mesir, Hasan Al-Banna dengan Ikhwannya mempunyai sikap yang jelas. “Karena Ikhwan meyakini bahwa perbedaan dalam hal-hal furu’ adalah sebuah keniscayaan. Harus terjadi. Sebab prinsip-prinsip Islam yang berupa ayat-ayat, hadits, amal Nabi bisa dipahami secara berbeda. Oleh karenanya perbedaan semacam ini juga terjadi di kalangan para sahabat. Dan perbedaan itu terus terjadi sampai hari Kiamat. Alangkah bijaknya Imam Malik ra saat ia berkata kepada Abu Ja’far yang ingin memaksa orang mengikuti buku Al-Muwattha’, “Para sahabat Rasulullah berpencar di negeri-negeri. Masing-masing kaum mempunyai ilmu. Jika Anda memaksa mereka kepada satu ilmu, akan terjadi fitnah.” Tidak ada salahnya dengan perbedaan, namun yang salah adalah sikap fanatik terhadap pendapat tertentu dan menutup diri dari pendapat orang lain. Cara pandang semacam ini dapat menyatukan hati yang bersengketa ke dalam kesatuan fikrah. Cukuplah orang-orang bersatu menjadi muslim sebagaimana yang dikatakan Zaid r.a. Pandangan seperti ini sangat penting dimiliki sebuah jamaah yang ingin menyebarkan fikrah pada suatu negeri di mana yang dilanda sebuah konflik tentang masalah yang tidak semestinya diperdebatkan.”

4. Keikhlasan

Keikhlasan merupakan tuntutan yang harus dipenuhi setiap muslim dalam ibadahnya kepada Allah. Sebab ia sebagai syarat diterimanya ibadah. Ibnu Atha’illah berkata, “Amal perbuatan merupkan tubuh yang tegak. Sedangkan ruhnya adalah adanya rahasia di balik amal yang berupa keikhlasan.” Terlebih lagi bagi seorang dai dan aktivis. Aktivitas dakwahnya adalah sebaik-baik amal dan sarana taqarrub kepada Allah, tentu keikhlasan menjadi lebih urgen lagi. Seorang dai hendaknya menjauhkan kepentingan pribadi yang berupa sebutan, imbalan, dan pengaruh pribadi karena aktivitas dakwahnya.

Keikhlasan tentu saja ada buahnya. Aktivitas dakwah yang dilandasi dengan keikhlasan tentu berbeda hasilnya dengan yang dilakukan karena pamrih. Bersamaan dengan kata-kata yang diucapkan, interaksi yang dilakukan, dan kegiatan yang dilaksanakan seorang dai selalu menambatkan hatinya kepada Dzat yang menguasai dan membolak-balikkan hati. Kata orang Arab, “Kata-kata yang keluar dari hati akan sampai kepada hati pula.”

Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya Allah itu baik dan tidak menerima selain kebaikan.” Bagi seorang dari, kebaikan yang hendak dipersembahkan kepada Allah adalah keyakinannya terhadap keutamaan dakwahnya dan harapannya yang ditambatkan kepada ridha Allah semata.

5. Keluasan Wawasan

Dakwah di zaman modern sekarang ini harus didukung oleh keluasan wawasan. Karena seorang dai bertugas mengarahkan dan membimbing manusia dengan segala strata sosial dan intelektual mereka. Ia berbicara dengan dokter, pasien, guru, pegawai, kuli, insinyur, pedagang, orang pintar, dan orang bodoh. Mestinya ada penguasaan wawasan yang dapat memasuki pola pikir mereka semua.

Tidak harus menguasai semua disiplin ilmu secara mendalam, namun wawasan global tentang berbagai persoalan hendaknya dipahami. Kecuali wawasan keislaman yang secara asasi harus dikuasai. Pemahaman terhadap Al-Qur’an dan Sunnah serta wawasan keislaman lain; budaya Islam, sejarah Islam, dan lain-lain. Oleh karena itulah Imam Syahid Hasan Al-Banna memberikan tekanan khusus kepada sisi ini dan itu sebagai salah satu karakter dakwahnya. Bahwa dakwah Ikhwan juga bercirikan Jamaah Ilmiyah Tsaqafiyah (organisasi ilmu pengetahuan dan wawasan). Dan semua sarana yang dimilikinya pada dasarnya untuk membina intelektual, hati, dan jasad para anggotanya.

Keluasan wawasan yang dimiliki seorang dai membuatnya mampu menemukan ‘pembuka hati’ bagi orang-orang yang menjadi objek dakwahnya. Ketika berkomentar tentang wawasan Abu Bakar yang paling tahu tentang nasab suku Quraisy dan paling tahu tentang apa yang baik dab buruk mereka, Munir Muhammad Al-Ghadhban berkata, “Pengetahuan tidak kalah penting daripada akhlaq. Yang dituntut dalam masalah ini bukan segala macam pengetahuan. Tetapi pengetahuan mengenai masyarakat dan kecenderungan-kecenderungannya. Pengetahuan yang menjelaskan karakteristik jiwa manusia. Pengetahuan inilah yang akan memberikan daya gerak kepada dai yang merupakan pintu masuk ka hati mad’u. Setiap hati memiliki ‘kunci’, dan tugas seorang dai adalah untuk mendapatkan kunci itu agar ia bisa memasuki hatinya lalu hati itu menyambutnya.”

6. Menguasai Metodologi Komunikasi

Sebab ada pepatah Arab mengatakan, likulli maqam maqal (bagi masing-masing momen ada ungkapannya). Dan masing-masing orang memiliki kecenderungan terhadap satu bentuk komunikasi tertentu. Ada yang suka dengan gaya bicara yang berapi-api. Ada yang tertarik dengan ceramah yang banyak ‘lawak’nya. Ada pula yang tidak suka terhadap hal-hal yang monoton dan serius dan ia lebih suka kalau ceramah banyak diselingi ilustrasi. Kemampuan memilih model komunkasi yang tepat akan menjadi daya tarik yang dapat menggait hati. Rasulullah saw bersabda, “Sesungguhnya kejelasan (komunikasi) adalah sihir.”

Al-Bahi Khauli merekomendasikan kepada seorang dai agar menggunakan beberapa metodologi dalam aktivitas dakwah yang dilakukannya. Di antaranya adalah:

1. Kisah: karena dengan kisah sesuatu yang bersifat normatif bisa lebih mudah dipahami. Karena nilai-nilai itu berubah menjadi kaki yang berjalan, tangan yang bergerak, dan mulut yang berucap. Barangkali inilah di antara rahasia Al-Qur’an yang menggunakan metode kisah sebagai salah satu sarananya. Agar Islam dapat dipahami sebagai agama yang realistis dan tidak hanya bersifat kelangitan tanpa bisa diterapkan dalam kehidupan nyata. Terbukti para pelaku sejarah itu mampu melakukannya. Di samping ia juga menjadi pelajaran bagi orang-orang beriman.
2. Perumpamaan: karena dengan perumpamaan dapat mendekatkan yang jauh dan menjelaskan yang buram, juga menentukan kadar sesuatu yang abstrak. Al-Qur’an dan hadits sendiri seringkali menggunakan perumpamaan sebagai sarana menjelaskan kepada kaum Muslimin tentang ajaran Islam. Tentang hakikat amal perbuatan orang-orang kafir Allah berfirman, ” Dan orang-orang yang kafir amal-amal mereka adalah laksana fatamorgana di tanah yang datar, yang disangka air oleh orang-orang yang dahaga, tetapi bila didatanginya air itu dia tidak mendapatinya sesuatu apapun. Dan didapatinya (ketetapan) Allah di sisinya, lalu Allah memberikan kepadanya perhitungan amal-amal dengan cukup dan Allah adalah sangat cepat perhitungan-Nya.” (An-Nur:39)
3. Perbandingan: dan tujuannya adalah untuk menjelaskan kadar keterpautan sebuah nilai. Dalam salah satu sabdanya Rasulullah bersabda, “Shalat berjamaah lebih mulia daripada shalat sendiri dengan selisih dua puluh tujuh derajat.” Juga sabda beliau, “Perbandingan antara orang berilmu dan yang tidak berilmu seperti perbandinganku dengan sahabatku yang paling rendah (pengetahuannya.”

6. Berdoa

Setelah seluruh upaya dan sarana dikerahkan untuk menggait orang menuju Allah dalam aktivitas dakwah, seorang dai tidak boleh menyandarkan hasil kepada kemampuan dan upayanya. Upaya itu harus dikembalikan kepada Allah yang menguasai hati dan pikiran. Ini akan menjaganya dari sikap ghurur apabila dakwahnya mendapatkan kemenangan dan menjauhkannya dari berputus asa jika menemui kegagalan. Sebab ia yakin, seberapa hebat sarana yang dikuasainya, ia hanyalah senjata bisa mengenai sasaran dan bisa tidak. Doa juga dapat menutupi segala kekurangan dan kelemahannya. Sebab tidak ada orang yang memiliki semua dan menguasai segalanya secara ideal. Adakalanya seseorang memiliki kelebihan pada satu sisi, namun ia juga memiliki kekurangan pada sisi lain. Dan berdoa adalah ibadah. Adalah senjata seorang mukmin di saat senjata lain tidak mempan. Ketajaman doa dapat menembus sesuatu yang tidak bisa ditembus senjata biasa.

7. Selanjutnya, Hidayah dari Allah

Karena dai hanya menyeru dan menggerakkan potensi yang diberikan Allah. Selanjutnya hasilnya dikembalikan kepada Allah. Sebuah kegagalan, selain harus disikapi secara proporsional dengan melakukan evaluasi aktivitas dakwah dan motivasi amal da’awi, tentu harus dikembalikan kepada kehendak Allah yang berhak memberi hidayah atau tidak memberi. Dan tentu saja tidak berhenti di situ. Optimisme harus selalu ditanamkan dalam diri seberat apapun medan dakwah yang dilalui. Sebab perjalanan belum berakhir. Hidup manusia tidak berhenti sampai di sini. Masih ada harapan untuk berubah dan kembali ke jalan yang benar.

Dengan pemahaman inilah kita tidak pernah menganggap Nabi Nuh gagal dalam dakwahnya. Luth gagal. Shalih gagal. Sebab semua sarana dan prasarana telah dikerahkan untuk mengetuk pintu hati mereka. Rasulullah juga tidak pernah gagal ketika berambisi agar paman tercinta Abu Thalib mendapatkan hidayah. Karena “Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk.” (Al-Qashash:56)

Kegagalan adalah jika si dai itu sendiri terhapus pahala aktivitas dakwahnya karena dosanya atau is sendiri terpental dari aktivitas dakwah, melempar handuk untuk meninggalkan kancah pertarungan. Lalu ia hanya duduk-duduk bersama ‘qa’idin’. Semoga Allah mengokohkan kaki kita dengan kata-kata-Nya yang tetap. Wallahu A’lam. []

Islamic Greeting Card


Islamic Greeting Card by Alhabib

Perawatan Gigi

Perawatan gigi adalah upaya yang dilakukan agar gigi tetap sehat dan dapat menjalankan fungsinya. Gigi yang sehat adalah gigi yang bersih tanpa adanya lubang.

Namun tidak hanya itu, gigi yang sehat juga akan memancarkan energi positif sehingga si Pemiliknya menjadi sangat menarik.

Mengapa gigi harus dirawat?
Begitu pentingnya gigi bagi manusia sehingga gigi perlu dirawat dengan benar. Berikut pentingnya gigi dirawat, antara lain:

Gigi merupakan salah satu organ penting pencernaan. Gigi digunakan untuk mengunyah makanan sebelum masuk ke saluran pencernaan. Jika gigi mengalami gangguan, akan terganggu pula proses pencernaannya.
Gigi yang bermasalah dapat mengganggu aktivitas sehari-hari.
Gigi yang tidak terawat sehingga terkena infeksi dapat menimbulkan penyakit yang lainnya, seperti:
Penyakit jantung dan pembuluh darah
paru
gula
stroke
kanker
Sisa makanan yang masih ada di gigi menyebabkan aktivitas bakteri berlebihan sehingga mulut mengeluarkan bau yang kurang sedap.
Gigi juga berfungsi sebagai keindahan. Gigi adalah komponen lain dalam kecantikan selain kulit tubuh, kulit wajah, mata, bibir, dll. Oleh karena itu, setiap orang ingin punya senyum memikat dengan gigi yang sehat.

Cara-cara Perawatan Gigi
Merawat gigi perlu dilakukan sedini mungkin. Langkah-langkah yang dilakukan dalam merawat gigi adalah sebagai berikut:
Gosok gigi minimal 2 kali sehari.
Ganti sikat gigi 3-4 bulan sekali. Pilih sikat gigi yang bulunya lembut dengan kepala sikat yang dapat menjangkau semua bagian gigi.
Jangan lupa sikat lidah, yang merupakan tempat berkumpulnya bakteri yang dapat menyebabkan bau mulut.
Gunakan pasta gigi yang mencantumkan ADA untuk memastikan kandungan fluoride cukup untuk mencegah lubang dan kerusakan gigi.
Gunakan obat kumur.
Benang gigi, pengunaan benang gigi sekali sehari dianjurkan untuk mengangkat plak yang tidak dapat disentuh sikat gigi dan obat kumur.
Permen karet tanpa gula, mengunyah permen karet tanpa gula dapat meningkatkan aliran air liur yang dapat membersihkan partikel makanan dan asam penyebab kerusakan gigi.
Hindari makanan yang banyak mengandung gula dan manis, seperti sirup, permen, dan cokelat.
Minum air setelah makan.
Biasakanlah untuk makan buah-buahan segar. Selain baik untuk kesehatan, seratnya dapat membantu menghilangkan kotoran yang ada di gigi.
Makanlah makanan yang seimbang dan kaya kalsium, seperti susu, keju, telur, teri, bayam, katuk, sawi, dan agar-agar.

Konsultasi ke Dokter Gigi
Pada kenyataannya, perawatan gigi yang dilakukan secara personal (menyikat gigi dll.) tidaklah cukup. Gigi juga memerlukan perawatan secara profesional, terlebih pada gigi sensitif atau gigi yang telah terlanjur mengalami kerusakan, misalnya, gigi berlubang.
Periksa setiap 6 bulan sekali
Oleh karena itu, sangat dianjurkan untuk memeriksakan gigi ke dokter gigi secara teratur setiap 6 bulan sekali. Konsultasi ke dokter gigi diperlukan untuk mendapatkan tahap-tahap perawatan gigi, terutama pada gigi yang bermasalah.
Patuhi jadwal perawatan
Jika gigi bermasalah, jangan lupa untuk menanyakan kepada dokter akibat yang mungkin timbul dari tindakan yang dilakukan dokter gigi. Patuhi jadwal perawatan. Jangan ke dokter gigi hanya ketika merasa sakit gigi karena keterlambatan penanganan dapat menyebabkan penyakit yang lebih serius lagi.

Oleh: AsianBrain.com Content Team

Memang Dia Bidadari, Sungguh!

Hari ini ia sengaja datang ke kampus lebih pagi. Selain karena tak ingin terlambat di kuliah pertama, ia ada janji bertemu dengan Ustdz. Faridz di musholla kampus. Dia tegakkan dua rakaat shalat Tahiyatul Masjid, disusul dengan 4 rakaat shalat Dluha. Lalu dia tengadahkan tangan melantunkan doa.

Dia menyambung ibadah paginya dengan tilawah tartil sambil menunggu Ustdz. datang. Seorang kawan menghampirinya. Dia tutup tilawahnya setelah menyelesaikan satu pojok.

“Assalamualaikum Akh Ilham…” sapa sang kawan ramah.

“Waalikumussalam warahmatullah… apa kabar akhi?” jawabnya sambil tak lupa bertanya kabar.

“Alhamdulillah ana bikhoiir… antum sendiri gimana? Kabarnya udah siap nikah nih…” mata sang kawan mengerling menggodanya. Dia cuma tersenyum, tak berniat menanggapi gurauannya.

“Akh, di sini ada bidadari.”

Bidadari? Darahnya berdesir. Ah, bidadari, kesannya indah.

“Sini, ana tunjukkan orangnya. Ini akhwat luar biasa, anak kedokteran, prestasinya brilian, aktivis kampus, ketua pembinaan dan kaderisasi akhwat, akhlaknya mengagumkan, ibadahnya tak diragukan. Dia pembina adik ane. Cocok banget sama antum!” kawannya menjelaskan panjang lebar, membuatnya penasaran.

Lalu, telunjuknya mengarah ke sosok seorang akhwat. Tak lama, yang dibilang bidadari itu sudah terlihat jelas.

“Masya Allah… itu yang dibilang bidadari? Mana ada bidadari hitam legam? Yang kubaca dalam Ibnu Katsir, bidadari itu cantik sekali, kulitnya putih transparan seperti putih telur. Eh, mana ada di dunia yang begitu ya.. paling ga, kuning langsatlah. Masa black begitu. Black sweet sih masih banyak yang mau, ini aku belum lihat sweetnya.” Dia menggerutu dalam hati. Tak berminat meneruskan percakapan.

“Akh, ane ke perpustakaan dulu yaa.. bidadari itu, buat antum aja.” Dia berpamitan.

“lho… sama ane mah ga sekufu akh!”

“Ya udah, assalamualaikum.” Ilham beranjak meninggalkan kawannya. Baru beberapa langkah, seorang marbot memanggilnya. Dan menyerahkan amplop putih titipan dari Ustdz. Faridz. Ustdz tidak bisa datang, makanya amplop itu ia titipkan.

“Hmm… ini biodata akhwat yang dijanjikan Ustdz.” langkahnya mantap menuju perpustakaan, tempat paling aman untuk membuka dan membaca biodatanya.

Dia duduk di sana, mengatur nafasnya yang terengah, bukan karena capek, tapi sibuk menahan deburan dalam dada. Perlahan dia membuka amplop itu, sengaja ia tinggalkan selembar foto di dalamnya, dia akan melihatnya nanti.

“Bismillahirrahmaanirrahiim… “ dia kuatkan hati membaca susunan huruf demi huruf dalam biodata. “Akhwat luar biasa, usianya, dua tahun dibawahku, lumayan, lebih muda. Pendidikan, kedokteran umum XX <edited> (sedang koas), Alhamdulillah… ayah dan ummi pasti senang sekali. Sepertinya pas untukku.” Gumannya bahagia. Dia berbunga-bunga. Lalu, diambilnya selembar foto di dalam amplop, ah… sebentar, biar kutenangkan diri… Bismillah…

Ah… kenapa akhwat ini?? Keluhnya. Bunga-bunga yang tadi bermekaran luruh satu persatu, beterbangan diterpa angin. Lunglai tubuhnya seolah tak bertenaga. Sesak memenuhi rongga dada.

Kenapa akhwat ini yang disodorkan padaku? Dia kembali mengeluh. Terbayang kembali akhwat berkulit legam dan sama sekali tidak cantik menurut ukurannya. “Semoga ia bukan jodohku..” doanya lancang. Ustadz… masa sih nyariin aku kayak gini? Kalau kayak gini sih.. aku juga bisa nyari sendiri. Congkak mulai merasuk.

Dikeluarkannya selembar foto. Foto diri yang sangat dibanggakan. Dia menatap mata elang yang mengagumkan. Hidung yang mancung, bentuk muka yang menawan. “Apakah salah jika aku menginginkan akhwat sholihah yang cantik?” Dia mendesah resah.

Dia Memang Bidadari

Ilham berusaha menyerahkan semua keputusan pada Allah. Ia akan berikhtiar dengan wajar dan berdoa dengan kesungguhan. Walau ia belum punya kemantapan namun ia akan mengosongkan perasaan buruk di hatinya. Ia akan berangkat dengan perasaan netral. Ia ingin semua langkah dimulai dengan kebersihan hati, kelurusan niat, ketergantungan yang besar pada Allah, dan kesungguhan ikhtiar. Ia tak ingin mengedepankan nafsu apalagi diiringi segala penyakit yang mengusamkan kalbu.

Taaruf yang ia jalani, bersama ukhti Dede —–nama akhwat yang disodorkan Ustdz. Faridz—– sangat wajar dan biasa saja. Ia didampingi Ustdz. Faridz, sedangkan Dede didampingi istri beliau. Komunikasi berjalan dengan baik, penyatuan persepsi lancar, pengungkapan kondisi keluarga dan latar belakangnya juga lancar.

Ilham merasakan ada yang menarik hatinya. Wajah berkulit hitam itu memendarkan cahaya. Benar kata adiknya, jika berbicara sedap dipandang dan didengar. Inilah relativitas kecantikan, meski ada kecantikan yang diakui semua orang.

Ilham sempat deg-degan dan merasa was-was ikhtiarnya akan gagal ketika orangtua Dede mengujinya.

“Abah sudah dengar tentang kebaikan akhlak dan aktivitasmu. Sekarang Abah ingin mendengar langsung bacaan Quranmu. Abah tak akan menyerahkan putri Abah pada seseorang yang tidak bagus bacaan Qurannya.” Begitulah ujiannya. Alhamdulillah semua lancar dan ia diterima meski banyak catatan.

Hingga tibalah waktu yang dinanti. Hari ini seharusnya Ilham dan keluarganya datang untuk mengkhitbah Dede. Hari ini seharusnya rombongan berangkat dengan wajah berseri. Namun, Allah membuat rencana yang sangat berbeda. Ilham yang semalam penuh diliputi senyum simpul, kini banyak menunduk dan beristighfar.

Sungguh siapa sangka, lamaran kali ini gagal. Dede, sang aktivis dakwah yang telah menjual diri dan jiwanya untuk berjihad fii sabiilillah, pulang ke rumah orang tuanya, bukan untuk dilamar, melainkan untuk dimakamkan.

Takdir Allah terjadi atasnya. Selama ini ia giat berdakwah di sebuah desa tertinggal. Desa yang dahulu nyaris kehilangan keislamannya, bergairah kembali dengan pembinaan rutin dari Dede dan kawan-kawannya. Rupanya, hal itu tidak disenangi oleh misionaris yang selama ini hampir berhasil memurtadkan penduduk desa itu.

Dia dibunuh, dalam perjalanannya sepulang dari baksos di desa itu. Dan ia dibunuh, karena mempertahankan akidahnya. Karena mereka tidak berhasil memaksanya untuk menukar keyakinannya dan meninggalkan aktivitas dakwahnya.

Ilham tercenung menatap tanah merah basah di pekuburan itu. Di dalamnya bersemayam jasad sang mujahidah. Bidadari yang hendak disuntingnya. Semilir angin menghembuskan wangi kesturi, wangi para syuhada.

Dalam desahnya ia bergumam,

“Kau ternyata wanita agung. Kau lebih mulia daripada bidadari. Seorang Ilham tak diizinkan Allah untuk sekedar mengkhitbahmu, apalagi memilikimu. Maafkan aku, yang dulu sempat sombong terhadapmu.” Wajahnya tertunduk dalam.

“Subhanallah… aku tak mengira bahwa kau adalah bidadari yang diturunkan Allah untukku. Allah menurunkanmu bukan untuk kumiliki, tetapi untuk menegurku dari segala kesombongan.” Gumamnya penuh penyesalan.

 **Kiriman dari Lembaga Muslimah Wahdah Bandung**

Mix and Match Warna Pakaian Tanpa Hilangkan Syar’i

Oleh: Tetsuko Eika (Penulis dan jurnalis)

Sudah menjadi fitrah kaum hawa ingin terlihat cantik dan berpenampilan menarik. Bahkan, tak sedikit para wanita masa kini yang berani memadupadankan warna pakaian dengan berbagai macam warna yang bervariasi untuk memperindah penampilan. Islam memang tidak melarang kaum wanita untuk berpenampilan menarik dan rapi. Bahkan, di dalam Hadits riwayat Muslim pun dikatakan bahwa Allah Swt itu Maha Indah dan menyukai keindahan. Tapi, pakaian yang indah seperti apakah yang syar’i itu? Yang tidak hanya berfungsi untuk melindungi tubuh dari cuaca panas atau dingin, namun busana yang tetap sesuai dengan ajaran Islam. Nah, berikut beberapa tips mix and match warna pakaian tanpa menghilangkan nilai-nilai Islami:

1.      Jangan gunakan baju yang ketat dan menerawang atau tipis

Sebelum mix and match warna dimulai, tips pertama ini berlaku untuk semua pakaian yang Anda pakai sehari-hari. Mengapa tidak boleh ketat dan menerawang? Karena selain dapat memperlihatkan lekuk tubuh dan mengundang syahwat kaum adam, dengan berpakaian ketat dan tipis, bisa melanggar nilai-nilai syar’i yang diajarkan Rasulullah. Dan, yang lebih berbahayanya lagi, bisa membuat terjerumus dalam perbuatan dosa. Jadi, Pilihlah pakaian yang longgar, tertutup namun tidak terlalu kebesaran, pilih juga bahan pakaian yang nyaman dipakai dan mampu menyerap keringat dengan baik.

2.      Kenakan warna pakaian yang tepat dengan kulit Anda

Jika kulit Anda berwarna gelap, kenakan warna – warna cerah seperti putih, krem, abu-abu atau baby blue. Untuk kulit berwarna putih, pilihan warna yang dapat di gunakan lebih banyak. Anda bisa mengenakan warna yang lembut atau pastel.

3.      Inovasikan warna netral

Para muslimah rata-rata setia dengan warna netral, yaitu; hitam, putih atau abu. Agar tidak bosan dan lebih bervariatif, coba padupadankan dengan warna-warna lainnya. Misalnya untuk warna gamis atau atasan berwarna putih atau hitam, Anda bisa mix and match dengan jilbab berwarna  merah, kuning, coklat, atau ungu. Jika warna abu, bisa dikolaborasikan dengan warna biru, merah muda atau krem.

4.      Hindari menggunakan bawahan berwarna terang

Untuk bawahan, misalnya rok panjang, usahakan untuk tidak menggunakan warna-warna terang seperti; merah, kuning atau orange. Kenakan warna-warna netral atau gelap. Hindarkan juga memadukan warna abu-abu dengan warna terang seperti kuning.

5.      Coba mix and match warna alam

Bagi Anda yang gemar menggunakan warna-warna kalem atau alam, seperti warna pasir, batu bata, hijau hutan, lumpur cokelat, sangat pas bila dipadankan dengan warna senada berry seperti violet, fuchsia, dan magenta. Namun, padukan warna dengan level gelap atau cerah yang sama, seperti hijau hutan dan burgundy, keduanya memiliki tingkat gelap yang selevel. Sehingga match pakaian terasa lebih seimbang dan senada.

6.      Sesuaikan warna pakaian dengan waktu dan tempat

Tidak semua warna itu tepat digunakan dalam setiap situasi. Gunakanlah warna gelap atau soft untuk acara formal. Sedangkan warna terang untuk acara informal. Pandai-pandailah memilah warna pakaian untuk kegiatan Anda sehari-hari.

7.      Jangan berlebihan

Dalam Islam, berlebihan ini disebut sebagai israf. Sebagai seorang muslimah yang baik tentu harus menghindari sifat tersebut. Pemilihan warna dalam berbusana pun tentu tidak boleh terlalu berlebihan. Karena jika terlalu  berlebihan, dikhawatirkan akan timbul perasaan ingin dipuji atau riya’. Yang pasti, pakaian kita harus tetap syar’i dan nyaman dipakai. Selamat nge-mix and match! [Terbit di Majalah Percikan Iman edisi April 2012] 

Indahnya Pendidikan Karakter Bagi Anak

Oleh: Tetsuko Eika (Penulis dan aktivis FLP Jatinangor)       

Siapa yang tak ingin memiliki perangai menawan? Yang akhlaknya senantiasa menjadi teladan, yang hadirnya menuai inspirasi kebaikan, yang keberadaannya mencerahkan lingkungan? Pasti, setiap orang menginginkan perilaku yang baik. Bahkan, seorang penjahat pun pasti akan memilih kaki tangan yang jujur dalam setiap aktivitasnya. Pun, bagi para orangtua, tak ada yang mengharapkan anak-anaknya menjadi brutal. Para orangtua pasti mendamba anak-anak yang memiliki perangai yang menawan, bukan yang urakan ataupun buruk. Ya, semua orang dalam profesi apapun memang menginginkan rekan kerja, sahabat ataupun pendamping hidup yang baik akhlaknya. Memang, pada dasarnya setiap orang ingin memiliki karakter yang baik. Lantas mengapa seseorang bisa memiliki karakter yang buruk?

       Mungkin masih hangat di otak kita beberapa waktu yang lalu, kita marak disuguhi berita tentang “Bang Maman dari Kali Pasir” yang menggegerkan para pendidik dan orangtua. Betapa tidak menghebohkan jika kata-kata yang tidak pantas disampaikan untuk anak kelas 2 SD, disampaikan dengan gamblang di buku Pengenalan Kehidupan Lingkungan Jakarta (PKHKJ) yang sekarang menjadi buku Pendidikan Lingkungan Budaya Jakarta (PLBJ). Bahkan, kata-kata penuh kekerasan hingga kekejamanpun sering muncul di buku Lembar Kerja Siswa (LKS) anak-anak SD. Ya, pastinya setiap guru akan resah, khawatir murid-muridnya kelak menjadi anak yang seakan-akan perilakunya tidak terdidik gara-gara buku-buku tersebut. Sementara itu, para orangtua was-was putra-putrinya akan menjadi penbangkang. Atau, cobalah nyalakan televisi, hitung berapa program yang tidak menampilkan hedonisme, perilaku konsumtif, dan tindak kekerasan? Sepertinya memang masih sangat sulit kita menemukan program televisi yang memang mendidik. Yang tak hanya mendidik secara keilmuan, namun juga menyentuh nilai-nilai keislaman dan juga menampilkan karakter yang memang baik.

       Diantara gempuran buruk media massa, buku-buku pelajaran yang tidak mendidik, bahkan lingkungan yang tidak kondusif, lalu apa yang harus kita perbuat untuk memperbaiki kondisi tersebut? Ya, kita bisa belajar untuk menerapkan pendidikan karakter pada anak. Tak hanya nilai-nilai kognisi yang ditingkatkan, rupanya nilai-nilai karakter pun perlu diperindah. Jika kita hanya mempercantik kecerdasan anak saja, sekarang sudah sangat marak orang yang cerdas tapi suka menipu, bahkan kepintarannya digunakan untuk korupsi. Jika kita hanya menjunjung IQ semata, lihatlah sudah sangat banyak pejabat-pejabat kita yang notabene terdidik secara akademik, namun kepedulian mereka pada masyarakat kecil sangat rendah. Bahkan mereka lebih senang memanfaatkan rakyat untuk urusan politik dan kekuasaan. Naudzubillah… untuk itulah, tak hanya pendidikan kognitif saja yang perlu diasah, namun pendidikan karakterpun perlu diperindah.

Sebagai orangtua, atau setidaknya bagi yang belum berkeluarga, perlu diketahui bahwa pendidikan karakter bisa diterapkan pada keluarga kita di rumah. Keluarga yang merupakan lembaga sosial dan pendidikan pertama bagi anak, tentunya harus yang pertama kali mengaplikasikan pendidikan karakter. Lalu, bagaimana pendidikan karakter itu?

Berdasarkan ciri dasar pendidikan karakter yang dicetuskan oleh FW Foerster, kita bisa mengajarkan nilai-nilai normatif, dimana anak-anak diajari untuk menghormati dan menaati norma-norma sosial yang ada. Kemudian dengan membangun rasa percaya diri terhadap prinsip dan pendirian, sehingga tidak mudah terombang-ambing dalam tren-tren yang buruk di lingkungannya. Lalu, membangun sikap komitmen pada anak. Anak diajari untuk memiliki hak otonomi dalam memegang teguh nilai-nilai kebaikan dari norma-norma yang ada. Selepas itu, anak perlu dikuatkan untuk setia terhadap prinsipnya.

Ya, dengan menghadirkan pendidikan karakter pada anak, tentunya anak akan mantap pribadinya. Apalagi, jika kita mengajarkan pula nilai-nilai keislaman bagi anak. Sedari kecil ia telah terbiasa berlaku baik. Sehingga, anak-anak telah kokoh karakternya. Mulai dari usia dini, prinsip kebaikan sudah terhujam kuat di dalam dadanya. Sehingga kelak, ketika dewasa  akan menjadi pribadi yang tak hanya bagus secara akhlak, namun luar biasa pula prinsip keislamannya. Oleh karena itu, para orang tua perlu peduli tentang hal ini. Pastinya, Anda menginginkan putra-putrinya berkarakter dan berakhlak baik, kan? Jadi, marilah kita peduli pada karakter anak-anak kita.

AGAR PEREMPUAN AMAN BEPERGIAN

Oleh: Tetsuko Eika 

Saat ini kejahatan yang mengancam kaum wanita yang terjadi di dalam kendaraan umum atau fasilitas publik lainnya kembali marak. Kejahatan tersebut bisa berupa pelecehan, pencopetan, penjambretan, penipuan, hingga pemerkosaan. Tentunya, sebagai seorang muslimah yang taat, kita harus bisa menjaga kehormatan diri juga keselamatan raga dalam setiap perjalanan. Alangkah baiknya jika seorang muslimah memiliki kemampuan bela diri untuk menjaganya dari aksi kejahatan. Namun, jika tidak, ada beberapa cara yang dapat dilakukan agar kita terhidar dari tangan jahil orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Nah, berikut beberapa tips praktis agar muslimah aman dalam perjalanan.

1. Kenali Waktu Rawan Kejahatan
Sebelum melakukan perjalanan, patut diketahui waktu rawan kejahatan. Kejahatan biasa terjadi pada waktu malam hari, terutama selepas pukul 24.00. Selain itu, di waktu subuh antara pukul 04.00 hingga 05.30 pun rawan terjadi tindak kriminalitas. Alasannya, pada waktu tersebut kondisi masih belum begitu terang dan jalanan masih lengang. Selain itu, tidak jarang kejahatan terjadi di antara jam kerja dan di waktu sore hari seusai pulang beraktivitas.

2. Waspadai Tempat Rawan Kejahatan
Sebisa mungkin, kita menjauhi tempat yang gelap dan sepi. Karena, tempat seperti kuburan, hutan, tanah kosong, sawah, lorong gedung, jalan buntu, ataupun gang sempit sering dijadikan tempat kejahatan berupa pelecehan, perampokan, penculikan, bahkan pembunuhan. Selain tempat yang sepi dan gelap, waspadai juga sarana transportasi publik yang ramai, seperti kereta, bus, atau angkot karena kejahatan yang biasa terjadi di tempat ramai bisa berupa pencopetan, penjambretan, hipnotis, penodongan, atau penipuan.

3. Bawa Alat-alat Perlindungan Diri
Setiap muslimah seharusnya memiliki alat-alat sederhana yang dibawa setiap hari untuk penjagaan diri dalam perjalanan. Tidak perlu mengeluarkan uang banyak, alat-alat tersebut bisa dibuat sendiri di rumah, seperti membuat air cabe, merica bubuk, atau saus yang diencerkan. Bahan-bahan tersebut bisa dimasukkan ke botol bekas sprayer yang mudah dibawa ke mana-mana. Jika hal yang tidak diinginkan terjadi, sprayer tersebut bisa disemprotkan ke arah mata orang yang mengganggu kita sebagai shock therapy. Atau, jika tidak sempat membawa semprotan bubuk merica, bisa juga kita menyemprotkan parfum sebagai tindakan pertama membela diri. Sama halnya dengan air cabe, parfum pun bisa mengecoh fokus penjahat. Selain itu, kita bisa juga menggunakan benda-benda yang keras atau berujung runcing sebagai alat perlindungan diri. Kita bisa menggunakan gulungan kertas atau buku yang tebal, ujung bolpoin yang terbuat dari besi, ataupun jarum pentul yang diselipkan di sisi tas atau tempat-tempat yang mudah diambil. Alat-alat tersebut bisa dipukulkan ke wajah penyerang atau ditusukkan ke titik rawan lainnya.

4. Usahakan Pergi Bersama Mahram
Tidak bisa dipungkiri bahwa kaum wanita memang merupakan sasaran empuk kejahatan. Sehingga, dalam setiap perjalanan, kaum wanita memang sebaiknya pergi bersama mahramnya agar ada yang melindungi. Jika sudah menikah, bisa ditemani oleh suami. Atau, jika belum menikah, bisa bersama anggota keluarga lainnya. Jika memang terpaksa perjalanan harus dilakukan sendiri, sebelum pergi sebaiknya menyempatkan diri browsing atau cek penginapan dan booking berbagai keperluan perjalanan lainnya. Jika ada rumah saudara atau teman yang dapat disinggahi ketika bepergian ke luar kota, pastikan mereka dapat menampung kita. Hal itu dilakukan agar ketika sampai di tempat tujuan, kita tidak menghabiskan banyak waktu mencari tempat menginap apalagi sampai tersesat.

5. Jangan Lupa Senantiasa Berdoa dan Berdzikir Selama dalam Perjalanan
 Rasulullah mengajarkan doa ketika meninggalkan rumah dan dalam kendaraan. Dengan berdoa, yakinlah bahwa perlindungan Allah selalu bersama kita. Jangan lupa kuatkan dzikir dalam perjalanan agar hati semakin tenteram serta menghindarkan diri dari kejahatan dengan menggunakan modus hipnotis yang dapat dengan mudah memakan korbannya yang tengah bengong ataupun pikirannya kosong. 

(Terbit di majalah Percikan Iman edisi Mei 2012) 

HARAPAN UNTUK ANAK-ANAK DARI NADEZDA ACT

Oleh: Eika

Berawal dari keprihatinan atas kondisi anak-anak Indonesia yang bermental lemah, muslimah muda kelahiran Jakarta, 30 September 1989 bernama Nestri berinisiatif mendirikan komunitas yang diharapkan bisa memberikan senyuman bagi anak-anak Indonesia. Komunitas ini bergerak dalam pendidikan dan bernama Nadezda Act. “Nadezda sendiri berasal dari bahasa Cekoslovakia yang artinya harapan. Kami berharap dengan hadirnya komunitas ini bisa memberikan harapan bagi anak-anak Indonesia yang putus sekolah juga memberikan motivasi bagi anak-anak dalam mewujudkan mimpi-mimpinya,” ungkap Nestri.

Nadezda Act sudah satu tahun didirikan. “Nadezda pertama kali saya dirikan pada Februari 2011. Saya merekrut orang-orang yang peduli terhadap anak lewat jejaring sosial Facebook dan terbuka untuk umum,” papar dokter muda di Rumah Sakit Hasan Sadikin ini pada MaPI. Meskipun baru satu tahun didirikan, namun kegiatan Nadezda tergolong padat. “Kami mengadakan seminar, game bagi anak-anak, nonton bareng, bahkan dalam kegiatan insidental kami menurunkan badut-badut Nadezda untuk menghibur adik-adik korban bencana alam sekaligus penggalangan dana untuk membantu anak-anak kurang beruntung yang membutuhkan pengobatan medis,” ungkap Nestri.

Nadezda Act yang hingga sekarang memiliki 40 orang pengurus dan 160 orang simpatisan ini secara garis besar terdiri dari dua divisi, yaitu “Nadezda Membina” dan “Nadezda Peduli”. Masih menurut Nestri, Nadezda Membina difokuskan untuk membina secara rutin anak-anak Dusun Cinenggang, Jatinangor, dalam jangka waktu setahun. Dari kegiatan yang dilakukan, Nadezda Act berharap bisa mengantarkan Dusun Cinenggang menjadi dusun yang mandiri secara mental dan finansial. “Kami melakukan pembinaan dengan menguatkan mental anak-anak agar termotivasi dan menyadari bahwa mereka adalah orang-orang hebat meski dengan segala keterbatasan,” tutur Nestri. Sementara, Nadezda Peduli beraktivitas dalam kegiatan-kegiatan insidental, seperti saat bencana alam.

Ke depan, Nadezda Act bercita-cita bisa menyentuh anak-anak di seluruh pelosok Indonesia dan senantiasa bisa berbagi harapan dan mewujudkan mimpi anak-anak tersebut. Semoga!

(Terbit di majalah Percikan Iman edisi Mei 2012)

 

Antara Inggris dan Sertifikasi Produk Halal

             

Pada hakikatnya, Allah telah menyerukan kepada seluruh umat manusia (muslim dan nonmuslim) untuk mengonsumsi makanan yang halal dan baik serta tidak mengikuti jejak syaitan yang selalu ingin menjerumuskan manusia ke jurang neraka. Hal tersebut tertuang dalam Firman Allah Surah al-Baqarah:168: “Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik dari apa yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syaitan; karena Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagimu.” (QS.2:168).

            Berawal dari pesatnya perkembangan umat Islam di dunia, termasuk di kawasan eropa, Inggris akhirnya menjadi pionir sebagai negara produsen produk halal di uni Eropa. Kini, di Inggris terdapat dua lembaga sertifikasi halal. Yang pertama adalah All Things Halal (ATH), yang baru resmi bergabung pada tahun 2011. Pada mulanya, ATH sejak 2005 sudah melakukan sertifikasi halal terhadap sejumlah produk non-meat seperti produk kosmetik, pembersih, produk laundry dan es krim.

            Sementara itu, lembaga kedua bernama Halal Monitoring Committee (HMC) yang merupakan lembaga nonprofit yang mulai melakukan kegiatan sertifikasi produk halal di Inggris sejak awal tahun 2003. HMC sendiri telah diakui secara internasional oleh International Halal Integrity Alliance (IHIA). Dan HMC beranggotakan ulama-ulama dan juga para ahli yang memfokuskan diri pada sertifikasi industri daging halal dan sektor produk daging unggas. Kini, ATH dan HMC saling bekerjasama sebagai langkah penyatuan standarisasi halal di Inggris.

            Dengan hadirnya lembaga sertifikasi produk halal di Inggris, banyak muslim yang tidak ragu lagi untuk makan di tempat-tempat yang bersertifikat produk halal dari HMC. Bahkan, kini produk-produk bersertifikat halal banyak bertebaran di supermarket Inggris. Seperti di supermarket ASDA, para muslim akan dimudahkan dengan gerai halal meat dan mudah menemukan makanan kemasan dengan label halal. Selain di ASDA, produk-produk halal pun bisa dijumpai di supermarket TESCO.

            Bahkan, jika dijumpai produk yang masih diragukan kehalalannya, muslim Inggris kini tidak segan-segan lagi untuk melaporkan produk tersebut. Seperti pada kasus donat Krispy Kreme yang sempat mencuat beberapa tahun lalu, karena adanya isu mengandung alkohol  dalam glaze donat (donat berlapis gula). Yang pada akhirnya, produk tersebut tidak ragu lagi untuk diawasi dan memperoleh sertifikat halal. Melihat kondisi tersebut berupa kemudahan-kemudahan muslim dalam mengonsumsi panganan halal di Inggris, merupakan bukti nyata bahwa Islam merupakan rahmat bagi seluruh umat manusia.

            Luar biasanya lagi, tidak hanya sertifikasi produk halal yang menjadi sorotan, di Inggris pun kini tengah membangun kompleks industri produk halal yang akan menjadi pusat produksi produk halal di Eropa. Pembangunan pusat industri yang akan diberi nama Super Halal Industrial Park (SHIP) ini tidak lepas dari bisnis produk halal yang makin berkembang dan menguntungkan. Lokasi SHIP itu sendiri akan dibangun di South Wales yang dikenal sebagai tempat produsen daging di Inggris. Komplek industri SHIP kelak akan dilengkapi dengan berbagai fasilitas seperti gudang-gudang penyimpanan, fasilitas pengemasan produk, pemilihan dan pengolahan daging, serta fasilitas riset dan pengembangan. Kedepannya, jika pembangunan SHIP di Inggris sukses, akan dibangun proyek serupa di seluruh negara Eropa, terutama di negara yang jumlah populasi muslimnya tinggi seperti Jerman, Prancis dan Bosnia.

            Bahkan, tak hanya berkecimpung dalam produksi produk halal saja, Inggris yang kini memiliki empat bank Islam pun siap membangun bursa saham Islami untuk mendorong pertumbuhan perusahaan-perusahaan Islami. Ada dua kota yang menjadi pilihan tempat didirikannya bursa saham syariah ini, yaitu London atau Luxemburg.[] (Eika, dari berbagai sumber )

(Terbit di rubrik Dunia Islam Majalah Percikan Iman edisi Maret 2012)

“Ingat Pak Iban, ingat tidak buang sampah sembarangan!”

Sinar matahari sudah terasa cukup terik memanggang tubuh. Nampak orang-orang sudah kelelahan sambil mengusap peluhnya. Bahkan, tak sedikit pula para pejalan kaki yang duduk sejenak di bawah teduhnya pohon di areal Car Free Day Dago Bandung pada Minggu (15/01). Meski matahari sudah mulai memancarkan aura panasnya, ada senyum yang masih mengembang di sana. Ada semangat yang masih membara. Dengan pakaian khasnya yang berwarna kuning dan sepeda ontelnya yang unik, lelaki tua berperawakan kecil itu masih bergairah untuk bersua lewat TOA-nya. Menyuarakan kata-kata penuh motivasi untuk menjaga kebersihan. “Kalau kita sudah cinta pada lingkungan bersih, marilah kita sadar dapat menahan diri tidak membuang sampah sembarangan!” serunya sambil menebar senyum. Senyum yang renyah, riang, dan juga ramah dari seorang pria kelahiran 7 Agustus 1943 bernama Sariban.

Lalu, siapakah Sariban itu? Mungkin, jika Anda melintas di jalan Pahlawan Bandung dan melihat seorang bapak berbaju kuning dengan sepeda ontel berstang menyerupai stir mobil, pasti Anda tengah berjumpa dengan seorang pria asli Magetan Jawa Timur yang akrab di sapa Pak Iban. Sariban setiap harinya bekerja sebagai petugas kebersihan secara sukarela di kawasan Jalan Pahlawan, Bandung. “Setiap jam delapan pagi saya pergi bekerja secara sukarela, setelah itu jam dua belas siang saya pulang dulu untuk shalat dzuhur, lalu dilanjut bekerja setelah ashar hingga pukul setengah enam sore, selepas itu lalu pulang ke rumah. Saya tidak meminta bayaran dari siapapun, hanya meminta kepada Allah Swt saja,” ungkap Pak Iban yang juga selalu datang menyuarakan peduli kebersihan di Car Free Day Dago Bandung setiap Minggunya.

Meskipun lahir dari keluarga yang tidak berada, Sariban sudah memiliki semangat juang yang tinggi dan rasa cinta akan kebersihan sejak kanak-kanak. “Allah yang telah membuat saya cinta pada lingkungan. Saya belajar dari teman-teman dan mulai belajar memelihara lingkungan,” terang Pak Iban yang sempat mengecap SR (Sekolah Rakyat setingkat SD pada waktu itu). Semenjak usianya 5 setengah tahun, anak bungsu dari 5 bersaudara ini sudah ditinggal mati oleh kedua orang tuanya, semenjak itu Sariban kecil diasuh dan dibesarkan oleh kakak pertamanya. Akibat peristiwa itulah, Sariban terbiasa hidup mandiri dengan berjualan ronde jahe di pasar  Madiun untuk membiayai sekolahnya di SMEP (Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) pada tahun 1956.

Dan akibat semboyan “Bandung Kota Kembang” yang sering diingat Sariban dalam pelajaran Ilmu Bumi, akhirnya pada tahun 1963 Sariban memutuskan untuk hijrah ke Bandung meski pada mulanya bekerja sebagai kuli aduk bangunan di IPTN.

Sebelum menjadi penyuluh kebersihan sukarela yang mendapat restu dari walikota Bandung, Sariban sempat bekerja di Rumah Sakit Mata Cicendo sebagai tukang bersih rumah sakit pada tahun 1972. Meskipun Sariban sempat ditawari bekerja di posisi pegawai administrasi Rumah Sakit Mata Cicendo Bandung, ia tetap menolak posisi itu karena kecintaannya yang tinggi terhadap kebersihan di rumah sakit tersebut hingga pensiun di tahun 2000. Namun kiprahnya sebagai tenaga relawan penyuluh kebersihan kota Bandung sudah dimulainya sejak tahun 1983 dan masih berlangsung aktif hingga kini. “Sudah dua puluh delapan tahun saya mengabdikan diri di Bandung sebagai penyuluh kebersihan sukarela,” tutur pria yang memiliki empat orang anak dan tiga cucu itu.

Ketika ditanya bagaimana tanggapan awal masyarakat saat mengetahui Sariban memilih menjadi tenaga relawan penyuluh kebersihan sukarela, Pak Iban menjawab, “Saya sempat dikira orang gila, orang sinting oleh orang-orang. Tapi saya tetap legowo. Saya jadikan pembelajaran untuk perubahan yang lebih baik.”

Dan akibat keseriusan, kegigihan serta keistiqamahannya dalam menyuarakan sikap peduli pada kebersihan, Sariban banyak mendapat penghargaan baik dari pihak akademisi, pemerintah ataupun stasiun televisi swasta. Bahkan, sempat diundang keluar negeri untuk mengisi acara dan memberikan contoh keteladanan bagi masyarakat asing. “Saya merasa bangga dengan penghargaan-penghargaan itu. Tapi, dibalik itu semua saya sangat prihatin dengan kondisi sekeliling kita yang masih banyak yang kotor,” tutur Pak Iban yang bisa mendapat kesempatan beribadah haji dari penghargaan walikota Bandung.

Ketika disinggung tentang harapannya bagi pemerintah, Sariban sambil tersenyum menjawab ingin disediakan lebih banyak tempat sampah di tempat umum agar masyarakat tidak membuang sampah sembarangan. “Dan kalau untuk masyarakat Indonesia, saya berharap masyarakat mampu menahan diri untuk tidak membuang sampah sembarangan. Ingat Pak Iban, ingat tidak buang sampah sembarangan!” pungkasnya pada tim MaPI.[] (Eika)

(Dimuat di Majalah Percikan Iman edisi Februari 2012)

Kiat Menghilangkan Perilaku Boros

Boros adalah gaya hidup yang gemar berlebih-lebihan. Baik dalam mempergunakan uang, harta atau sumber daya yang dimiliki untuk kesenangan semata. Perilaku boros ini, kini sudah marak terjadi di masyarakat. Tua ataupun muda, sekarang sudah erat gaya hidupnya dengan budaya konsumtif. Salah satu faktornya bisa jadi karena pengaruh tontonan juga. Cobalah kita tengok sinetron-sinetron di televisi yang sangat menonjolkan kemewahan, hidup berfoya-foya bahkan memubazirkan harta untuk kesenangan, gaya hidup atau prestise semata. Dan parahnya, secara tidak langsung tontonan seperti itu berdampak pada pola hidup masyarakat kita. Padahal, Islam sudah sangat jelas melarang umatnya untuk bersifat boros. Islam sebenarnya mengajarkan kita untuk hidup hemat, tidak berlebih-lebihan dan selalu berbagi kepada sesama. Dalam salah satu ayat Al-Qur’an, bahkan Allah Swt menyamakan orang yang berbuat boros sebagai saudaranya setan.

“Dan janganlah kamu menghambur-hamburkan (hartamu) secara boros. Sesungguhnya pemboros-pemboros itu adalah saudara-saudara setan.” (Q.S Al-Israa’: 26-27).

Lalu, bagaimanakah caranya agar kita bisa terlepas dari perilaku boros? Berikut beberapa kiatnya:

1.      Membuat anggaran pengeluaran

Dengan membuat anggaran pengeluaran, kita bisa memilah dan memilih barang atau jasa apa saja yang kita butuhkan. Kita bisa membuat skala prioritas terhadap kebutuhan kita. Selain itu, dengan membuat anggaran pengeluaran, kita akan terbiasa hidup teratur. Sehingga, list anggaran pengeluaran kita akan mudah dievaluasi. Jika bisa, kita sediakan buku khusus yang berisi anggara pengeluaran kita. Misalnya mencatat daftar rencana pengeluaran kita dalam satu minggu atau bahkan dalam satu bulan kedepan. Hal ini akan menjadi pengingat agar kita tidak membeli barang atau jasa yang dirasa kurang atau tidak penting.

 

2.      Jangan mudah tertarik melihat suatu barang atau jasa hanya karena bagus atau diskon.
Sering sekali kita mengalami lapar mata. Seperti apakah lapar mata itu? Lapar mata dalam kehidupan sehari-hari misalnya kita kerap membeli barang atau jasa bukan karena kebutuhan yang mendesak, namun lebih pada fisik yang kita lihat nampak bagus apalagi bermerk. Atau tertarik dengan barang atau jasa yang tengah diskon. Padahal, kita sama sekali tidak membutuhkannya. Bahkan, tidak ada dalam list anggaran pengeluaran. Tentunya, sebagai umat Islam yang bertakwa, kita harus mampu mengendalikan lapar mata itu. Kita harus memiliki tekad yang kuat untuk tidak membeli barang atau jasa yang memang tidak kita butuhkan. Jangan sampai kita termasuk kedalam saudaranya setan karena sifat boros kita sendiri.

 

3.      Pandai-pandailah membedakan antara kebutuhan dan keinginan

Butuh dan ingin. Sepintas keduanya nampak sama. Padahal, sebenarnya keduanya sangat berbeda. Kebutuhan adalah sesuatu yang mendesak harus dipenuhi. Karena jika tidak terpenuhi akan mempengaruhi keberlangsungan hidup kita. Misalnya membeli sembako, membayar listrik, membayar telpon atau PDAM. Sementara keinginan contohnya membeli motor baru, membeli handphone baru, padahal barang-barang tersebut tidak begitu penting, hanya sebatas ingin dimiliki karena takut ketinggalan zaman atau karena gengsi saja. Menyikapi hal tersebut, kita harus cerdas membedakan yang mana kebutuhan dan yang mana keinginan. Kita pun harus cerdik membedakan kebutuhan primer dan sekunder. Tekan nafsu berbelanja kita agar suatu saat kita tidak menyesal.

 

4.       Hindari penggunaan kartu kredit

Selain karena kelak akan menimbulkan beban pada kita setiap bulannya, penggunaan kartu kredit yang tidak bijak mampu membuat kita semakin boros. Alih-alih ingin simpel, setiap barang atau jasa kita beli dengan mudahnya menggunakan kartu kredit. Memang praktis dan fleksibel, hanya tinggal gesek, tapi coba tekanlah penggunaan kartu kredit seminimal mungkin agar pengeluaran kita tidak semakin membengkak.

 

5.      Jauhi berutang

Setiap muslim dianjurkan untuk menyeimbangkan antara pemasukan dan pengeluarannya, juga antara uang pendapatan dan uang belanja, agar ia tidak terpaksa berutang dengan orang lain karena berutang akan menjadi beban untuknya.  Dalam sebuah hadis dikatakan:Bagi para syuhada akan dihapuskan seluruh dosa mereka kecuali utang-piutang (yang belum mereka bayar). (H.R. Muslim dikutip dari Yusuf Qardhawi, 1997: 149). Jika tidak dalam kondisi sangat genting, usahakanlah kita agar tidak berutang.  Mengapa kita harus menjauhi berutang? Karena orang yang berutang selalu dihantui kegundahan, kegelisahan sehingga hidup terasa tidak tenang. Ketika Rasulullah ditanya mengapa demikian, Nabi menjawab, “Jika seorang berutang, ia tidak segan-segan berbohong dan mengingkari janji.” Namun, jika kita tengah terbelit utang, berdo’alah seperti pada doa Nabi: “Ya Allah! Jauhkanlah saya dari kegundahan dan kesedihan, kelemahan dan kemalasan, kebodohan dan kebakhilan, keberatan utang, serta tekanan dan paksaan orang.”(H.R. Muttafaqun ‘alaihi dikutip dari Yusuf Qardhawi, 1997: 150).

 

6.      Menabung dan berinvestasilah!

Kita harus pikirkan juga pendidikan anak, biaya pernikahan atau bahkan tabungan kesehatan kita. Belajarlah untuk menganggarkan pendapatan yang kita dapatkan untuk ditabung di bank yang terpercaya dan diinvestasikan untuk masa depan kita. Pilihlah lahan investasi yang halal dan menjanjikan, karena kelak investasi kita akan menghasilkan pemasukan tambahan. Jadi, mulailah menabung dan berinvestasi sekarang juga!

 

7.      Ingat Zakat, Infak dan Shadaqah

Salah satu kiat agar dapat menghilangkan perilaku boros adalah selalu ingat saudara-saudara kita yang kekurangan. Sehingga, perlu ditumbuhkan kepekaan sosial pada diri kita. Dengan berzakat, infak dan shadaqah, selain dapat membantu saudara-saudara kita, kita pun Insya Allah akan mendapatkan pahala dari Allah Swt. Seperti dalam Q.S Al-Baqarah ayat 110, Allah berfirman: Dan dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Dan kebaikan apa saja yang kamu usahakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapat pahalanya pada sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Melihat apa-apa yang kamu kerjakan.”[] (Eika)

 

Dalam Proficiat

 

Proficiat!

Selamat!

Awan-awan menggiring halus

Menyemai senyum-senyum wangi

Di bawahnya berdiri sepasang kaki

Pernah terjungkal

Terjatuh

Terjerat

Lalu tumbuh mekar

Dalam proficiat!

 

Saya hanyalah seorang wanita. Titik! Itu fitrah, dan selamanya akan menjadi fitrah. Dan sudah genap dua puluh tahun usia saya hidup di dunia penuh ketamakan dan kefanaan ini. Pernah suatu ketika saya termenung. Menatap bintang gemintang yang bertengger di langit-langit malam. “Sebenarnya untuk apa saya hidup di dunia ini?” Pertanyaan nakal itu kerap bahkan rajin menyapa saya ketika kesendirian mendekap saya. “Hidup? Sebenarnya untuk apa?”

Saya akui, kehidupan memang bagai roda yang berputar. Terkadang kita berada di posisi prima. Berada di posisi yang cemerlang. Bahkan hingga sinar-sinarnya menusuk mata, saking gemerlapnya. Namun, terkadang kita tersungkur dan terjerembap. Lumpur-lumpur kepedihan menyapa dalam bingkai kegagalan. Semua berputar-putar. Menjadi simfoni yang penuh misteri. Dan, begitulah hidup menjelma. Ia selalu menggelinding! Membawa pengendalinya pada takdir-takdir kehidupan. Itulah hidup! Selalu dalam kuasa Allah Swt.

Maka, saya akhirnya bergumam kembali. “Sebenarnya untuk apa hidup? Jika kehidupan kita seakan dikutuk roda kehidupan yang kadang di bawah dengan air mata atau kadang bergulir ke atas dengan derai tawa?” Ahh.. rasanya saya terlalu picik jika menganggap hidup sesempit itu. Entah bagaimana prosesnya. Saya yakin semua berproses karena “tangan-tangan” Allah Swt yang menggiring saya. Pelan-pelan saya mulai memaknai kehidupan ini. Memaknai setiap senyum, delik mata, ringis air mata dan nyerinya hidup. Semua gemerincing dalam sebuah titik bernama prestasi kehidupan. Mungkin, ini prestasi yang sederhana. Tapi bagi saya, ini sungguh melegenda. Menyejarah!

***

“Dan Tidaklah Aku Menciptakan Jin dan Manusia Kecuali untuk Beribadah Kepada-Ku.”(Adz Dzariyat : 56).

Ayat Al-Qur’an itu entah mengapa begitu menyesap dalam relung jiwa saya ketika saya duduk di kelas sepuluh SMA. Berawal dari kajian keislaman pekanan yang saya ikuti di ROHIS sekolah, banyak hal yang saya temui dan pelajari tentang Islam. Termasuk ayat itu! Hanya satu ayat, yang entah mengapa membuat saya gundah gulana. Gelisah bak dicekam macan. Ada rasa takut, cemas yang muncul mengintai. Rasa takut akan esensi diri yang kerap terlupa. Terlupa oleh setiap manusia. Ya, beribadah!

Hal yang membuat saya girang dan merasakan manisnya prestasi terbesar dalam hidup ini adalah ketika saya menemukan mata air. Mata air yang mampu menyusut air mata. Mata air yang beningnya memukau relung-relung sukma. Mata air yang ringkih mengembun halus dalam jiwa-jiwa yang gersang. Ialah tarbiyah. Ya, tarbiyah!

Tarbiyah? Apakah itu?

Tarbiyah bagi saya adalah simfoni. Ia menentramkan dengan syahdunya lagu-lagu cinta. Cinta kepada-Nya. Tarbiyah mengajarkan saya bagaimana memanusiakan manusia. Tarbiyah mendidik saya menjadi sosok yang tak hanya memburu dunia, namun berusaha menggenggam jannah-Nya. Tarbiyah adalah kebahagiaan bagi hati-hati yang rindu cahaya. Tarbiyah adalah proses menuju kesempurnaan ruh. Yang semuanya bergelombang dalam aktivitas sehari-hari. Ya, mengenal jalan tarbiyah adalah prestasi terbesar saya. Proficiat!

***

 

“Sebenarnya untuk apa hidup? Jika kehidupan kita seakan dikutuk roda kehidupan yang kadang di bawah dengan air mata atau kadang bergulir ke atas dengan derai tawa?”

 Dalam tarbiyah, pertanyaan sentiment dan nakal itu akhirnya bisa terjawab. Semua terurai manis dan rapi. Terjawab dengan satu hentakan keras namun mampu merenungkan. Adz Dzariyat : 56. Ya! Itulah jawabannya!

Akhirnya, kembali saya katakan, mungkin ini adalah prestasi yang bisa saja sangat sederhana. Tapi bagi saya, mengenal esensi kehidupan dalam bingkai tarbiyah adalah prestasi terbesar dalam hidup. Memahami hirup-hirup napas. Memahami diri sebagai seorang wanita. Memahami rintik-rintik air hujan yang menyiram bumi. Memahami siapakah diri ini, semuanya adalah sebuah esensi yang penuh proses. Dan, tarbiyah mampu menjawabnya dengan jelas. Dalam cinta-Nya.

***

Proficiat!

Selamat!

Pelan-pelan cinta dari-Nya menyusup

Mesra!

Dalam senyum

Dalam tawa

Dalam lingkaran kasih

Dalam tali persaudaraan

Proficiat!

Langit-langit merunduk

Girang!

Terkesima tak merana

Dalam tarbiyah!

Dalam proficiat!

 

 

 

Catatan hati di awal 2012

 

Tetsuko Eika

Dolores

Oleh: Tetsuko Eika

Tahun 1945. Saat di Valencia, kau masih menggigiti kukumu. Sesekali kau menyeringai, lalu duduk sambil membulatkan mata hitammu. Terkadang kau pun tertawa kecil, lalu memukul-mukul tortilla de patatas[1] dengan ujung kaki kurusmu. Kau pun akhirnya terbahak, berteriak-teriak. Kencang sekali. “Isabel…Isabel… aku kini seorang pegulat!!”

Malam kian gelap saat kau terduduk tenang di kursi kayu. Kau tak henti menatap kapal-kapal pesiar di Bonifacio. Kau senang berlama-lama melamun disana. Bahagia disapa angin Corsica, kota kita. Pemukiman padat di Spanyol.  Seperti biasa, kau lalu terkekeh sambil melempari burung-burung camar dengan batu gamping putih. Lalu, aku disampingmu. Selalu menjagamu. “Dolores, aku rindu kau yang dulu!”

Suatu hari, kau tak ada dirumah. Aku cemas. Kucari kau di halaman belakang, di semak-semak, di anjungan pantai hingga ke kolong meja. Aku resah Dolores! Sungguh, tak ada manusia lagi yang menjadi bagian hidupku selain kau. Jadi jangan kau kabur dari hidupku!

“Isabelaaaaa!! Kemarilah…! Aku bisa memasak potaje de lentejas[2].” Aku terkejut! Ternyata kau duduk tergugu di belakang rumah tua kita. Memukul-mukul tanah dengan sikat gigi. Lalu mengaduknya dengan air sumur. “Kau tahu, Antonio paling suka makan ini. Dia bisa makan tiga piring dalam waktu sepuluh menit.” Kau masih berkata sambil terkekeh-kekeh. Kurapikan rambut setengah coklatmu yang masai. Aku bergumam dalam hati, “Duhai Dolores, rupanya ingatanmu masih kuat pada penjara-penjara dingin di ujung kota ini.”

Tahun 1946. Akhirnya sudah tujuh tahun berlalu Antonio tewas. Aku masih ingat, kau hampir mati berdiri melihat suamimu digantung di belakang pelabuhan. Suatu hari, aku pernah berkata padamu. “Dolores, perang saudara memang kejam. Kau tak bisa menghentikan konflik. Kita hanya orang kecil. Sadarlah! Bahwa ini kenyataannya. Kau dan aku adalah sisa penerus dari keluarga kita. Jadi, sadarlah!” Aku mengguncang-guncangkan tubuhmu. Sesekali aku mencubit hidungmu. Tapi, masih saja kau tertawa-tawa. Seperti anak kecil. Padahal usiamu menginjak empat puluh. “Isabel… Isabel…. Matilah kaum nasionalis… musnahlah kaum loyalis! Aku adalah pendekar… pendekar masa depan!” Dan aku, hanya bisa mengucurkan air mata. Di sini, di Bonifacio. Tempat kelahiran kita. Dan mungkin, tempat kematian kita.

Sore itu, dua kapal pesiar mengaum di pelabuhan. Di ujung pula Corsica kau nampak tersipu-sipu, kemudian bersembunyi di belakang tubuh gemukku. “Isabel kakakku, Antonio akan pulang! Aku lupa memakai minyak wangi!” Aku tertawa kecil. Kucubit lengan kirinya. “Lupakanlah Antonio. Dia tak akan pulang lagi dari berlayar.” Dan, raut wajahmu berubah seketika. Kau tarik selendangku. Menyobeknya engan kasar.  “Aku akan menunggu Antonio. Di sini! Di Bonifacio!” Dan, semenjak itupula. Setiap sore hingga malam, kau akan duduk berlama-lama di kursi kayu. Melamun dengan serius. Sambil sesekali melempari burung merpati dengan sisa remah rotimu.

 Perang saudara di Spanyol, hanya berlangsung tiga tahun. Dari tahun 1936 hingga 1939. Tapi, rupanya perang itu telah merontokkan hatimu, Dolores. Aku, hanya bisa menemanimu. Dan tak bisa memahamimu. Sungguh, aku ingin kita kembali seperti dulu. Dimana kita saling bertukar ikat kepala, bersahabat dengan kucing-kucing desa. Lalu bercerita tentang para pahlawan di pulau Corsica, pulau kita. Ah, tapi kini kau sudah berubah Dolores. Kau tak bisa ditebak. Sesekali kau tertawa, lalu kau menangis meraung-raung. Menyebut nama Antonio. “Antonio… Antonio…. Kapan kau pulang? Kapan?”

Tahun 1947. Aku hampir gila sepertimu, Dolores. Kau hampir mati tenggelam! Kau berkata, kau akan berenang menyebrangi lautan untuk menjemput Antonio. Aku hanya menghela napas. Kepalaku sudah mau pecah. “Dolores, kapan kau sadar? Ayo! Sadarlah…. Bangunlah dari dunia khayalanmu!” Lagi-lagi kau hanya terkekeh-kekeh. Lalu berkata. “Isabela, aku pandai berenang ya?”

Tahun 1955. Usiaku tak muda lagi. Tulangku sudah linu-linu. Tapi, rupanya kau masih bisa melompat-lompat seperti kelinci. Padahal, usiamu hanya beda lima menit dariku. “Ah, Dolores… aku sulit menjagamu lagi!” Aku berkata ketika kau duduk manis memakan sup pasta buatanku. Lalu kau akan berkata lagi. “Antonio kapan pulang ya? Dia suka sup pasta!”

Tahun 1960. Aku kena hipertensi akut. Dokter di Bonifacio berkata bahwa aku harus beristirahat di ranjang empuk. Tapi, jika aku nyaman tertidur di kasur lembut, bagaimana dengan adikku, Dolores? Aku tak bisa meninggalkannya barang sedetik. Ia seperti bayi tuaku. Kesayanganku. Kami memiliki wajah yang sama, bola mata yang sama, bahkan senyuman yang sama. Yang membedakan hanya satu, aku tak bisa bergerak riang, sementara kau masih nampak bugar. Seperti bocah sepuluh tahun.

Tahun 1965. Sepertinya usiaku sejengkal lagi. Tapi, aku tetap harus membersamaimu, Dolores sayang. “Lihatlah ini keriputku! Kita sudah jadi nenek-nenek!” Kau terkekeh-kekeh. Sama, seperti dulu.

Tahun 1967. Aku sulit bernapas! Dadaku sesak. Sepertinya aku akan mati. Sudah ada bayang-bayang kematian yang mengintai. “Dolores!” Kupanggil namanya dengan parau, nyaris tanpa suara. Tapi, syukurlah kau mampu mendengar suaraku. “Aku sepertinya akan mati…” Aneh, kau meneteskan air mata. Mengusap-gusap pipi keriputku. “Kembalilah seperti dirimu yang dulu…” Aneh, kau mengangguk-angguk, sepertinya kau sudah sadar! “Aku…a..a..aku..uu” kata-Suaraku mulai tercekat! Rasanya tubuhku tak bisa bergerak lagi! Dan, kau… terisak kian menjadi. “A..a..aku menyayangimu Dolores,” ungkapku sangat lemah. Dan, kau masih terisak-isak. Mataku mulai tertutup pelan-pelan. Rasanya darahku sudah membeku. Jantungku sudah tak berdenyut lagi. Tapi, suaramu masih terdengar. Meski sangat kecil, Dolores. Di detik terakhirku, kau membisiki telingaku. “Isabel… selamat tinggal! Tolong tanyakan pada Antonio, kapan dia pulang menemuiku ya!”

***

 

 (November 2011 – di kamar Adenium)

Terbit di buletin FLP Jatinangor  2011

 


[1] Tortilla de patatas yang artinya tortilla dari kentang, Pembuatannya adalah dari telur dan kentang.

[2] Potaje de lentejas adalah makanan spanyol yang cara pembuatannya paling murah tetapi rasanya sangat nikmat dan unik, Biasanya makanan ini banyak di sediakan di penjara-penjara spanyol karena harganya yang cenderung sangat murah.

Si Hijau Crispy, Si Kue Ape

Hari Ahad (15/01) lalu, saya dan seorang akhwat menyengaja jalan-jalan ke Dago Car Free Day. Sejujurnya, saya sedang mencari “someone” sampai menyengaja keliling-keliling jalan Dago bolak-balik sambil jeprat-jepret suasana di sana. Hehe… maklum, kuli tinta… kerjaannya cari “someone” melulu untuk di wawancarai. Sebelum cari “someone” berusia 68 tahun yang terkenal dengan kecintaannya pada lingkungan dan kebersihan, tak sengaja saya melihat gerobak yang menjual kue berwarna hijau yang wanginya sudah semriwing dari radius dua meter. Hehehe… yups, itulah kue ape!

Lezatnya Kue Ape

Sahabat sudah pernah makan kue ape? Kalau belum, wajib coba mencicipinya ya. kue asli betawi ini rasanya renyah dan enak sekali. Crispy berwarna coklat di sampingnya, rasanya manis kriuk-kriuk seperti kue semprong. Ketika ditanya pada Mang pedagangnya, kue ape terbuat dari tepung beras, tepung ketan, santan, gula dan daun suji untuk warna hijau yang mentereng. Cara membuatnya mirip seperti membuat kue surabi. Hanya saja bentuk cetakannya seperti wajan kecil dan dibakar dengan arang. Wah, sangat tradisional dan unik sekali!

Membuat Kue Ape

Jika sahabat jalan-jalan sambil berolahraga ke Dago Car Free Day, jangan lupa mencicipi jajanan tradisional yang satu ini ya. Mang kue Ape biasa mangkal di depan gerbang ITB sebrang masjid Salman. Harganya lumayan bikin senyum kok. Masih bersahabat dengan dompet kita. Hanya Rp.2000,- untuk 3 buah kue ape.  Nah, bagi yang penasaran dan kepengen membuat kue ape di rumah, berikut saya lampirkan resepnya ya…

Bahan:

300 grm tepung beras

25 grm terigu

25 grm tepung sagu

1btr telur

1 sdt garam

1 sdt baking powder

1/2 sdt soda kue

600 ml santan kental

200 grm gula pasir

pasta pandan secukupnya.

Cara Membuat:

_ Campur tepung beras, tepung terigu, tepung sagu, telur, garam, baking powder dan soda kue,  aduk hingga rata.

_ Tuangi sedikit demi sedikit adonan santan, gula pasir dan pasta pandan aduk sambil di tepuk-tepuk hingga tercampur rata.

_Uleni terus sambil di tepuk-tepuk selama 20 menit agar berbentuk serat yang bagus diamkan selama 3 jam

_ Ambil 1 sendok sayur lalu tuangkan ke dlm wajan atau cetakan surabi.

_Dengan sendok sayur tekan-tekan bagian tengah adonan agar berbentuk lapisan tipis di bagian pinggir. Tutup wajan agar bagian tengahnya tampak menonjol dan panggang hingga matang.

Selamat mencoba!

Dan, jangan lupa, cintailah kuliner khas Indonesia!

Di Rancaekek, 17 Januari 2012

Tetsuko Eika

Menopang Khiar


Menopang khiar

Tangan itu seperti timbangan, kawan

Berat, dipayung pilihan

Mungkin sulit, kawan

Karena khiar

Yang melotot

Minta jawab

Mencengkram-cengkram

Menagih tunjuk

Membuat tak bisa berkutik

Bahkan bergidik

Menopang khiar

Menopang masa depan, kawan

Oh bukan!

Ini bukan tentang para pecundang dunia

Ini hanya tentang khiar

Hanya khiar

Yang membuat tanda tanya

[Tetsuko Eika – Rabu, 4 Januari 2012]

 

*Khiar = pilihan yang terbaik antara dua perkara untuk dilaksanakan atau ditinggalkan

Melukis Jepang di Nihon No Matsuri

Oleh: Tetsuko Eika

Ditemani lagu semangatnya Fukuyama Masaharu  yang berjudul Hello, saya menulis tulisan ini. Hmm, sebenarnya kisah perjalanan ini sudah cukup lama terjadi, tapi baru sempat saya tuliskan sekarang. Hehe, gomen ne minna…  baiklah… let’s to write! :D

***

Torii si gate

Siang itu sebenarnya cukup mendung. Awan-awan kelabu mulai berarak dengan rapi. Berhimpun lalu bergumpal-gumpal, seperti oase kesedihan. Cee ile, lebaay. Hehe. Pokoknya hari itu hari Minggu, 11 Desember 2011. Ba’da dzuhur, dengan matic putih kebanggaan saya, lekas-lekas saya tancap gas. Buru-buru meluncur menuju IT Telkom Bandung. Ada nihon no matsuri alias festival Jepang di sana! Tak lupa, si sobat setia, si DSLR turut serta diboyong pula naik white matic. ^_^

Sebenarnya, ini kali pertama saya masuk kampus IT Telkom. Sendirian pula! Maklum single traveller. Si doyan jalan-jalan seorang diri. Hehe. Lucunya, masuk kampus IT Telkom, saya salah parkir motor segala (tepok jidat). Walhasil jarak tempat parkir dengan lokasi nihon no matsuri lumayan jauh. Tapi, no problem deh! Heu…

Sesampainya di lokasi nihon no matsuri, saya menemukan hal unik. Sebuah gate merah yang selalu saja saya temui setiap kali datang ke nihon no matsuri. Seperti saat festival Jepang di FASA UNPAD beberapa bulan yang lalu, lagi-lagi saya menemukan gate seperti yang ada di foto ini:

 Mungkin, di anime-anime atau dorama Jepang, sahabat pernah melihat gate semacam itu. Lalu, dengan otomatisnya, kita mengidentikkan dengan budaya Jepang. Tapi, sebenarnya itu apa sih?? Ada yang tau gak? :D

Gate seperti pada foto disamping itu adalah Torii (鳥居), yaitu bangunan di kuil Shinto yang merupakan pembatas antara kawasan tempat tinggal manusia dengan kawasan suci tempat tinggal Kami (dewa). Selain itu, bangunan ini berfungsi sebagai pintu gerbang kuil.

Bentuk torii berupa dua batang palang sejajar yang disangga dua batang tiang vertikal. Bangunan ini umumnya dicat dengan warna merah (oranye) menyala, dan kadang-kadang juga tidak dicat (warna asli bahan bangunan).

Walaupun lebih umum dijumpai di jalan masuk ke kuil Shinto, torii juga bisa ditemukan di mausoleum kekaisaran dan beberapa kuil Buddha di Jepang. Kalau sahabat punya peta negara Jepang, pasti akan menemukan simbol torii dalam peta terbitan Jepang yang menandakan lokasi kuil Shinto berada.

Hmm, sebenarnya saya jadi bingung juga nih. Torii kan identik dengan agama Shinto, tapi setiap kali datang ke nihon no matsuri di Indonesia, saya pasti menemukan torii yang udah jelas-jelas mencirikan agama Shinto, padahal Indonesia kan mayoritas muslim. Wah.. wah… ada apa dengan cinta? Eh, dengan torii? @_@a

***

Sebenarnya, tujuan inti saya ikut acara-acara semacam ini hanya satu: ingin nyoba pake yukata!! TITIK. Entah mengapa, pakai dan punya yukata masuk ke dalam daftar mimpi saya. Mimpi nomor 30. Tapi, sedihnya sudah dua kali saya ikut acara nihon no matsuri, saya tidak berkesempatan terus menggunakan kimono nonformal yang digunakan saat melihat pesta kembang api, matsuri atau perayaan obon ini. Hmm, tak apalah… meskipun harus gigit jari dulu. Hiks… yukata oh yukata…. T_T

***

 Menulis di tanzaku

Sebenarnya, sedih juga tak bisa beryukata meski hanya beberapa menit. Namun, Allah Swt memang baik hati… setidaknya saya bisa mendapat pengalaman seru selama nihon no matsuri kali ini. Mulai dari mengenal kuliner Jepang, cara membuat sushi hingga asyik menuliskan impian di kertas. Oke, saya ajak sahabat mengenal dulu budaya Jepang yang inspiratif berikut ini: menulis impian di tanzaku ^_^

Hal yang paling saya suka dari negeri sakura adalah semangatnya yang tinggi. Orang-orang Jepang tidak malu dan takut bermimpi. Bahkan, mimpi-mimpi mereka dengan semangatnya mereka tulis di secarik kertas berwarna-warni  yang terdiri dari 5 warna: merah, kuning, hijau, putih dan hitam. Orang  Jepang mengenalnya dengan nama kertas tanzaku!

Biasanya, di festival tanabata (七夕)atau festival bintang, yaitu perayaan yang berkaitan dengan musim di Jepang yang biasanya dilaksanakan pada bulan Juli, sahabat akan berjumpa dengan banyak kertas tanzaku yang dipasang di ranting-ranting bambu. Isinya itu macam-macam. Ada berbagai mimpi, harapan dan motivasi diri orang yang menulisnya. Wah kreatif! Bahkan, amazingnya… sikap berani bermimpi ini sudah dipupuk dari zaman edo. Zaman dimana festival tanabata mulai dikenalkan ke masyarakat. Hmm, Itulah hal yang saya kagumi dari negeri samurai, masyarakatnya tidak pernah malu untuk bermimpi. Dan selalu berjuang mewujudkan mimpi-mimpinya. Sugoi ne… ^_^

Nah, saya pun gak mau ketinggalan ikut-ikut menulis mimpi saya di kertas tanzaku. Meski tidak diikat diranting bambu, tapi di pohon sakura plastik, namun bagi saya tak masalah. Mudah-mudahan dengan muliskan mimpi, jadi motivasi bagi saya untuk mewujudkannya. Ganbatte kudasai! :D

***

Asyiknya ketemu si Ramen

For the first time, akhirnya saya bisa ketemu sama si ramen, lalu mencicipi pesonanya. Beberapa kali mengagendakan wisata kuliner masakan Jepang, akhirnya setahap demi setahap mulai terealisasikan juga. Pertama: makan RAMEN! Horee! Meski sebenarnya porsi di nihon no matsuri ini kurang banyak sih, hehehe.. (maklum pengelana, butuh porsi makan agak banyak. Hehe :P )… akhirnya bisa juga makan shoyu beef ramen. Ramen? Sahabat tau apa itu ramen???

  Ramen (拉麺;ラーメン) adalah mi kuah Jepang yang asal muasalnya dari negeri panda alias Cina. Orang Jepang juga suka menyebut ramen sebagai chuka soba (中華そば atau soba dari Cina) atau shina soba (支那そば) karena soba atau o-soba dalam bahasa Jepang sering juga berarti mi. :)

Ramen adalah makanan rakyat Jepang. Hampir semua orang Jepang suka sama si mi ini. Sampe Naruto pun doyan banget sama ramen. Betul khan? Hehe. Oia, amazingnya… bahkan, sampai dibuat museum Ramen di Yokohama Jepang lho!

Nah, di atas semangkuk  ramen, umumnya ditambahkan penyedap berupa beraneka ragam lauk seperti: chasiu, menma, telur rebus, sayuran hijau (seperti bayam), irisan daun bawang, nori, atau narutomaki sebagai hiasan. Telur rebus untuk ramen biasanya berwarna coklat karena direbus di dalam kuah bekas rebusan chasiu. Sayuran sekaligus penyedap yang paling umum untuk ramen adalah irisan daun bawang. Sebelum ditambahkan ke dalam ramen, sebagian penjual ramen lebih dulu menggoreng irisan daun bawang di dalam minyak goreng. Wuihh, muantep rasanya! Cuman, nanti kalau ke Jepang, ada yang harus kita waspadai sebagai seorang muslim. Sahabat harus jeli terhadap jenis kaldu pada ramen yang terbuat dari kaldu babi. Biasanya diambil dari tulang babi. Ini jelas haram! Tapi, kita bisa memilih kaldu yang terbuat dari  tulang sapi, tulang ayam atau kacang kedelai gongseng. Nanti sahabat bisa memilih makan ramen di kedai ramen yang dikelola muslim atau lebih baik kita tanya dulu pada pedagang ramen komposisi di dalam ramennya. Nah, di nihon no matsuri ini, untuk semangkuk ramen, saya mengeluarkan okane (uang) sebanyak Rp. 20.000,-. Lumayan mahal juga sih untuk kantong mahasiswa. Hehe… tapi, setidaknya bisa merasakan juga mi kesukaan si Naruto ini. Hihihi :D

***

Icip-icip Sushi yang perfecto

Siapa yang sudah pernah makan sushi? Kalau saya, ini kali pertama makan sushi. Hehe… Kali ini saya memilih “Godzilla” sushi yang roll filled. Di dalamnya ada ebi tempura (sejenis udang yang digoreng dengan tepung) yang dibalut spicy mayo dan teriyaki sauce.  Dengan kocek seharga Rp. 17.000,- saya bisa memboyong pulang 8 sushi yang enaknya luar biasa. Nah, di tulisan ini saya akan mengajak sahabat juga mengenal sushi. Apa itu sushi? Yuk kita simak… :D

Sushi (, , atau biasanya すし, 寿司) adalah makanan Jepang yang terdiri dari nasi yang dibentuk bersama lauk (neta) berupa makanan laut, daging, atau bahkan sayuran. Nasi sushi mempunyai rasa masam yang lembut karena dibumbui campuran cuka beras, garam, dan gula. Rasanya sangat lezat dan bisa mengenyangkan lho.  n_n

Dulu, di Jepang sana, pada tahun 1970-an, sushi masih identik dengan kalangan elit. Rakyat biasa memakan sushi hanya dalam acara-acara besar saja. Namun, kini siapapun bisa mencicipi sushi. Bahkan, inovasi makanan di Jepang telah membuat berbagai macam bumbu sushi instan yang memudahkan ibu rumah tangga membuat sushi di rumah. chirashizushi atau temakizushi dapat dibuat dengan bumbu instan ditambah nasi, makanan laut, tamagoyaki dan nori. Manteep deh ^_^P

Di sana, saya pun sedikit belajar tentang teknik-teknik membuat sushi. Wah, lihai sekali pembuatnya! Iseng-iseng saya jepretin deh aktifitas memasaknya. Hehe…

Suatu saat nanti, saya harus bisa membuat sushi. Sesuai dengan mimpi saya yang nomor 45. Ingin bisa sekali memasak masakan Jepang. ^_^

***

Kenalan dengan taiyaki yuk!

 Saya sempat senang bisa melihat langsung proses pembuatan taiyaki di nihon no matsuri IT Telkom. Hmm… pertama kali saya mengenal makanan khas Jepang ini saat dulu SMP. Kebetulan dapet penjelasan singkat tentang taiyaki di manga (komik) Parfait Tic! Dan semenjak itu, serius ingin banget nyicip pan cake dari negeri ninja itu. Cuman gak keburu ici-icip pas di nihon no matsuri kali ini. Terbatas waktu dan dana soalnya. Hehehe….

Oke tak mengapa (sambil gigit jari) u_u setidaknya saya sudah menggondol beberapa foto taiyaki. Nah, taiyaki (たい焼き、鯛焼き、たいやき、タイヤキ)  adalah kue Jepang berbentuk ikan. Bagian atas kue dipanggang terpisah dengan bagian bawah kue. Setelah kue hampir matang, keduanya disatukan dengan selai kacang merah. Kue ini juga sering diisi dengan cokelat, custard, keju, atau sosis. Sama halnya dengan adonan dorayaki atau pan cake, adonan taiyaki dibuat dari campuran tepung terigu,gula pasir, baking powder, telur ayam, dan air.

Awal mula nama taiyaki seperti ini:

Dalam bahasa Jepang, tai () adalah sebutan untuk semua ikan dari familia Sparidae. Loyang untuk memanggang kue berbentuk ikan, sehingga disebut taiyaki (dalam bahasa Jepang, yaki berarti panggang).  Begitu lho! Hehe…

Ada yang unik dari taiyaki juga lho! Kue taiyaki menjadi tema lagu “Oyoge! Taiyaki-kun” (“Ayo berenang! si Taiyaki”) yang dinyanyikan Masato Shimon. Hingga saat ini, singel tersebut merupakan singel terlaris dalam sejarah industri rekaman Jepang. Wah keren deh! Hehe…

***

Sebagai single traveller, selalu ada sensasi berbeda jika jalan-jalan seorang diri. Ada tantangan yang berbeda ketika saya saat itu satu-satunya akhwat yang jilbaber sendirian diantara para pengunjung yang asyik berpakaian coasplay. Ah, biarin! Pede aja! Hehe..

Acara nihon no matsuri di IT Telkom memang padat. Mulai dari pasar malam, firework festival (kembang api),  cosplay competition yang rame-rame berkostum unik mulai dari Sailormoon, Akatsuki dalam Naruto hingga Kamen Rider alias Ksatria Baja Hitam. Memang lucu-lucu! Sayangnya, saya gak sempat mengabadikan aksi mereka yang pura-puranya lagi battle. Oh ya, sempat juga ngelirik satu pojok ruangan yang katanya disebut-sebut sebagai rumah hantunya jepang. Ahh.. sayangnya lagi, baru buka rumah hantunya ketika malam. Lagipula gak niat masuk juga sih. Hehe….

Saya selalu berharap bisa menghadiri nihon no matsuri yang pure budaya tradisional masyarakat Jepang. Saya ingin belajar memakai kimono, melipat origami hingga upacara minum teh yang khas. Rata-rata, dua kali saya hadir di nihon no matsuri, selalu saja diisi oleh band-band yang alirannya ke metal. Heu, bukan kenap-kenapa… cuman bising ke telinga aja. Hehe… tapi saya seneng pas dulu di nihon no matsuri sebelumnya, menampilkan musik-musik tradisional Jepang. Terdengarnya adem, nyaman dan menenangkan. Selalu mengingatkan saya pada mimpi nomor 1. Studi S2 ke Jepang!

Dan arigatou-nya Kokia menutup tulisan saya kali ini. Alirannya lembut, seakan-akan menerbangkan saya ke tanah momiji. Tanah Jepang!

OK.. Arigatou minna-san… terimakasih sudah menyempatkan membaca jejak perjalanan saya. Nantikan di jejak perjalanan saya selanjutnya ya. only with me! Si Jilbab Traveller! Sayounara…. ^____^

 

Menjelang dzuhur di Rancaekek tersayang,

Selasa, 10 Januari 2012

***    

“Semangat Perbaikan Diri dan Berprestasi!” 

 

 

 

Mimpi-mimpi Tetsuko Eika di tahun 2012 #Part 1

Awal tahun, pastinya banyak orang yang meluapkan semangatnya dengan membuat berbagai resolusi kehidupan atau bahkan evaluasi mimpi-mimpinya yang belum tercapai pada tahun sebelumnya. Beriak-riak orang-orang menuliskan mimpi-mimpinya di tahun 2012 ini. Baik menuliskannya di internet via blog, notes FB atau sekadar status FB… hehe… Nah, saya benar-benar tidak ingin terlewat momen ini juga lho! Hehe. Maka, dalam tulisan ini akan di list daftar mimpi saya di tahun 2012. Apa sajakah itu???

1. Les toefl

Mulai  tahun ini, saya ingin konsen mempersiapkan toefl bahasa Inggris. Terakhir, benar-benar membuat terkekek saat melihat hasil Toefl di zaman kelas 3 SMA. Jadi, dendam positifnya mimpi saya yang nomor 80 ini harus ditunaikan di tahun 2012. Insya Allah, les toefl akan saya goal-kan pada bulan Januari. Dan mudah-mudahan ikhtiar ini bisa membawa saya keluar negeri untuk melanjutkan studi S2 saya. SEMANGAAAAATT! :D

2. Dapat score toefl minimal 500

WOW! Mimpi saya yang ke-8 ini kesannya amazing banget! Namun, saya sangat yakin saya bisa meraihnya. Jika azzam itu sudah terhujam kokoh dan ikhtiar pun maksimal, maka hasilnya pun Insya Allah akan selaras dengan usaha yang disemai. Minimal 500! Yosh! Ganbarimasu ne! ^_^

3. Bisa mengendarai mobil

Ini mimpi saya nomor 16. Terkesan aneh dan seakan kurang penting. Hehe… tapi, entah mengapa mimpi yang satu ini minta ditunaikan juga di tahun 2012. Selain itu, memang sebagai akhwat saya harus membekali diri dengan skill yang bervariasi. Mungkin, saya akan ikut kursus mengemudi atau nebeng-nebeng ikut belajar mengendarai mobil ke yang punya mobil tentunya. Atau iseng-iseng mungkin bisa ikut belajar sama tukang angkot. Hihihi… :P

Intinya, meskipun belum punya mobil, tapi jika azzam itu sudah terhujam, Insya Allah akan ada jalannnya. Pokoknya Man Jada Wa Jadda saja ya…. n_n

4. Punya SIM A!

Di tahun 2012 ini, saya harus siap-siap ikut ujian tes mengendarai mobil di kepolisian. Hehe. Mimpi nomor  17 ini mudah-mudahan bisa ditunaikan. Aamiin. Dan mudah-mudahan saya gak seperti Sponge Bob ya.. yang gagal terus ujian mengemudi. Ehehe… yang penting berjuang dulu deh ya.  ^_^

5. Hapal minimal 2 juz Al-Qur’an

Mimpi ini masuk list nomor  1 di edisi mimpi Tetsuko Eika 2012. Selain skill yang harus ditambah, tentunya hapalan Qur’an pun harus ditambah pula. Insya Allah, harus yakin selama setahun ini bisa hapal minimal 2 juz! Allohu Akbar! Semangat Qur’ani! Semangat Rabbani…. :)

6. Punya web sendiri

Sebagai aktifis media yang tiap waktu berkutat dengan deadline-deadline tulisan, memiliki web akhirnya menjadi mimpi saya nomor-88. Selain ingin serius memposting tulisan-tulisan yang bermutu dan inspiratif, ingin juga mulai belajar membina web pribadi. Mudah-mudahan bisa tertunaikan di 2012 ini. Aamiin ^_^

7. Bisa memiliki tripod

Bagi saya, penderitaan seorang fotografer adalah tidak pernah ikut terfoto. Hiks T_T

Setiap dapat panggilan motret, selalu saja tidak pernah ikut nebeng dalam foto. Jika ada, paling satu atau dua foto. Ooo… itu sangat menyayat hati (lebayDotCom). Hehe…

Nah, sebagai solusinya, di tahun 2012 ini saya ingin memboyong tripod dari toko. Bukan maling yaaa.. hihi. Sehingga kedepannya, saya akan dimudahkan juga untuk mengambil gambar. Dan jika ditakdirkan travelling sendirian, bisa tetap eksis tertangkap kamera sendiri. Hihi…

Satu.. dua…. Tiga… JEPRET! :D

8. Rampung minimal 1 novel

Asli! Ini mimpi suka menyesakkan dada. Eitss.. bukan kenapa-kenapa, tapi mimpi yang satu ini suka membuat saya tambah ngiler pas lihat teman-teman di FLP Jatinangor sudah menerbitkan buku berbuku-buku.  Aiih, saya tidak boleh kalah! Kesesakan dada ini harus menjadi dendam positif! Kata mbak Asma Nadia begitu, belum berhasilnya kita harus dijadikan dendam positif. Ingat ya DEN-DAM PO-SI-TIF….! Dan mnimal 1 novel! Yiiihaaaa!

9. Punya yukata

Sebenarnya, inginnya punya kimono. Tapi, melihat, menimbang, memperkirakan dan memutuskan. Hehe… bahwa harga kimono bisa sampai berjuta-juta, untuk sekarang musti gigit jari dulu. Nah, sebagai gantinya… saya ingin memiliki yukata. Mimpi nomor 30 ini selalu mengingatkan saya dengan negeri Jepang. Negeri impian saya! Mudah-mudahan dengan memiliki yukata, mimpi ke-Jepang di tahun 2014 bisa semakin dekat. Dan tentunya semakin semangat untuk merealisasikannya! Ganbatte kudasai! :D

10. Go to Pare, Kediri!

Pare – Kediri sangat terkenal dengan Kampung Bahasa Inggrisnya. Dan, saya pun tidak ingin sampai terlewat mencicipi nuansa kampung Inggris yang tersohor itu. Di liburan panjang semester 6 tahun ini, saya akan mengambil kelas conversation di sana. Mencoba dan tentunya belajar serta membiasakan berkomunikasi menggunakan English dengan baik dan benar. Let’s to speak English! Yee… let’s go to Pare! Dan mulai nabung dari sekarang ^^

11. Melanjutkan kursus Bahasa Jepang

Sempat kursus nihon go saya terhenti hingga level 2 dasar 1. Sungguh sayang sekali. Apalagi belajar bahasa harus selalu diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari. Nah, agar kemampuan bahasa Jepang saya tidak melorot atau terjun bebas, tidak ada jalan lagi harus melanjutkan kursus bahasa Jepang yang sempat terhenti. Dan, tetap harus menghitung cost yang digunakan untuk kursusan. Mari hitung budget! Hehe

12. Mulai serius belajar masak

Sebagai calon ibu rumah tangga. Ciee.,… tentu kemampuan masak-memasak harus menjadi primadona. Karena seorang ibu harus hapal betul asupan gizi keluarga, kesehatan makanan bahkan harus teliti memilih bahan makanan. Nah, di 2012 ini saya ingin serius belajar masak. Minimal masakan sehari-hari dulu. Sebulan sekali harus menguasai minimal 1 jenis masakan. Termasuk mulai belajar memasak masakan Jepang. Ya, minimal bisa bikin bento sama onigiri. Hehe. Sehingga nanti, ketika sudah menikah dan berkeluarga, sudah jago masak deh ya! Let’s cook! Let’s to be a chef!  :D

13. Memperoleh IP semester 6 minimal 3,60

Memang butuh perjuangan yang cukup ekstra untuk mewujudkan mimpi yang satu ini. Tapi, ayo tetap semangat! Insya Allah PASTI BISA! Yang jelas, junjung kejujuran untuk meraih prestasi akademik. Jangan nyontek! Karena nyontek itu, gak gaul bangets ^_^

—————-

Sebenarnya, masih ada beberapa mimpi yang belum saya tulis di tulisan ini. Nantikan di tulisan part 2 nya ya…. See u :D

BERSAMBUNG….

Si Rakut

Dirakut… Merakut

Ia dirakut

Mati langkahnya!

Yang jauh merakut

Gema tawanya!

Dirakut!

Merakut!

Membunuh perlahan

Terbius hingar dunia

Dirakut!

Merakut!

Dirakut!

Merakut!

Lalu mati terguling

Terlumpuri parfum hedonisme

Olehnya yang merakut

Si tukang rakut

[Tetsuko Eika – Rabu, 4 Januari 2012]

———– 

*Rakut, merakut = memasang jaring, memperdayakan, menipu

Disemai Dirus

“Ayo lipat lagi!”

Tiga gadis ABG itu mulai berdempetan. Dirangkulnya gesit pundak-pundak kawannya yang berguncang. Ada tawa renyah yang terselip pada ketiganya.

“Ayo, masih bisa dilipat lagi lho!”

Saya berjalan pelan. Melirik pada kertas koran yang sudah terlipat sangat kecil. Saya tatap kaki-kaki mereka yang sudah saling tumpuk, saling injak.

“Ayo jangan nyerah dulu! Masih bisa dilipat lagi lho.”

Salah seorang dari ketiga gadis remaja itu akhirnya tumbang sambil berderai-derai tawa. Tak lama kemudian, dua kawannya mengikuti. Ikut terjatuh. Akhirnya, dibenahinya koran yang sudah terlipat begitu mini itu.

“Teh, kami nyerah deh. Hehehe…” Fanny mulai angkat bicara. Napasnya memburu, mungkin karena sebelumnya terlalu asyik tertawa dan melipat-lipat koran. “OK deh… adakah yang megetahui hikmah dari games ini?” Saya akhirnya duduk membersamai mereka setelah sebelumnya berjalan berkeliling, memeriksa. “Hmm, apa ya? Kerjasama!” Fanny angkat bicara lagi. Semangatnya masih tetap sama, bergelora. “Bagus! Ada jawaban lainnya?” Tiga gadis ABG itu kembali memutar-mutar bola mata. Mungkin berpikir sambil melihat pada sekeliling ruang kelas kami. “Ada teh, ada!” Semua berebut menjawab. Terengah-engah dengan derai senyum yang menganga. Semua unjuk gigi berpendapat. Meramaikan suasana malam di tempat bimbingan belajar Dzikra. Ada tawa, ada canda, ada cerita. Semua bergumul, melompat-lompat dan bersatu dalam satu kebahagian tersendiri. Hanya di Dzikra!

***

            Sudah hampir dua tahun saya mengajar les dan privat. Keinginan mandiri itu mulai muncul dari bangku kuliah semester dua. Atas rekomendasi teman, akhirnya saya mencoba membuat surat lamaran kerja. Tak lama saya menunggu panggilan, setelah wawancara alhamdulillah saya lolos dan diterima menjadi salah satu staf pengajar di bimbingan belajar Dzikra Rancaekek.

            Selama dua tahun ini, tentu begitu banyak pengalaman yang saya dapatkan. Pastinya dalam hal ajar-mengajar. Pernah suatu ketika, saya mendapat adik privat kelas 6 SD. Namanya Taufik. Banyak hal lucu bersamanya. Banyak kisah menarik yang sangat sayang jika tak dihikmahi. Seperti pada malam itu…

***

“Pik, duduknya yang manis ya!”

Saya tatap wajah itu dalam-dalam. Lincah benar anak itu. Betapa tidak dikatakan lincah, bila setiap belajar ia akan berguling, merangkak, memukul-mukul meja atau bahkan mencoret-coret bukunya sendiri.

“Yuk kita bahas soal-soalnya!”

Ia terkekeh kecil. Masih sama. Dengan kelincahan yang membuatnya berkeringat. “Bentar ya teh, ini asyik!” Digenggam begitu erat hand phone di tangannya. Saya melirik penasaran. “Sedang apa memang Pik? Saya mendekatinya, menoleh dan terkejut. Oala… ternyata Taufik asyik main game! “Wah, rame ya. Boleh teteh nyoba juga?” Saya tersenyum nakal dan ia mendadak terkejut. “Eh? Memang teteh bisa? Nggak percaya ah! Bahas soal aja yuk!” Taufik segera memasukkan HP-nya. Kembali matanya tertuju pada lembar-lembar soal. Saya terkekek dalam hati. Akhirnya dengan sedikit strategi, ia bisa kembali bisa menekuri soal-soal dan mulai serius. Dan malam mulai menggelap. Hingga tepat pukul setengah sembilan malam, kami berkemas, merapikan kelas lalu pulang.

***

            Di Dzikra, selalu ada kisah yang mengalir, bertemaram lalu berpendar dengan girang. Saya mulai memahami banyak hal. Mulai dari teknik-teknik pengajaran yang baik, psikologi anak hingga cara-cara komunikasi efektif yang tetap fun, energik dan tentunya menarik. Kisah tentang anak yang pendiam, pemalu, penakut hingga terlalu pemberani pernah saya alami di Dzikra. Seperti pada kala itu, di bulan Agustus 2010….

***

            “Namanya siapa?”

Bibirnya masih saja terkatup. Matanya tertunduk. Entah malu, entah takut, entah bingung harus menjawab apa. Yang pasti, pagi itu dingin menyerusuk masuk ke kelas kami. Dan ia masih saja diam. “Ragiel teh…. Namanya Ragiel!” Beberapa anak akhirnya terpaksa menjawab pertanyaan saya. Mungkin sudah bosan menunggu jawaban Ragiel yang tak kunjung meluncur keluar. “Baik Ragiel, silakan duduk lagi ya!” Ada wajah datar dari air mukanya. Ia masih membisu. Tak ada kata. Tak ada sua. Ya, seperti itulah Ragiel. Anak kelas 4 SD yang bermata sipit, berkulit sawo matang dan bertubuh gempal. Anaknya lucu dan sangat pendiam.

            “Ragiel sudah selesai mengerjakan soalnya?” Ia menggeleng pelan. Saya tatap buku tulisnya. Kosong! Hanya soal yang ia tulis dengan huruf dan angka-angka yang besar. “Belum mengerti cara mengerjakan soal KPK dan FPB?” Ia mengangguk. Pelan! Dan lagi-lagi tanpa kata. Tanpa sua. Akhirnya saya membantu Ragiel memahamkan salah satu teori matematika itu padanya. Dan kelas mulai berdecit-decit. Kedelapan siswa saya lainnya kembali unjuk gigi. Ada yang bernyanyi-nyanyi SMASH, melempar-lempar kertas, menggambar-gambar di white board atau bahkan sekadar menopang dagu, lalu menguap lebar.  

***

            Selalu ada cerita di kelas regular kelas 4 SD. Setiap murid memiliki karaketeristik yang jelas berbeda-beda. Ada yang selalu semangat menjawab soal dengan gesit. Dialah Ditri, si juara kelas. Ada yang malu-malu kucing, tapi ia selalu ingin menjawab soal. Dialah Zahra, si pemalu tapi mau. Atau, ada yang paling terkenal di kelas saya yang satu ini. Dia Idham. Si Baso. Kawan-kawannya selalu asyik memanggilnya Idham Baso. “Lho, kenapa mau dipanggil Idham Baso?” iseng-iseng saya tanya anak berambut cepak, berkulit putih dan berbadan tambun itu. Dan dengan terkekeh gelinya yang khas, ia menjawab: “Hehehe… karena Idham suka baso teh!” Oo.. dan akhirnya saya bengong.

***

            Di bulan yang sama, di Agustus 2010, seorang pria muda berwajah lumayan eye catching pernah menjadi murid privat saya. Namanya Iqbal. Berperawakan tinggi, bertubuh lumayan kekar. Dan tentu, usianya jelas lebih muda dari saya. Ia masih duduk di bangku SMA. Kelas sepuluh SMA.

            “Bagaimana dengan past tense?” Saya meliriknya sambil memegang spidol hitam. Ia menggeleng. “Jelaskan grammar-nya dari awal ya teh!” Suaranya yang nge-bass menggema di kelas kami malam itu. Saya mengangguk. Dan mulai menjelaskan satu persatu tenses, mulai dari dasar seperti simple present tense hingga yang lumayan rumit, seperti past future perfect continous tense.

            Saya khusus mengajari bahasa Inggris pada Iqbal. Dalam satu bulan, kami hanya bertemu tiga kali. Dan ia selalu sama. Tetap sama. Dengan pembawaannya yang tenang, serius namun santai. Ya, beginilah nikmatnya mengajar siswa SMA. Selalu dengan ritme yang harmonik. Tak ada pesawat-pesawat kertas yang terbang dan menukik di jilbab saya. Tak ada juga anak yang eksis bernyanyi dan berjoged ria di depan kelas. Menyanyikan I heart you-nya SMASH. Bahkan, tak ada yang menangis karena diusili kawan belajarnya. Ahh, mungkin inilah nikmatnya mengajar SMA. Damai, tentram dan menenangkan. Tapi, lagi-lagi selalu ada cerita dari semua jenjang yang saya bersamai. Dan, saya tak pernah kecewa. Karena semuanya mengasyikan. Penuh cerita!

***

            Satu lagi kisah saya tentang rona-rona wangi di Dzikra. Tentang kelas privat di akhir 2011. Saya memanggil kelas ini dengan nama “dirus”. Kelas dirus berisi dua siswi yang masih duduk di kelas tujuh SMP bernama Cecilia dan Alvira. Keduanya selalu mendirus. Menyirami saya dengan banyak cerita. Pasti, sebelum mulai belajar, mereka berdua akan curhat pada saya. Apapun itu! Mulai dari masalah pribadi, keluarga, artis, hingga pacar-pacar mereka yang berjubel ingin diceritakan juga. Benar-benar mendirus!

            “ Teh, udah boseeeeeennn pacaran sama dia. Capek!!”

Cecilia menggeram. Wajah Chinese-nya mulai memerah. Ada aura kesal di putih mukanya. “Kok bisa?” Saya mulai memancing pembicaraan. Berusaha membuatnya lebih tenang dan nyaman bercerita. Di sampingnya, Alvira hanya manggut-manggut. Berusaha menerka-nerka kata yang akan keluar dari bibir Cecilia, kawannya.

            “Ah.. gak tau teh. Capek aja….!”

            Saya menopang dagu. Menatapnya dan larut dalam kisah yang ia ceritakan. Suatu hari, pernah juga ia mengisahkan tentang keluarganya. “Teh, Cecil suka kasihan sama Mama.” Wajahnya terlihat murung, ada gurat-gurat sedih. “Lho, memang ada apa dengan Mama?” Cecillia menghela napas. Lagi-lagi Alvira nampak tegang. Penasaran dengan kata-kata yang akan meluncur selanjutnya dari sohibnya. “Mama… mama sakit-sakitan terus teh. Obatnya sekeresek. Bayangin teh, se-ke-re-sek! Mahal-mahal juga lagi.” Saya termangu. Menapaki jejak dan kisah-kisah hidupnya.

            Kelas “dirus” selalu menawarkan banyak cerita. Kisah mumetnya mereka di kelas. Kisah asyiknya mengerjakan soal aljabar, persamaan dua variabee atau meliuk-liuk dalam soal azas Black Fisika. Mereka menyirami saya dengan cerita-cerita hangat mereka di ruang BK sekolahnya. Saat pemilihan mojang jajaka tingkat SMP, bahkan hingga bergirang-girang dalam kisah romantika cinta monyet. Mereka mendirus. Dirus!

***

            Dalam dekapan Dzikra, saya menggenggam ribuan kisah. Lalu mematrinya dalam hati. Bagaikan titik hujan yang menggenggam kesejukan, begitulah Dzikra menaungi saya. Semua bergemuruh. Berdzikir, lalu menuai inspirasi. Ya, selalu ada misteri kisah luar biasa di sini. Di kelas yang kami memulainya dengan do’a belajar, tilawah Qur’an, kata-kata motivasi dan kami akhiri dengan do’a kifaratul majelis. Satu kalimat yang selalu menginspirasi saya sebelum memulai belajar adalah jargon kebesaran kami. Saya berteriak semangat, mengguntur angkasa. “Apa kabarnya hari ini?” Dengan semangat yang membara, adik-adik tutor berteriak riang. “Alhamdulillah, luar biasa. Allohu Akbar!!”

 

            Ya, begitulah. Mendirus. Mendiris. Itulah Dzikra!

 

 

 

Rancaekek di awal 2012

Untuk bulir-bulir semangat yang mencengkram impian

 

-Tetsuko Eika- 

Para tutor Dzikra Prestatif

Mozaik

Tek… tok… tek… tok…

Jam itu bergumam. Seperti kelaparan. Mungkin kehausan. Ah, di rumah sakit seperti ini, setiap jam dinding akan berceloteh riang. Seperti para tentara yang pulang dari medan perang. Jam dinding itu bergidik. Menanti senyum-senyum bahagia. Menunggu pasien sepertiku cepat mati. Mungkin begitu.

Tek.. tok… tek.. tok…

Kulirik wajah putih penuh letih itu bersandar di kursi. Ronanya khas dengan aroma tubuh yang meneduhkan. Seakan-akan sudah menelan gemericik jam dinding dengan ketenangannya. Ia terlelap. Dengan bulu-bulu mata lurus yang rapi. Kerudungnya agak kusut. Blezer kantornya masai.

“Mama….”

Ia mendadak terbangun. Membuka perlahan kelopak matanya yang mulai berkantung. Mungkin karena tiga atau empat jam ia tertidur selama beberapa hari ini. Dan, ada sinar matanya yang menyorot halus. Bagai sinar-sinar pagi musim semi. Hangat, tak dingin dan tak berdebu.

“Ada yang bisa Mama bantu, Ka?”

“Mau makan? Minum?”

Aku menggeleng pedih. Dengan lemas kusandarkan kembali kepalaku di bantal putih. Mataku mengalih. Ada beberapa cicak mengggerakkan ekornya di langit-langit. Kuhitung pelan. Bercengkrama dengan hati yang bergemuruh. Lekas kupandang wanita itu, pemilik sinar mata musim semi itu.  

“Ma, mama menungguiku hingga lupa makan terus….”

“Ma, mama menungguiku hingga lupa istirahat terus….”

“Ma, mengapa mama selalu peduli padaku?”

Aku menggeram kecut. Mengerucut. Membuat hati teriris-iris. Antara sedih dan haru. Begitukah mama mencintaiku?

Dan mata itu masih terlelap. Berharap semua laparnya, letihnya dan ngantuknya terbang. Mengangkasa. Lalu menggantinya dengan sebuah kata sehat. Untuk gadis remajanya yang baru menginjak SMP.

I’m glad I’m your child

 I’m glad you’re my mother

 And that won’t ever change

 It won’t ever change for all time

 Because I am the very image of you…

***   

“Terimakasih mama…. Atas semua cintamu yang tak pernah bisa terbalas meski dengan kucuran air mata darahku…”

 

 

(Tetsuko Eika – Desember 2011)

Mama dan Eika

Carak

Surya mencarak

Dilepas anjungan pagi

Nenek-nenek menyemai ikan asin

Anak-anak melempar pancing

Ibu-ibu menyuapi bayi yang lapar

Bapak-bapak membuka toko souvenir

 

Surya mencarak

Di balik garis laut

Paman-paman menjaja sepeda

Bibi-bibi memanggul ikan

Remaja-remaja menggotong perahu

 

Dan, surya mencarak

Mengupas malam

Mengganti dingin

Menguliti rembulan

Di hempas pantai

Semua beriak-riak

Beraktivitas

Hidup

Dan berwarna

 

[Tetsuko Eika – 2011 – Sekeping kenangan pagi di Pangandaran]

 

Mencarak embun Mencarak mentari Mencarak kehidupan

Serabut Akhir

 pada akhirnya,

kita tak saling mengetahui

bergelombang  sendiri

beriak-riak nyawang yang tak sama

 

pada akhirnya,

kita kembali pada masa dahulu

saling mengerut dahi

bagai ulat-ulat mahoni

tak ada tanya

tak ada seru

 

pada akhirnya,

kita berlabuh pada tepi yang patah

patah tak bersama

karena ditelan do’a-do’a malam

 

pada akhirnya,

kau dan aku mengobat-obat dada

yang tersaruk-saruk ketus

digigit tajam kutu-kutu iblis

 

pada akhirnya

tak perlu rindu-rindu syahdan

yang melintas pada listrik-listrik hati

 

ya, karena pada akhirnya

inilah akhirnya

kutu-kutu itu telah kita bunuh

bersama-sama

 

 [Tetsuko Eika – Kamis, 27 Oktober 2011]

Sensasi “Gehu Namru” yang Nyam-nyam…

Kali ini saya ingin mengajak sahabat semua jalan-jalan ke daerah Bandung Timur. Hehe, awalnya sih tidak berniat jalan-jalan, tapi karena ada waktu sekitar sejam untuk lunch setelah wawancara depth reporting ke para pedagang dan pengelola Pasar Ujung Berung, walhasil wisata kuliner dulu deh jadinya. Hehe… :D

Selasa (13/12) ini, mampir dulu mengisi perut di Café Kin-Ben. Tempatnya cukup strategis. Tepat di belakang Masjid Raya Ujung Berung. Tinggal jalan sebentar, dan JREEENG…. Sahabat akan menemukan plang café ini.

Plang cafe

Café-nya memang tidak begitu luas. Tepatnya mirip kedai bakso atau mie ayam rumahan. Cuman cukup unik karena temboknya warna-warni dengan gradasi warna hijau dan salem yang diberi polet hitam. Meja makannya pun terlihat agak beda, karena dibungkus oleh semacam kain plastik imut (niat banget yaa). Jadi cukup chic deh buat anak muda. Seperti saya ini lho! Masih muda belia dan bersemangat… Hehe :D

Eheem… pada awalnya niat ingin pesen ayam penyet atau ayam bakar. Tapi, karena masih kenyang… akhirnya pilih “Gehu Namru”.

Gehu. Ya, makanan khas orang Sunda ini pasti lekat di telinga kita. Mungkin, pada awalnya ketika mendengar kata “gehu”, ingatnya dengan tahu berisi toge yang dibalut tepung lalu digoreng. Just it! Tapi, setelah “gehu” yang satu ini tersaji di atas meja. Oaaalaaa…. Semarak juga isinya. :D

Tampilan “gehu namru” lumayan modern juga. Dihidangkan di atas piring putih, pakai pisau dan garpu juga makannya (berasa lagi makan di café Italia. Hihi). Oia, gehu ini diperseru dengan tambahan mayoinaise, telur, irisan wortel, bawang bombay, sosis, chili sauce dan tentunya toge. Susah ngebayanginnya? Let’s check it on the picture OK! ^_^

Pesona "Gehu Namru" XD

Pesona "Gehu Namru" XD

Untuk masalah harga, “Gehu Namru” gak buat kita puyeng kok. Satu porsinya dibandrol harga Rp. 4.500,- aja. Cuman di café ini makan tidak langsung serta-merta plus dapat air minum, alias harus membeli lagi. Siang itu saya nemenin “gehu namru” dengan es teh aja yang harganya Rp. 1.500,-. Hehe maklum dompet mahasiswa, carinya yang murah-meriah, sehat, bergizi dan yang penting halal 100 % dong :D

Hmm… rasanya mau tau?? Sluuurpp… enak juga. Ada perpaduan rasa sosis, telur yang diselimuti oleh tepung yang crispy krenyes-krenyes. Yummy!

Cuman, menurut saya. Ada dua yang kurang. Pertama, tahu yang dibuat gehu rasanya agak asem (mungkin karena pake tahu kuning, bukan tahu sumedang yang memang biasa dibuat gehu). And then, kedua… sayurannya kurang! Hehe… maklum makanan berminyak dan rawan kolesterol, memang harus dibarengi dengan suplai serat yang cukup. Nah, sayangnya di porsi piring saya… dapet mentimunnya cuman seiris aja. Heu sedih :(

But, “Gehu Namru” enak juga. Dan bikin kenyang lho! Saya bahkan kuat nahan makan siang -yang asli pake nasi- sampe dinner. Hehe :p

"Gehu Namru" yang krenyes-krenyes :D

Oke Sahabat, sekian laporan dari saya ya….

Sampai ketemu dengan jejak perjalanan saya selanjutnya…

Happy travelling and happy eating OK! ^_^

(Tetsuko Eika –

Selasa, 13 Desember 2011 –

Sambil nangkep kupu-kupu di “Padang Adenium”)

Dari Padang Adenium…

 

Sahabat, adalah seikat kehangatan.

Ia menari-nari dalam dekap-dekap hari.

Lalu, mewarnai dengan cahaya pelangi.

Sahabat, adalah mentari.

Merasuk ke dalam lubuk-lubuk hati.

Mendekap semangat dan menaburkan kebahagiaan.

Memberikan semuanya nampak berbinar.

Seperti di padang Adenium.

Antara Vim dan Zabarjad.

 

***

“Kita main perahu kertas yuk!” Dua bola matamu mengedip riang. Aku mengangguk. “Di kolam ikan ya!” Sejumput senyum mentari muncul di balik hangatnya pribadimu. Aku mengangguk lagi. Lalu, kau angkat tinggi-tinggi perahu-perahu kertas itu di udara. Di 1996. Dan kau semakin riang tersenyum lepas. Senyum Adenium. Bersamaku. Senyum cinta!

***

            2010 di kereta Jatinegara – Bandung. Vim. Kupanggil ia Vim. Sebongkah semangat. Ia hadir saat semua orang memaksaku terjun ke dalam jurang kesunyian. Ia mengulurkan tangannya padaku ketika semua orang mencibirku. Vim. Adalah anugerah Tuhan, untukku. “Kau duduk saja, biarlah aku berdiri di sini.” Nadamu kekar, Vim. Aku terperanjat saat kau katakan itu. Kau biarkan aku terduduk di jok busa yang empuk, sementara kau berdiri. Bersandar pada besi-besi yang bergoyang-goyang. “Terimakasih…” Lirih kuucapkan pelan. Dan kau, Vim, sesekali kulirik kau membaca bukuku. Malam kian menggila, Vim. Tapi, kau tetap tersenyum pelan-pelan. Senyum Adenium!

***

            Ini kisah antara aku dan Vim. Vim. Vim. Dan Vim. Manusia berhati lembut namun pemilik mata tegas yang berkilau. Vim. Manusia berprinsip namun penuh canda. Hidupnya teratur. Ia tenang. Seperti oase Sahara. Dia Vim. Sahabatku. Sahabat terlamaku. Bahkan, akhirnya kuketahui, ia sudah bersahabat denganku saat aku masih berenang-renang dalam air ketuban Mama. Vim. Ia sahabat paling menyenangkan. Vim. Ia sahabat dari padang Adenium.

***

Aku masih ingat sebuah kenangan dulu. Mengapa kau rela berpanas-panasan Vim? Mengepalkan tangan ke udara. Lalu mengapa kau berteriak penuh semangat? Mengibaskan takbir dengan penuh gelora. Vim? Aku kepanasan di sini. Kau paksa aku berkerudung serapi ini. Memintaku hadir bersamamu di lapangan Tegalega. Lalu, ini tujuanmu? Kau paksa aku melihat lautan manusia bergolak di sini? Bertakbir-takbir riang? Begitukah Vim? Kutatap peluhmu yang mengucur. Sementara aku sengaja bersembunyi di balik payung. 2 SMP. Vim membuka jalan cahaya yang tak pernah kubayangkan sebelumnya. Vim. Manusia paling dekat yang kumiliki. Dari padang Adenium.

***

            Aku mengetahuinya! Vim lah yang menangis tersedu-sedu untukku. Bukan! Tetapi karena rasa syukurnya pada Tuhan, aku bisa lolos masuk SMA pilihannya. Vim, masih kuingat kau bersujud syukur. Lalu, kau begitu bersemangat mengatur keperluanku masuk SMA. Vim, apa yang kau rencanakan untukku? Kau begitu bahagia bisa mengantarkanku sekolah. Lalu, setelah itu, kuketahui lagi kau membantuku mendapat “hadiah” istimewa. Kau, menginginkanku menggenggam cahaya dari padang Adenium. Padangmu. Dan kini, padang kita!

***

            “Kau tak boleh membaca ayat-ayat Qur’an seperti itu!” Vim menatapku gemas. Dibacakannya ayat yang kubaca dengan salah. Suaranya jelas, hangat dan damai. Aku tercenung menatapnya. Lekat-lekat. “Vim sahabatku, kau tetap sama. Selalu membantuku mendapatkan cahaya.” Aku bergumam dalam hati. Berharap peristiwa itu terulang, terulang, terulang setiap harinya.

***

            Vim. Hari itu ia mentraktirku roti cane. Dan secangkir teh tarik. Vim. Masih sama. Ia sahabat yang baik hati. Masih memiliki niat menyenangkan hati orang sepertiku. “Enak?” Vim menatapku pelan. Dipandangnya suasana café. “Sering-sering mentraktirku ya.” Aku tersenyum. Vim tertawa kecil. Tawa dari padang Adenium. Padang kita!

***

            Dialah Vim. Yang mengajariku banyak tentang agamaku. Vim. Ia akan riang gembira ketika kutanya tentang zionisme, kondisi Palestina hingga perang pemikiran. Vim. Ia akan bersungut-sungut menceritakan kisah Nabi Muhammad lalu aktifitas keagamaannya. “Hmm… Vim, kau memang sahabat yang berbeda! Kau dekat, dan aku akan semakin mengenalmu.”

***

            2006. Aku akhirnya mengetahui, rupanya kaulah yang menjebloskanku ke lubang cahaya. Ramai-ramai teman-teman aktifis masjid menyalamiku. Membuatku aneh. Ramai-ramai mereka meminta dengan setengah memaksa untukku bergabung dalam aktifitas mereka. Dan, pada akhirnya, berkat kebaikan hatimu pula aku bertemu dengan kain lebar pertamaku. Kain yang dengan ikhlas menutup kepalaku. Menjuntai menutup auratku. “Vim, kau memang sahabat yang luar biasa! Kau dekat, ada di padang kita. Padang Adenium!”

***

            Kucium tanganmu, Vim. Takzim. Ini perpisahan kita. Kau berusaha menjaga agar air matamu tak menetes. Masih tegar. Sungguh kokoh. “Do’akanku agar selamat hingga tujuan,” ucap Vim sambil mencium tangan Mama. Nampak rona wajah Papa mendung. Seperti di langit-langit air mata. “Vim…” Kupanggil namanya pelan. Dan Vim menoleh. Menampakkan dua biji matanya yang menyayu. “Hati-hati di jalan. Bertahanlah di sana….” Dan, kau tersenyum manis, Vim. Untukku. 2011 kita berpisah. Langit Sabtu itu membiru dengan gagah. Segera kau naiki mobil hitam itu. Menuju bandara Soekarno-Hatta.

***

            Vim. Sahabat terbaikku. Ia hadir menjadi obat. Obat keras kepalaku. Vim. Ia kawan sekaligus pendengarku. Pendengar keluh-kesah manjaku. Vim. Ia laki-laki tangguh bagiku. Dan kini, jarak memisahkanku dengan Vim.

***

            “Islam memberikan ketenangan kan?” ucap Vim, padaku. Aku terperangah. Lalu mengangguk. “Islam membawaku lebih indah, Vim.” Ia tersenyum. Vim tersenyum padaku. Masih dengan senyum yang sama. Senyum dari padang Adenium.

***

            Vim. Lagi-lagi ia sahabatku. Ia lebih dari seorang sahabat lelaki bagiku. Ia penunjuk kunci. Kunci cahaya ini. Aku masih mengenang saat-saat indah bersama Vim. Di jalan Merdeka Bandung, di Utan Kayu Jakarta, di toko buku, di masjid hingga di rumah. Kami kerap bersama, berdua. “Vim, mengapa jalanmu cepat-cepat sih?” Vim menoleh padaku. “Takut disangka suami-istri kan gawat!” Aku cengengesan. “Vim… Vim…. Kau memang selalu sama. Seperti cahaya di padang Adenium kita.”

***

Pohon-pohon itu mungkin bisa rapuh

Tapi, bukan untuk pohon-pohon di padang Adenium kami.

Rebak.

Luluh dan tembus pada simfoni hari-hari kami.

Vim.

Gelombang yang tak akan pernah habis.

Sahabat,

Dan…

Kakak kandungku.

Dari padang Adenium.

Padang tegar…

 

(Tetsuko Eika – November 2011. Menanti Vim pulang dari Bali)

  • My Tweets…

  • Cinta…

    Sungguh
    Cinta mengubah
    yang pahit menjadi manis
    Debu beralih emas
    Keruh menjadi bening
    Sakit menjadi sembuh
    Penjara menjadi telaga
    Derita menjadi nikmat
    Dan kemarahan menjadi rahmat
    Cintalah yang melunakkan besi
    Menghancur-leburkan batu karang
    Membangkitkan yang mati
    Dan meniupkan kehidupan padanya
    Serta membuat budak menjadi pemimpin
    (Jalaluddin Rumi)

  • myspace icons

  • “Waktu adalah pedang”

  • Islamic Calendar

  • Peluit dua negara

    Aku mencari suara.
    Didalam sebuah cita-cita.
    Cahaya, ombak, gaung, batu…seakan mengharumkan jerih yang tak terkontaminasi.
    Mabuk…pusing…harus hilang dari buaian angan.
    Dan, sebuah peluit tengah berbisik lembut.
    “Bersemangatlah!!”
    Dua mata, bercahaya..
    Menyinari sukma ayu.
    Membekas dalam kicau pengharapan.
    Mimpi, bangun, kendaraan, tangga…seakan menggiring pada pelabuhan asa.
    Seorang sakura menitip kata.
    Teruntuk sunda yang butuh cahaya.
    Jalani, renungi, rencanakan…
    Empat tahun kurang…akan menjadi bukti sebuah pelarian.
    Pelarian sunyi bahagia seorang sufi.
    Aku, samurai dan resonansi…terbelenggu dalam satu makna.
    Motivasi.

  • Renungan Al-Qur’an

  • Comment"

    tetsukoeika on All About Tetsuko Eika
    tetsukoeika on Puisi, Ungkapan Hati Isra…
    tetsukoeika on Pak Sariban
    tetsukoeika on Puisi, Ungkapan Hati Isra…
    tetsukoeika on Puisi, Ungkapan Hati Isra…
  • …Hadist hari ini…

  • My “Secret Garden”

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.